https://bisnis.tempo.co/read/1202075/ngotot-tenggelamkan-kapal-ini-alasan-susi-pudjiastuti/full&view=ok
Ngotot Tenggelamkan Kapal, Ini Alasan Susi
Pudjiastuti
Reporter:
Bisnis.com
Editor:
Rahma Tri
Sabtu, 4 Mei 2019 20:32 WIB
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti (kiri) didampingi
Koordinator Staff Khusus Satgas 115 Mas Achmad Santosa (tengah) dan
Staff Khusus Laksdya TNI (Purn) Widodo memberikan konferensi pers di
Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Selasa 30 April 2019. ANTARA
FOTO/Sigid Kurniawan
<https://statik.tempo.co/data/2019/05/01/id_838481/838481_720.jpg>
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti (kiri) didampingi
Koordinator Staff Khusus Satgas 115 Mas Achmad Santosa (tengah) dan
Staff Khusus Laksdya TNI (Purn) Widodo memberikan konferensi pers di
Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Selasa 30 April 2019. ANTARA
FOTO/Sigid Kurniawan
*TEMPO.CO*, *Jakarta* - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti
<https://bisnis.tempo.co/read/1202053/anggap-negara-didzolimi-susi-minta-penenggelaman-kapal-segera>mengungkapkan
alasannya ngotot menenggelamkan kapal ikan asing ilegal meskipun menuai
banyak kritik. Salah satu alasannya, kata Susi, adalah stok ikan yang
turun dari puluhan juta tinggal 7,1 juta ton saja pada tahun 2014.
*Baca: *Susi Pudjiastuti akan Tenggelamkan 51 Kapal KIA dari Vietnam
<https://bisnis.tempo.co/read/1200540/susi-pudjiastuti-akan-tenggelamkan-51-kapal-kia-dari-vietnam>
"Itu akibat penangkapan oleh kapal asing," kata Menteri Susi saat
memberikan sambutan dalam kegiatan penenggelaman kapal di Stasiun PSDKP
di Sungai Rengas, Kubu Raya, Kalimantan Barat, sebagaimana disiarkan
live melalui akun twitter @kkpgoid, Sabtu 4 Mei 2019.
Selain itu, rumah tangga nelayan berkurang hampir separuh, 115 eksportir
menutup usaha karena kekurangan bahan baku. Sebaliknya, lebih dari
10.000 kapal asing hilir-mudik di perairan Indonesia menangkap ikan
dengan leluasa.
Bagi Susi, ini katastropi ini luar biasa, namun yang sayangnya dianggap
sebagian orang sebagai kejadian biasa. "Kadang kita terlalu mudah
melupakan hal yang sebetulnya belum lama terjadi," ujar dia.
Menurut Susi, penurunan performa perikanan Indonesia tidak lepas dari
langkah pemerintah saat itu yang memberikan izin pendaftaran kapal asing
menjadi kapal berbendera Indonesia sejak 2001. Izin itu kemudian
disalahgunakan dengan menduplikasi satu kapal menjadi beberapa kapal
dengan bentuk dan warna yang sama.
Padahal di sisi lain, Indonesia telah memberikan perlindungan kepada
kapal-kapal asing di perbatasan. Sebagai contoh, Vietnam setiap tahun
memohon izin kepada pemerintah Indonesia agar memberikan perlindungan
bagi sekitar 2.700 kapal Vietnam di Laut Natuna dari badai monsoon.
Setiap Desember, Hanoi mengajukan proposal perlindungan kepada Jakarta.
"Saya bicara kepada Presiden, tidak ada jalan lain, Pak, kecuali
/deterrent effect/ (efek jera)," kata Susi.
*Baca juga: Jadi Menteri KKP Tinggal 6 Bulan, Susi: Saya Titip Laut
<https://bisnis.tempo.co/read/1193159/jadi-menteri-kkp-tinggal-6-bulan-susi-saya-titip-laut>*
Menurut Susi, keputusan menenggelamkan kapal sebenarnya memudahkan
Indonesia untuk keluar dari persoalan lama. Susi membandingkannya dengan
alternatif penegakan hukum yang lain, seperti menyelidiki dan menangkap
oknum birokrat yang membantu kegiatan ilegal kapal asing yang
diperkirakan lebih rumit dan memakan waktu lebih lama.
Pemerintah menenggelamkan kapal asing
<https://bisnis.tempo.co/read/1201475/luhut-minta-penenggelaman-kapal-tidak-dipertentangkan>
ilegal yang terdiri atas dari 26 kapal berbendera Vietnam di Pontianak,
4 kapal di Belawan, 12 kapal di Natuna, dan 3 kapal di Merauke. Sabtu
hari ini pun Susi memimpin penenggelaman kapal ikan Vietnam di perairan
Tanjung Datuk, Kalbar.