SURAT DARI SINGAPUR ==KENCAN DENGAN KARMA==
KARYA CHRISTIANTO WIBISONO Buku "KENCAN DENGAN KARMA" saya terima langsung dari Christianto Wibisono, penulisnya. Disini sekali lagi saya ucapkan banyak terima kasih atas pemberiannya. Pertama, judul buku ini sangat unik dan menarik. Menggabungkan kata "Kencan", yakni dating dalam bahasa Inggerisnya dan ungkapan "Karma" yang bernada agama dalam satu kalimat. Menggabungkan "Kencan" kata colloquial generasi anak muda urban masa sekarang dan "Karma" kata yang diambil dari "Reap What You Sow" Bible New Testament; Galatians 6:7 yang sudah ribuan tahun lamanya. Thus memberi kesan adanya pautan benang merah dalam kehidupan antara baru dan lama, dulu dan sekarang, sebab dan akibat dari arti makna judul. Inilah kunci tema yang melatar-belakangi buku "KENCAN DENGAN KARMA." Buku mungungkap serangkaian kejadian sejarah Indonesia. Mengarungi jaman pimpinan Presiden Sukarno hingga Presiden Soeharto. Berdasarkan tajamnya observasi tinggi, diiringi dengan pengetahuan luas dan mendalam, ia mengungkap berbagai kejadian dalam perjalanan sejarah Indonesia dan internasional. Baik yang pernah ia alami sendiri maupun berdasarkan catatan sejarah nyata. Ia menyediakan ruang tersendiri mengenai perubahan istilah Tionghoa menjadi Cina yang bernada pelecehan rasis. Selanjutnya menerangkan political setting dan geopolitical landscape yang melatar-belakangi perubahan istilah tersebut pada masa Orde Baru. Dan dampaknya terhadap perkembangan jiwa masyarakat awam pada umumnya. Buku mengupas satu persatu kejadian sejarah, dalam rangka membuktikan adanya kaitan hukum karma dalam perkembangan sejarah nasional, maupun perjalanan hidup individu. Sekali lagi membuktikan "God is not mocked; for whatever a man sows, this he will also reap" makna pengertian luas kata Karma jika dapat disingkat dalam satu kalimat. "KENCAN DENGAN KARMA" bukanlah sebuah biography juga bukan memoir. Buku dikarang mengikuti gaya Andre Malraux penulis Perancis terkenal dengan karyanya "Anti-Memoirs" menggabungkan pengalaman penulis dalam perjalanan hidup nyata dengan kejadian di sekitar pada masanya. Pola bertutur ini lah yang juga diaplikasi Wibisono dalam menulis karyanya "KENCAN DENGAN KARMA". Ia berhasil membawa pembaca menoleh kemasa lalu dan menilai kembali historical events melalui a series of flashbacks. Buku juga menggali beberapa kejadian besar pada masa turbulensi politik 1957 - 1958 setelah Proklamasi Kemerdekaan. Mengurai dengan menditil mengenai Pampasan Perang yang dikenakan pada Indonesia. Berdasarkan keputusan Konferensi Meja Bundar (KMB) yang sangat tidak adil, telah merugikan dan membebani Indonesia yang baru terbentuk dan vulnerable dengan hutang sebesar US $ 1.2 milyar. Dengan berjalannya keputusan tersebut Indonesia tercatat sebagai satu satunya negara bekas jajahan yang harus melunasi hutang beban warisan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Cukup memalukan. Semua ini terjadi demi ketidak becusnya pihak elite Indonesia dalam bernegosiasi dipanggung KMB. Gagal membela kepentingan negara. Hutang berat yang diemban sempat menghambat fondasi kemajuan ekonomi Indonesia mula dari awal pertumbuhannya. Dalam mengupas masalah Pampasan Perang, penulis mengambil kasus Jerman sebagai bandingan. Bersamaan dengan berakhirnya Perang Dunia I, sebagai sebuah negara kalah perang Jerman diharuskan membayar Pampasan Perang kepada mereka yang menang. Ketika Hitler mengambil alih pemerintahan Jerman melalui demokrasi PEMILU, ia langsung menolak dan menghentikan pembayaran hutang Pampasan Perang tersebut. Memberi alasan beban Pampasan Perang telah menghambat perkembangan ekonomi Jerman dan bertujuan menghancurkan rezim Nazi pemerintahnya. Setelah itu Jerman bahkan menyerbu Eropa, action yang menyuluh awal terjadinya Perang Dunia II. Dengan berakhirnya Perang Dunia II terjadi lah gejala anomaly yang tidak terduga semula. Bekas musuh dan seteru menjadi mitra, dan bekas sekutu malah berbalik menjadi musuh bebuyutan. AS dan Eropa Barat merangkul Jerman Barat sebagai sekutu dengan bantuan Marshall Plan dari AS untuk membendung offensive Uni Soviet. Dan sebaliknya ketika Tiongkok jatuh ketangan Partai Komunis Tiongkok (PKT), AS justeru membantu Jepang secara massive. Perubahan ini pada hakikatnya adalah untuk kepentingan AS demi membendung masuknya komunisme ke Asia Timur. Situasi ini akhirnya menyuluh terjadinya Perang Dingin. Kembali kepada hukum Karma yang menjadi tonggak diskusi buku ini. "KENCAN DENGAN KARMA" selesai ditulis pada tanggal 18 Maret 2019. 35 tahun yang lalu persis pada tanggal yang sama, Jenderal Soeharto pengemban Supersemar menahan 15 menteri kabinet terakhir Bung Karno. Soeharto baru jadi presiden penuh pada tahun 1968. Dan 30 tahun kemudian, pada tanggal 20 Mei 1998 Soeharto ditinggalkan oleh 15 menterinya. Ia menaiki kursi presiden dengan menahan 15 menteri, namun kemudian ditinggalkan juga oleh 15 menterinya sendiri. Apakah fenomena angka 15 ini suatu kebetulan atau suatu pelajaran adanya hukum karma yang membuktikan "You will reap what you sow"? Wibisono menyatakan bahwa "KENCAN DENGAN KARMA" adalah renungan subjective ditujukan terutama kepada anak cucu keluarga besar Christianto Wibisono dan masyarakat umumnya. Tapi kami sebagai pembaca sadar dan appreciate ini adalah tulisan yang sangat bermutu, terutama bagi the privileged millennium generation. Ilmu pengetahuan dapat dipelajari dimana saja. Tapi semua itu tidak berarti tanpa diiringi dengan sense of humility. Inilah legacy berharga dari Christianto Wibisono menyerahkan karyanya kepada pembaca. MAY SWAN Singapore 13 May 2019 2.25 AM
