Kok dulu pernah ke istana :
*Muhammad Ainun Nadjib* atau biasa dikenal *Emha Ainun Nadjib* atau *Cak
Nun* (lahir di Jombang <https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Jombang>, Jawa
Timur <https://id.wikipedia.org/wiki/Jawa_Timur>, 27 Mei
<https://id.wikipedia.org/wiki/27_Mei> 1953
<https://id.wikipedia.org/wiki/1953>; umur 65 tahun) adalah seorang tokoh
<https://id.wikipedia.org/wiki/Tokoh> intelektual
<https://id.wikipedia.org/wiki/Intelektual> berkebangsaan Indonesia
<https://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia> yang mengusung napas Islami.
Menjelang
kejatuhan pemerintahan Soeharto <https://id.wikipedia.org/wiki/Soeharto>,
Cak Nun merupakan salah satu tokoh yang diundang ke Istana Merdeka
<https://id.wikipedia.org/wiki/Istana_Merdeka> untuk dimintakan nasihatnya
yang kemudian kalimatnya diadopsi oleh Soeharto berbunyi "Ora dadi presiden
ora patheken". Emha juga dikenal sebagai seniman, budayawan, penyair, dan
pemikir yang menularkan gagasannya melalui buku-buku yang ditulisnya.
https://id.wikipedia.org/wiki/Emha_Ainun_Nadjib


Pada tanggal Jum, 10 Mei 2019 pukul 05.58 Al Faqir Ilmi
[email protected] [GELORA45] <[email protected]> menulis:

>
>
> Cak Nun yang begitu terhormat...
>
> Kalaulah memang istana itu teramat hina nya untuk kau datangi, oh alangkah
> bahagianya rakyat jelata seperti saya ini, Cak...
>
> Betapa tidak, 32 tahun dibawah pemerintahan seorang diktator yang pernah
> saya anggap Tuhan Yang Maha Kuasa karena bisa melakukan apa saja, Gus Dur
> tiba-tiba membuat bangsa ini terhenyak! Karena sekonyong-konyong ketika
> Kyai buta itu menjabat penguasa negeri, ia melakukan sesuatu yang teramat
> tak pernah dibayangkan oleh generasi saya, generasi kelahiran 70an,
> generasi yang menghabiskan pendidikan dasar dan menengah di jaman dimana
> jangankan masuk istana, masuk pendopo kediaman Gubernur saja kami tak
> berani mimpi kearah sana!
>
> Gus Dur membuat "wong kere" seperti saya merasa seperti tak percaya pernah
> ke istana negara dengan cuma bermodal KTP dan secarik surat ingin ketemu
> presiden yang ternyata juga manusia itu! Tanpa Litsus, Screening,
> Sertifikat Lulus P4 apalagi rekomendasi Danrem, Pangdam hingga Panglima
> ABRI !!!
>
> Istana di jaman saya remaja, tak kurang suci dan sakral nya dibanding
> Sidratul Muntaha! Surga di langit ketujuh!
>
> Jangan kata bertemu Presiden saat itu, bertemu Bupati saja itu sulitnya
> bukan main! Orang kebanyakan alias rakyat jelata seperti saya harus melalui
> beragam proses "Fit & Proper" yang mengukur semua variable penentu layak
> tidaknya kami bertemu sang pejabat! Dan dari rangkaian proses pra-ketemu
> pejabat itu, yang paling angker adalah proses Screening untuk menentukan
> seseorang bebas dari unsur "keturunan PKI" !!! Saya yakin Cak Nun paham
> betul sehina dan senista apa jelata di jaman itu!
>
> Saya mengenal 3 orang Indonesia saja yang pernah mempertontonkan pada
> khalayak tentang substansi Demokrasi yang salah satu poin dasarnya adalah
> kesetaraan. Pertama Gus Dur dengan 'tingkah aneh' nya yang membuka istana
> bagi siapa saja yang ingin mengunjunginya!
>
> Jokowi adalah yang kedua, ia memulainya dari kebiasaan menyapu dan
> merapikan sendiri ruang kerjanya di Kantor Walikota Solo, tak henti sampai
> disitu, hingga kinipun sikap Jokowi tak lebih merendah dari seorang pelayan
> rakyat di negeri berisi banyak orang yang masih menganggap pejabat
> pemerintah itu adalah raja, bukan pelayan! Jokowi 'memperkenalkan' kembali
> apa yang dimaksud oleh Syech Siti Jenar sebagai "Manunggaling Kawulo Gusti"
> dengan blusukan-blusukan nya, ia malah mencabut sedikit demi sedikit
> pemahaman "Patron-Klien" (Gusti-Kawulo) itu dari benak dan otak kecil
> bangsa yang terlalu lama dijajah ini!
>
> Yang ketiga adalah Ahok, lelaki keturunan Tionghwa itu tak ragu mengakui
> dirinya sebagai anjing pelayan rakyat saat ia menduduki jabatan Bupati
> Belitung Timur maupun Gubernur DKI. Balai Kota Jakarta yang dulunya cuma
> bisa didatangi orang penting itu ia ubah dengan sangat radikal. Ahok
> meluangkan waktu prakerja nya di pagi hari untuk melayani para "bos"
> pemilik asli DKI Jakarta! Rakyat yang mengadukan pelayanan yang mereka
> anggap tak berpihak pada orang kecil.
>
> Jadi kalau alasan Cak Nun mengatakan hina bagi dirinya jika datang ke
> istana rakyat untuk bertemu presiden muka jelata berwajah dagang bakso Solo
> itu karena Jokowi telah sedemikian jauh "menurunkan derajat" istana negara
> yang dulunya hanya boleh didatangi para "Gusti" saja, dan orang-orang
> istimewa saja, maka pahamlah saya siapa Cak Nun.
>
> Apakah Cak Nun menganggap istana itu telah terlalu kotor dan kumuhnya
> akibat terlalu sering didatangi orang pinggiran seperti petani miskin,
> nelayan amis, pemulung gembel dan beragam jenis manusia yang dulunya
> tersundalkan oleh keangkuhan aristokrat penguasa lama negeri ini?
>
> Wallahualam bissawab, hanya Cak Nun dan Allah SWT yang bisa menjawab.
>
> Namun jika benar itu alasan Cak Nun merasa hina datang ke istana maka
> Alhamdulillah dan terimakasih saya pada pak Jokowi, karena si muka dagang
> bakso Solo itu telah sekali lagi menguatkan keyakinan mereka yang dulu
> pernah merasa jadi "anak sundel" di negeri ini bahwa istana yang dulu
> angker itu memang telah kembali menjadi hak jelata seperti kita!
>
> Mataram, 0905 2019
> Lalu Agus F Wirawan
>
>
> Dikirim dari Yahoo Mail untuk iPhone
> <https://overview.mail.yahoo.com/?.src=iOS>
>
> 
>

Kirim email ke