https://nasional.tempo.co/read/1205935/bilang-megawati-makar-ke-gus-dur-rachmawati-dituding-balik-pdip
*Bilang Megawati Makar ke Gus Dur, Rachmawati Dituding Balik PDIP*

Reporter: *Dewi Nurita*

Editor: *Amirullah*

Kamis, 16 Mei 2019 07:50 WIB

[image: Rachmawati Soekarnoputri memberikan sambutan dalam Pembekalan
Relawan di Istora Senayan, Jakarta, 22 November 2018. Pasangan Calon nomor
urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menggelar pembekalan relawan dengan
tema Bergerak Menjemput Kemenangan yang berisi tentang langkah-langkah dan
strategi bagi relawan untuk menjaring suara masyarakat, dengan dihadiri
sekitar 3000-an orang relawan. TEMPO/M Taufan Rengganis]
<https://statik.tempo.co/data/2018/11/22/id_798932/798932_720.jpg>

*Rachmawati Soekarnoputri memberikan sambutan dalam Pembekalan Relawan di
Istora Senayan, Jakarta, 22 November 2018. Pasangan Calon nomor urut 02,
Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menggelar pembekalan relawan dengan tema
Bergerak Menjemput Kemenangan yang berisi tentang langkah-langkah dan
strategi bagi relawan untuk menjaring suara masyarakat, dengan dihadiri
sekitar 3000-an orang relawan. TEMPO/M Taufan Rengganis*

*TEMPO.CO <http://TEMPO.CO>*, *Jakarta* - Sekretaris Jenderal Partai
Demokrasi Indonesia Perjuangan Hasto Kristiyanto membalas pernyataan
Rachmawati Soekarnoputri yang menuding Ketua Umum PDIP Megawati
<https://www.tempo.co/tag/megawati>Soekarnoputri telah melakukan makar saat
menjadi wakil presiden pendamping presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur
(1999-2001).


*Baca:* *Soal Peluang Demokrat ke Kubu Jokowi, PDIP: Megawati Tidak Dendam*
<https://pemilu.tempo.co/read/1204794/soal-peluang-demokrat-ke-kubu-jokowi-pdip-megawati-tidak-dendam>


Rachmawati menuturkan makar yang dilakukan Megawati terjadi ketika Gus Dur
hendak menetapkan Chairuddin Ismail sebagai Kapolri. Menurut Rachmawati,
Megawati melakukan tindakan insubordinasi atas pilihan Gus Dur agar Suroyo
Bimantoro bisa menjadi Kapolri.

"Kami sangat menyayangkan pernyataan tersebut. Ibu Rachma sering membuat
pernyataan yang kurang simpatik," ujar Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto lewat
keterangan tertulis pada Rabu malam, 15 Mei 2019


Hasto mengatakan kepemimpinan transisi antara Gus Dur dan Megawati saat itu
dihadapkan pada persoalan yang kompleks, dimana krisis multidimensional
terjadi. Megawati, ujar Hasto, hanya menjalankan konstitusi dan tugas
pemerintahan sesuai dengan kebijakan MPR. Sebab saat itu kedudukan MPR
sebagai lembaga tertinggi negara.

"Semua pihak seharusnya melihat dengan jernih apa yang terjadi dengan
dualisme kepemimpinan Polri saat itu, antara Pak Bimantara dan Pak
Chaerudin. Ketika Ibu Megawati mengukuhkan kembali Pak Bimantara, beliau
telah dikukuhkan oleh MPR sebagai Presiden. Pak Amien Rais tahu semua itu,"
ujar Hasto.

Tujuannya, ujar Hasto, menghentikan keresahan di internal Polri. Soliditas
Polri saat itu dinilai sangat penting di dalam menciptakan rasa aman dan
ketentraman masyarakat, terlebih menghadapi situasi politik saat itu,
seperti konflik di Maluku.

"Atas tuduhan pembangkangan juga tidak terbukti. Sebab tidak pernah ada
perintah pelantikan Kapolri, karena itu di luar kewenangan beliau sebagai
wapres," ujar dia.

Hasto meminta Rachmawati tak terus melakukan otokritik, melainkan melihat
ke dalam daripada memperkeruh suasana. "Ucapan Ibu Rachma kurang pas.
Kasihan beliau tidak melihat persoalan bangsa dengan jernih. Selama ini
rakyat juga mencatat, bagaimana pandangan politik Ibu Rachma selalu tidak
tepat," ujar Hasto.

Pada masa masa kepemimpinan Gus Dur pada tahun 2001, terdapat dualisme
kepemimpinan dalam tubuh Polri. Cerita tersebut juga tertuang dalam buku
Melawan Skenario Makar: tragedi delapan perwira menengah Polri di balik
kejatuhan presiden Gus Dur (2001) yang ditulis oleh Edi Budiyarso.

Ketika itu, Gus Dur terlibat perseteruan dengan DPR. Dia tidak mengindahkan
Memorandum I dan II yang disodorkan oleh DPR, hingga akhirnya DPR yang saat
itu diketuai Akbar Tandjung meminta MPR yang diketuai oleh Amien Rais, agar
segera menggelar Sidang Istimewa.

Sebelum Sidang Istimewa digelar pada pada 19 Juli 2001, Gus Dur meminta
persetujuan DPR untuk mendukung rencana penetapan Komisaris Jenderal
Chaeruddin Ismail sebagai Kapolri, menggantikan Jenderal Surojo Bimantoro
yang sudah dinonaktifkan Gus Dur sebagai Kapolri. Namun, permintaan Gus Dur
tersebut tak disetujui DPR, tapi Chaeruddin tetap dilantik sebagai Pjs oleh
Gus Dur.


*Baca: **PDIP: Megawati Tak Masalah Jika Demokrat Masuk Koalisi Jokowi*
<https://nasional.tempo.co/read/1204752/pdip-megawati-tak-masalah-jika-demokrat-masuk-koalisi-jokowi>


Buntut dari pelantikan Pjs Kapolri ini, MPR lantas mempercepat Sidang
Istimewa pada 23 Juli 2001. Hasilnya, Gus Dur lengser dan digantikan oleh
Wakil Presidennya, Megawati Soekarnoputri. Usai menjadi Presiden, Megawati
pun langsung mencabut jabatan nonaktif Kapolri Jenderal Polisi Surojo
Bimantoro dan melantiknya kembali menjadi Kapolri.

Kirim email ke