Pertama masalah kartel import. Begini ini ane tahu dari dulu. Masalah utamanya adalah pegawai negeri kurang kompeten dimana2 diseluruh department/kementerian. Ditambah korupsi yg dimotori oleh cendana, jadilah pegawai negeri ini sbg birokrat semu yg kerjaannya hanyalah tandatangan saja. Yg ngerjain swasta. Ini kenyataan jaman dulu. Umumnya begini. Jadi kerja sama antara aparat dan swasta terjadilah yg disebut kolusi.
Semua sembako termasuk bawang itu kejadiannya begitu dulunya. Habis soeharto jatuh, mulailah orang2 kerja sana sini, cari masalah, cari solusi. Dulu jaman adi sasono pernah ingin (mimpi) utk menyingkarkan distribusi sandang pangan yg kebanyakan ditangan pengusaha cina, ekonomi berantakan krn adi sasono hanya bisa mengkritik saja. Solusinya gak bisa. Yg penting pokoknya pengusaha cina disingkirkan dulu. Hasilnya yg nyata adalah: adi sasono disebut the Indonesian most dangerous man! Bulog ditangan rizal ramli memang lebih bagus ttp ya kartel tetap aja ada. Emangnya dewa sekali kibas masalah langsung selesai?! Seenak udel saja cara berpikir begini. Disini ada proses bisnis yg sdh berjalan lama plus ditunjang korupsi, kolusi, politik, nepotisme dll wah tambah meriah saja permasalahannya. Disini rejim Jokowi yg ane salut betul2 kerja setengah mati. Dari mana dasarnya nyinyir ente bilang Jokowi hanya ngurus kartu dan infrastruktur? Seakan2 jokowi gak ngerti masalah ekonomi ini? Jokowi itu pebisnis ulung. Dia tahu betul seluk beluk bisnis krn memang dari dasar dia itu berangkatnya sbg pengusaha mebel. Jokowi inilah sosok pengusaha sejati bukan karbitan spt para konglomerat Indonesia kebanyakan! Kelemahan Jokowi dalam ekonomi makro itu memang betul. Tetapi ente salah TOTAL kalau bilang Jokowi tidak tahu ttg bisnisnya!!!! Jokowi sudah mendendangkan dari sarana dan prasarana, ngurus energi listrik s/d petral; beres2 BUMN; s/d mau jualan kesenian dan budaya yg disebut industry kreatif. Ente tahu ndak ini kesemuanya adalah strategi Jokowi. Ini mimpinya seorang Jokowi. Ini semuanya sudah benar. Tinggal pelaksanaaannya yg harus ditindaklanjuti. Masalah yg lebih besar seperti masalah separatisme yg menakutkan ditenangkan oleh Jokowi. Pergi sana ke tanah Papua dimana rakyat papua mengeluh2kan Jokowi. Dulu buset orang papua antinya sama orang Indonesia terutama orang jawa! Ente ini buta tuli orangnya. Maunya serba instant. Yg diungkit2 adalah masalah yg sudah dari dulu asalnya. Ente mau bebankan ke Jokowi yg kerja sdh setengah mati. Walaupun hasilnya belum terlalu kelihatan, tetapi kalau NKRI bersabar akan terasa hasilnya. Ini prediksi banyak orang seluruh dunia termasuk lembaga2 kredibel dunia spt KPMG dll yg menelorkan riset. BUKA MATAMU. JANGAN HIDUP DALAM TEMPURUNG SAJA. JANGAN HANYA BISA MENGKRITIK TANPA MEMBERIKAN SOLUSI. Nesare From: [email protected] <[email protected]> Sent: Wednesday, May 15, 2019 11:03 AM To: GELORA45 <[email protected]> Subject: [GELORA45] Bulog yakin ada kartel bawang putih Yang diimpor Bulog tetap dibuat mahal di pasar sehingga seorang "menteri" punya alasan membatalkan izin impor Bulog lalu diserahkan ke pengusaha swasta / importir. Ini baru urusan bawang. Bukan rahasia lagi kabinet gaduh karena menteri jalan sendiri-sendiri. Sedangkan presiden cuma kebagian ngomong soal kartu dan infrastruktur. - Bulog yakin ada kartel bawang putih Oleh: Abdul Basith Rabu, 15 Mei 2019 13:25 WIB KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso (Buwas) yakin terdapat kartel bawang putih yang mengatur harga. Hal itu diungkapkan oleh Buwas ketika rapat dengar pendapat dengan Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Buwas bilang kartel tersebut yang menyebabkan harga bawang belum turun meski sudah ada impor. "Yakin ada kartel terkait bawang putih, barang sudah ada ini dimanfaatkan untuk mencari lebih," ujar Buwas saat rapat dengar pendapat, Rabu (15/5). Buwas telah menyampaikan hal tersebut untuk ditindak oleh kepolisian. Penindakan dapat dilakukan dengan mengecek langsung gudang milik importir. Ia menuding kartel bawang putih kompak di seluruh Indonesia. Kenaikan harga secara langsung ditentukan oleh kelompok pengusaha dalam kartel tersebut. "Bawang putih itu kalau diputuskan naik Rp 10.000 per kilogram (kg) kompak di seluruh daerah naik," terang Buwas. Tidak hanya bawang putih, Buwas yakin kartel juga terjadi di bahan pangan lainnya. Hal itu diungkapkan Buwas melihat pangsa pasar Bulog yang hanya sekitar 6%. "Selebihnya (sektor pangan dikuasai) pasar bebas," jelas Buwas. Editor: Herlina Kartika
