https://news.detik.com/kolom/d-4545978/komedi-di-tengah-ketersinggungan-religius?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.32456695.815002172.1557682271-672952277.1557682271
Minggu 12 Mei 2019, 10:46 WIB
Kolom
Komedi di Tengah Ketersinggungan Religius
Irfan L. Sarhindi - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4545978/komedi-di-tengah-ketersinggungan-religius?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.32456695.815002172.1557682271-672952277.1557682271#>
Irfan L. Sarhindi
<https://news.detik.com/kolom/d-4545978/komedi-di-tengah-ketersinggungan-religius?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.32456695.815002172.1557682271-672952277.1557682271#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4545978/komedi-di-tengah-ketersinggungan-religius?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.32456695.815002172.1557682271-672952277.1557682271#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4545978/komedi-di-tengah-ketersinggungan-religius?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.32456695.815002172.1557682271-672952277.1557682271#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4545978/komedi-di-tengah-ketersinggungan-religius?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.32456695.815002172.1557682271-672952277.1557682271#>
20 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4545978/komedi-di-tengah-ketersinggungan-religius?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.32456695.815002172.1557682271-672952277.1557682271#>
Komedi di Tengah Ketersinggungan Religius Andre Taulany bertemu Ustaz
Adi Hidayat (Foto: Dok. Instagram/ustazadihidayat)
*Jakarta* - Pertanyaan yang dapat kita ajukan bersama kepada diri
kolektif kita sebagai umat Islam Indonesia kaitannya dengan kasus yang
dihadapi Andre Taulany adalah: apakah komedi Indonesia telah sekali lagi
meloncati pagar pembatas sehingga tidak sensitif, ataukah batasan yang
dikonstruksi religiusitas kita terlampau "rapuh" sehingga mudah sekali
bagi kita merasa tersinggung? Andre Taulany dipolisikan oleh PA 212
karena dianggap telah menghina Nabi Muhammad setelah sebelumnya dianggap
menghina ulama.
Menyikapi hal tersebut, Andre berinisiatif sowan ke Ustaz Adi Hidayat
untuk meminta maaf. Andre dihujat /netizen/ karena lawakannya soal
"Adimad" plesetan dari "Adidas" dianggap menghina dua ulama-Ustaz Adi
Hidayat dan Ustaz Abdul Somad. Ustaz Adi Hidayat sendiri bereaksi tak
kalah "keras". Ia menyebut tindakan Andre berlebihan dan akan menjadi
awal kehancuran karier /co-host/ /Ini Talkshow/ tersebut. Namun kemudian
Ustaz Adi Hidayat menerima kunjungan Andre dan mengajak masyarakat
memaafkan kekhilafan mantan vokalis Stinky tersebut.
Tetapi sepertinya itu belum cukup. Andre bahkan juga sowan ke MUI dan NU
untuk meminta maaf dan meminta dukungan moral di tengah kecaman dan
"hukuman sosial" yang diberikan oleh/netizen/ melalui tagar
"AndreTaulanyKufurNikmat". Kiai Said merespons bahwa Andre tidak mesti
meminta maaf kepada NU, cukup bertaubat, beristigfar. Namun begitu ia
tetap menerima iktikad baik dari sang komedian dan mengajak umat Islam
untuk sama-sama memaafkan, karena --ibarat kata pepatah-- lidah tak
bertulang. Respons yang sama lebih-kurang ditegaskan oleh MUI.
Ihwal sejauh mana Andre akan dimaafkan dan/atau perkara hukumnya akan
diselesaikan secara "damai", kita masih harus menunggu. PA 212 sejauh
ini mengklaim proses hukum jalan terus sedang hukuman sosial kepada
Andre juga seperti belum akan selesai. Hanya, Andre tidak sendiri.
Sepanjang 2018 kita menyaksikan bagaimana kasus serupa menimpa
Sukmawati, Joshua Suherman, Ge Pamungkas, Meiliana, serta Tretan Muslim,
dan Coki Pardede. Kasus serupa juga menimpa ustaz Evie Effendi saat
menyebut Nabi Muhammad pernah sesat. Dalam banyak situasi, kasus hukum
yang menimpa mereka berakhir "menggantung" dan masyarakat lambat-laun
melupakan.
Terlepas dari itu semua, kalau kita lihat, sebagian besar nama-nama di
atas adalah komedian, lebih spesifik, /stand-up comedian/ atau /comic/.
/Stand up comedy/ sendiri dikonstruksi sebagai medium "komedi cerdas"
atau /dark comedy/. Walaupun karena industrialisasi, tidak selalu materi
yang dimunculkan bersifat satir, kritis, dan dalam. Beberapa memilih
lelucon yang bisa ditertawakan banyak orang, yang cenderung lebih
/light/ sehingga lebih /marketable/. Atau, lebih aman.
Kenapa? Mungkin karena sebagian persoalan dan kenaifan kita berhubungan
dengan semangat beragama. Apalagi Indonesia sedang menyaksikan penguatan
/religious/ /wave/, yang diperkuat oleh industri komersial sebagai
bagian tidak terpisahkan dari meningkatnya jumlah kelas menengah Muslim
(terutama) di perkotaan. Sayangnya, sebagian dari kita masih menganggap
kritik atas perilaku beragama kita yang tidak sempurna sama dengan
kritik atas Islam itu sendiri. Alhasil, kita jadi mudah tersinggung.
Kita mungkin harus belajar lebih banyak pada bagaimana Nabi Muhammad
merespons tiga orang Arab Baduy yang mengencingi Masjid Nabawi.
Alih-alih merasa dinistakan dan tersinggung, Nabi Muhammad membiarkan
Arab Baduy itu menyelesaikan kencingnya, baru menjelaskan kepada mereka
bagaimana tindakan mereka sebetulnya tidak tepat. Apakah kemudian Arab
Baduy itu dimejahijaukan atau "dihukum sosial" oleh "/netizen/" Madinah?
Tidak. Bahkan Nabi menyuruh para sahabat untuk membersihkan bekas
kencing para "penista" Masjid Nabawi tersebut.
Dalam perspektif Nabi, tiga orang Arab Baduy ini belum mengetahui /role
of conduct/ Madinah, lebih khusus masyarakat Islam, jadi mereka
melakukan sesuatu yang tanpa mereka sadari dan maksudkan, menyinggung
perasaan dan semangat keberagamaan masyarakat Muslim Madinah. Dalam
kasus Andre, kita bisa ber-/husnu dzan/ bahwa dia tidak punya intensi
untuk merendahkan/menghina Nabi. Kita bisa membayangkan bagaimana
tuntutan sebagai pekerja industri hiburan yang harus tampil setiap hari,
harus melawak secara /live/ secara profesional, memang kadang membuat
potensi /keceletot/ lidah amat besar.
Itu sebabnya, saya kira, dalam diskusi ihwal/stand comedy/ di kanal
/Youtube/-nya Raditya Dika, para "/founder/" /stand up comedy/ menjadi
amat /concern/ ihwal pemisahan ruang privat dan ruang publik. Mereka
sadar bahwa tidak semua materi komedi dapat diterima oleh semua kalangan
sehingga beberapa /performance stand up comedy/ didesain untuk "tidak
direkam" apalagi "disebarkan" --ia bersifat "privat" bagi penonton yang
satu frekuensi. Dan kalau kita lihat, beberapa perdebatan ihwal
"penistaan agama" berawal dari /viral/-nya sesuatu yang mulanya bersifat
"privat". Ia bocor ke ruang publik dan dianggap oleh sebagian pihak
sebagai tidak etis, tendensius, dan/atau tidak pada tempatnya.
Jadi, situasinya mungkin tidak sehitam-putih komedi yang kelewatan
versus religiusitas yang gampang tersinggung. Sebagian malah
mengaitkannya dengan pasal karet penistaan agama yang "problematis" --di
satu sisi beriktikad melindungi hak beragama setiap orang, di sisi lain
berkecenderungan dijadikan landasan untuk kasus-kasus penistaan agama
yang bagi sebagian orang, katakanlah, "tidak pada tempatnya". Hanya,
intensitas perdebatan terkait persoalan-persoalan ini pada akhirnya,
bagi saya, membangun suatu kesadaran "diawasi", persis seperti prinsip
/panopticism/ yang dikemukakan Michael Foucault.
Filsuf Prancis tersebut menjelaskan bagaimana manusia tidak berperilaku
secara "bebas" alih-alih mengikuti harapan yang diembankan oleh
pihak-pihak yang mengawasi. Contohnya, ketika anak sekolah berada di
bawah pengawasan CCTV, mereka akan bertingkah sebagaimana ekspektasi
pihak sekolah. Dalam satu dan lain hal mungkin itu baik, tapi di sisi
lain, menurut Foucault, hal tersebut dapat membuat seseorang tidak dapat
menemukan dirinya yang otentik, kritik menjadi kering, kemampuan
menertawakan diri sendiri terkerangkeng.
Jika itu yang terjadi, maka "CCTV" terhadap religiusitas kita ini, yang
membuat sebagian dari kita sedikit-sedikit merasa tersinggung, apakah
akan mendorong tercapainya semangat dan pemahaman keislaman yang utuh
atau justru memperkuat intensi corak keislaman versi salah satu pihak
saja --yaitu pihak yang paling lantang berteriak dan paling reaktif
"menyerang-balik" di internet? Persis seperti napi yang mau patuh pada
sipir karena tidak mau "nyari" masalah dan bukan karena ingin menjadi
pribadi yang lebih baik?
*Irfan* *L. Sarhindi* /cendekiawan Muslim/
*(mmu/mmu)*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*