Astaman Hasibuan 10 Mei pukul 09.16 · hati laki-laki muda itu -- yang dirasakannya, usianya.
diujung jalan, membelok kekanan sedikit, mendaki bukit. dilereng sebelah selatan ada tanaman ubi subur. menuruni lereng ladang ini bersih ada jagung, pepaya, ubi jalar, jahe dan kacang panjang. dangau menghadap sawah padinya sudah di panen tak tahu itu ladang siapa. lapar pepaya disamping gubuk dipetik buahnya lebat, masak dipohon dimakan codot, mungkin juga burung makan pepaya, dia juga ingin menyalakan api membakar jagung belum sempat ada gadis berjalan diatas pematang, kearahnya didangau siapa dia? membawa arit dan keranjang mungkinkah ladang ini miliknya si gadis “maaf, dik. aku tadi memetik dan makan pepaya tanpa izin”. gadis itu memandangnya dia ragu. “abang, orang dari barak, ya?” mengangguk mengiyakan, lagi meminta maaf. penuh penyesalan tadinya berencana ke padas gempal. kerja upahan diladang pak kaum tak ada orang yang keladang balik membelok keladang ini. minta maaf lagi, mengejutkan dan sudah memetik pepaya tanpa izin. “tak apa bang, kalau abang lapar aku membawa nasi”. ingat emaknya, andai dia jumpa orang-orang seperti gadis ini masih berdiri gadis yang sempurna, cantik alami. menggamit hati “bang, kok, berdiri diluar”. dia jadi malu jangan-jangan dia berfikir, aku “orang-orang dari barak, sudah dikenal baik-baik”. bekal yang dibawanya dikeluarkan “siapa yang bilang?” kikuknya mulai hilang. “ya, semua orang-orang desa” “orang-orang dari barak juga suka membantu”. “makanlah, bang. kalau mau membantuku silahkan”. bukan maaf saja yang didapat juga senyum, ramah. sekiranya santun seperti ini didapat emaknya. laku orang-orang didesa asalnya emaknya, diganjar teror sepanjang hari, sepanjang tahun. sedari tadi dia belum menanyakan nama gadis itu. “surtini, bang” “seminggu sekali aku baru pulang kemari. sekolah di eskape binjai sekarang sudah selesai. . mengerti, mengapa dia tak pernah jumpa surtini pun cerita tentang dirinya. “aku dijodohkan sejak aku masih kanak-kanak”. lelaki itu pilihan orang tuanya masih kerabat dekat dia tak mencintainya. namun sudah menjadi adat. nikah diusia muda “apa abang sudah beristeri?”. laki-laki muda itu terperangah mengapa ada pertanyaan seperti ini dari dia mengeleng, menjawab “belum”. di jalan pulang dari ladang melalui jalan setapak dilereng bukit ada yang dirasakan laki-laki muda penghuni kurungan yang dimandahkan, kata mereka pengganti kata, kerja paksa “usia” nya, sudah kampung baru sidomukti, 2015. “cerita laki-laki belia dari desa yang hilang itu”
