https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1682-merindukan-ulamapenyejuk-umat
/*Merindukan Ulama Penyejuk Umat*/
Penulis: *Media Indonesia* Pada: Senin, 06 Mei 2019, 05:05 WIB Editorial
MI <https://mediaindonesia.com/editorials>
<https://www.facebook.com/share.php?u=https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1682-merindukan-ulamapenyejuk-umat>
<https://twitter.com/home/?status=https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1682-merindukan-ulamapenyejuk-umat>
PERAN ulama sejatinya tidak hanya menjaga agama dan umat, tetapi juga
mempunyai tanggung jawab besar untuk menjaga keutuhan bangsa dan negara.
Tanggung jawab ulama dituntut jauh lebih besar lagi di saat Ramadan
datang setelah pemilu.
Setelah pemilu suasana politik masih saja memanas karena saling klaim
kemenangan tanpa sabar menunggu keputusan resmi dari Komisi Pemilihan
Umum (KPU) pada 22 Mei. Suasana kian memanas karena para elite politik
tidak mampu menjaga lisan yang terkesan berpotensi menyulut bara konflik
horizontal.
Pemikiran para ulama sangat dibutuhkan dalam kondisi bangsa saat ini.
Pemikiran itu hendaknya menjadi pelita yang menuntun langkah membangun
Indonesia sebagai bangsa yang jauh lebih bermartabat dan berbudaya.
Dalam perspektif itulah publik mengapresiasi Rapat Pleno Komisi Fatwa
MUI yang menyerukan untuk menghormati lembaga negara yang diberikan
tugas dan kewenangan oleh konstitusi, memercayakan kepada lembaga yang
memiliki kewenangan dan kompetensi untuk menjalankan tugas secara baik
terkait dengan proses pemilu hingga tuntas.
Seruan Komisi Fatwa MUI sangat relevan dan ampuh untuk menangkis
tudingan sepihak bahwa telah terjadi berbagai kecurangan dan kejahatan
yang bersifat terstruktur, sistematis, dan masif dalam proses
penyelenggaraan Pemilu 2019. Apalagi jika tudingan itu disertai tuntutan
untuk mendiskualifikasi pasangan tertentu.
Terus terang, beruntung Indonesia memiliki ulama-ulama yang konsisten
dan konsekuen terhadap kebangsaan. Mereka merupakan guru bangsa yang
tanpa lelah mendampingi masyarakat dengan keilmuan. Selalu memberikan
nasihat bijak untuk merawat persatuan dalam perbedaan.
Nasihat bijak itu dihasilkan dari multaqo (pertemuan) alim ulama,
habaib, dan cendekiawan muslim seluruh Indonesia di Jakarta, pekan lalu.
Para ulama menyerukan pentingnya keutuhan bangsa dan negara dalam
bingkai kesatuan. Hendaknya itu tidak boleh rusak karena perbedaan
pilihan politik dalam pesta demokrasi. Umat harus menjunjung sikap
demokratis dan keadaban agar keutuhan bangsa dan negara semakin kuat.
Perbedaan pilihan politik ialah keniscayaan sehingga bukan alasan untuk
saling memusuhi. Mestinya perbedaan pilihan politik hanya ada sebelum
masuk bilik suara. Begitu keluar dari bilik suara, semua kembali bersatu
dan bersaudara.
Ajakan kembali bersatu hendaknya terus dikumandangkan selama Ramadan.
Karena itulah, sangat tepat ajakan Ketua Umum Pimpinan Pusat
Muhammadiyah Haedar Nashir agar jangan menggunakan masjid tempat
kemudaratan dalam arti menyebarkan kebencian, permusuhan, hilangnya rasa
damai, dan menimbulkan masalah dalam kehidupan.
Peran ulama dan tokoh agama lainnya tercatat dengan tinta emas dalam
lintas sejarah bangsa ini. Mereka berperan penting, sangat penting dalam
merebut kemerdekaan, merumuskan format negara, mengisi kemerdekaan, dan
menjaga keutuhan bangsa hingga kini.
Bangsa ini sangat merindukan kehadiran ulama yang menyejukkan, yang
menyatukan, bukan membelah masyarakat berdasarkan pilihan politik dalam
pemilu. Ulama yang membawa gerakan politik profetik-etik, bukan politik
profan, menerobos moral dan etika.
Elok nian bila ulama menjadi anutan masyarakat yang dapat menjadi modal
dalam mengikat tenunan persaudaraan baik persaudaraan beragama maupun
persaudaraan berbangsa.
Apalagi selama Ramadan, ulama hendaknya bersama-sama masyarakat
memerangi ujaran kebencian, menjauhi fitnah, dan hoaks. Masyarakat
dituntun untuk tekun dan konsisten berada di jalan adab kesantunan.
Sudah saatnya ulama membimbing, mengasuh, dan mengayomi umat untuk
bersama-sama menyayangi Indonesia. Ketidakpuasan terhadap pemilu harus
disampaikan dengan cara yang damai, bijak, dan melalui jalur hukum
sesuai konstitusi.
Peran ulama sangat strategis setelah pemilu, apalagi di masa Ramadan,
untuk merajut kembali tenun kemajemukan yang terkoyak untuk kepentingan
politik. Masyarakat merindukan kehadiran ulama yang lisannya menyejukkan
dan perbuatannya patut diteladani.
<https://www.facebook.com/share.php?u=https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1682-merindukan-ulamapenyejuk-umat>
<https://twitter.com/home/?status=https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1682-merindukan-ulamapenyejuk-umat>