SLILIT DALAM PETA POLITIK KITA
Namanya slilit itu pasti mengganggu dan bikin gemes, sehabis makan daging yang 
enak. Apalagi kalau gak ada tusuk gigi.
Jujur saja, aku tidak mengira postingan yang aku share tentang Cak Nun mendapat 
banyak tanggapan. Apa iya orang sedemikian terganggu dan gemes dengan slilit 
yang satu ini, eh maksudnya penulis Slilit Sang Kiai ini?
Aku suka tulisan-tulisan Cak Nun sejak aku masih mahasiswa. Buatku lucu aja; 
waktu itu kan barengan ama tulisan atau buku-buku Mohamad Sobary, Umar Kayam 
dan Parakitri T. Simbolon. Duh, jadul bener ya aku. Generasi milenial kayaknya 
gak kenal nama-nama itu! 😂
Ya buatku lucu aja dan kadang-kadang ngikutin juga perjalanan Cak Nun. Aku 
bukan fans militan sehingga gak juga jadi pencemoohnya saat ini. Maka aku 
santai aja nge-share postingan itu. Aku sendiri gak komen apa-apa.
Mencoba merenung, aku kok masih tetap pada pendirianku sejak awal, kalau yang 
namanya intelektual, budayawan, rohaniwan itu sebaiknya tidak berpolitik 
praktis, karena begitu ia memilih satu kekuatan politik, ia akan menjadi 
partisan. Ia tak akan bisa lagi berdiri di atas kepentingan semua golongan. 
Beda halnya kalau dia juga sekaligus adalah pengurus parpol.
Tapi sejauh dia adalah dosen, budayawan, rohaniwan, akan baik jika tetap 
independen dan jernih. Sebab jika ia menjadi partisan, orang akan tidak lagi 
menjadikannya referensi yang adil atau seimbang. Padahal masyarakat butuh 
sosok-sosok yang independen dan jernih itu.
Tentu setiap orang punya sikap politik. Mengomunikasikannya, tentu bisa dipilih 
caranya. Tidak harus juga menunjukkan terang-terangan mendukung siapa. Itulah 
kenapa aku tidak ikut ikatan alumni-alumni, karena sebagai intelektual aku 
mencoba untuk independen dan adil dalam penilaianku.
Bukan berarti lantas tak disalahpahami. Oh tetep aja. Apalagi di zaman medsos, 
post-truth dan matinya kepakaran ini. Semua bisa dibikin dan diplintir.

Dikirim dari Yahoo Mail untuk iPhone

Kirim email ke