https://suara-islam.com/inilah-prestasi-demokrasi/
*Inilah Prestasi Demokrasi*

 2 Mei 2019

 3 minutes read

Cetak

Google+

Twitter

Facebook


Sejumlah media internasional menyoroti pelaksanaan pemilihan umum (Pemilu)
yang dilakukan di Indonesia pada Rabu (17/4) lalu. Kantor berita asal
Qatar, Al Jazeera dan media asing lainnya seperti Bloomberg, Agence
France-Presse (AFP) asal Perancis, juga mewartakan hal serupa. Majalah The
Economist juga melaporkan bahwa Indonesia menghadapi pemilihan umum
terbesar dalam sejarah dunia dalam satu waktu.

Akan tetapi, tak seperti layaknya sebuah pesta yang membuat gembira. Pesta
demokrasi yang digadang-gadang terbesar dalam sejarah ini, ternyata
menyisakan duka mendalam. Meninggalnya ratusan petugas Kelompok
Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) tak pelak menjadi perhatian dunia.
Tidak hanya menyita perhatian publik nasional tapi juga media asing.

Situs berita Amerika Serikat (AS), CNN, turut menurunkan laporan terkait
meninggalnya ratusan anggota KPPS. Dengan judul ‘Indonesian election: More
than 300 election workers dead’ yang diartikan Pemilu Indonesia: Lebih dari
300 Pekerja Pemilu Tewas, CNN menyoroti faktor kelelahan yang menjadi
penyebab meninggalnya petugas KPPS.

Dalam laporannya hingga Senin, menurut CNN mengutip dari Komisi Pemilihan
Umum (KPU), 311 pejabat pemilu telah meninggal dan 2.232 orang lainnya
jatuh sakit setelah pemilu. Sebanyak 810.0329 tempat pemungutan suara akan
dibuka dan dijaga oleh 7,2 juta panitia pemilu. Disinyalir jumlah panitia
tersebut melebihi penduduk Singapura yang hanya 5,6 juta. (Sindonews,
30/4/2019).

Pemilu yang dilaksanakan serentak ini untuk memilih presiden dan wakil
presiden, anggota DPR RI, anggota DPRD provinsi, anggota DPRD kabupaten/
kota dan anggota DPD. Proses pemilu serentak ini merupakan yang pertama
kali dilakukan di Indonesia. Sebanyak 192,8 juta warga negara akan
menggunakan hak pilihnya.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) Ari Fahrial Syam
mengatakan, ada sejumlah hal yang diduga menjadi penyebab banyaknya KPPS
yang meninggal dunia dan jatuh sakit saat bertugas.

“Pertama yang saya amati adalah waktu kerja yang sudah melewati jam
biologis manusia. Mereka bekerja bahkan sampai 24 jam. Kemudian kita juga
melihat pemeriksaan kesehatan mereka. Artinya mereka sebagian ada yang
sehat ada yang tidak,” ujar Ari kepada wartawan di Kantor KPU, Menteng,
Jakarta Pusat, Senin (29/4).

Ketiga, faktor stres dan tekanan psikologis yang tinggi. Hal ini menjadi
pemicu KPPS meninggal. “Jadi jam kerja, kemudian kondisi sebelum dalam
kegiatan ini dan juga tingkat stres menjadi pemicu,” katanya.

Selain itu, kata ia, juga kondisi lingkungan kerja. Karena mereka berada di
tenda-tenda dengan penerangan yang terbatas serta udara terbuka. Jadi
kondisi lingkungan, kondisi fisik dan kondisi waktu kerja yang berlebihan
ini jadi satu hal yang akhirnya mereka jatuh sakit dan bahkan menyebabkan
kematian. (Republika.co.id, 29/4/2019)

Ari mengungkapkan, FKUI nantinya akan melakukan kajian ilmiah terhadap
penyebab meninggalnya KPPS ini. FKUI akan terjun ke lapangan untuk
melakukan penelitian, sehingga targetnya nanti adalah publikasi dalam
jurnal nasional dan internasional.

Kirim email ke