https://kalteng.antaranews.com/berita/321219/190-orang-keracunan-saat-buka-
puasa-bersama-satu-meninggal-dunia
190 orang keracunan saat buka
puasa bersama, satu meninggal
dunia
Kamis, 16 Mei 2019 22:08 WIB
Tuminah yang juga menjadi korban keracunan masih terbaring lemah di
ruang perawatan UPTD Puskesmas Terawan, Kecamatan Seruyan Raya,
Kabupaten Seruyan. (Foto Antara Kalteng/Untung Setiawan)
Seruyan (ANTARA) - Sekitar 190 orang di Kecamatan Seruyan Raya Kabupaten
Seruyan Kalimantan Tengah diduga keracunan makanan atau minuman saat
acara buka puasa bersama, bahkan satu orang di antaranya yaitu seorang
anak, akhirnya meninggal dunia saat dirujuk ke rumah sakit.
Petugas Bagian Kesehatan Lingkungan atau Sanitarian UPTD Puskesmas
Terawan, Rudinah saat ditemui, membenarkan kejadian yang menewaskan
Bunga (11), seorang anak karyawan yang ikut dalam buka puasa bersama
tersebut.
"Dari 190 korban yang diduga keracunan, yang sempat mendapatkan
perawatan di Puskesmas Terawan ada sebanyak 53 orang, dan hingga Kamis
(16/5) tinggal tiga korban yang menjalani perawatan. Sedangkan korban
lainnya diperbolehkan pulang karena kondisinya mulai membaik," katanya
di Kecamatan Seruyan Raya, Kamis.
Keracunan massal tersebut terjadi setelah para korban menyantap makanan
pada acara buka puasa bersama sekaligus syukuran tasmiyah dan akikah
anak ketiga Tuminah, salah satu karyawan PT Sabindo, pada Senin (13/5)
sekitar pukul 17.30 WIB.
Sebagian besar korban keracunan tersebut merupakan karyawan PT Sabindo,
perusahaan kontraktor mitra perusahaan perkebunan kelapa sawit PT
Mustika Sembuluh Kabupaten Seruyan. Mereka ambruk beberapa saat setelah
makan dan minum di acara buka puasa bersama tersebut.
Saat kejadian, korban dibawa ke puskesmas untuk diberikan pertolongan,
namun Bunga tidak mampu bertahan. Dia sempat diberikan perawatan di
Puskesmas Terawan, namun meninggal dunia saat dalam perjalanan menuju
rumah sakit Sultan Imanuddin Pangkalan Bun Kabupaten Kotawaringin Barat.
Korban diduga mengalami keracunan dari bahan baku air yang dipergunakan
untuk mengolah makanan dan minuman. Namun untuk mengetahui secara pasti
penyebab kematian dan korban keracunan, contoh air yang diduga tercemar
limbah tersebut sudah dikirim ke Laboratorium Kesehatan Daerah
(Labkesda) Kabupaten Seruyan untuk diperiksa.
Tuminah yang merupakan tuan rumah acara yang berujung keracunan massal
itu mengaku tidak menyangka dengan peristiwa tersebut. Bahkan, Tuminah
juga ikut menjadi korban keracunan massal tersebut.
"Makanan yang kami sajikan adalah masakan daging kambing, ayam dan
minuman berupa es buah. Dan air yang dipergunakan untuk memasak
mengambil dari kolam di sekitar perusahaan sawit PT Mustika Sembuluh,"
terangnya.
Menurut Tuminah, air tersebut sudah lama dipergunakan warga setempat
untuk memenuhi kebutuhan karyawan di sekitar perusahaan. Hasilnya,
selama ini mereka baik-baik saja.
Korban lainnya adalah Firmus. Dia mengaku tidak menyangka jika dirinya
juga menjadi korban keracunan. Saat itu setelah mengonsumsi makanan dan
minuman, perutnya tidak langsung mual pusing atau muntah, namun keesokan
harinya sakit itu baru terasa.
"Kepala saya pusing, mual, kemudian diare pada hari Selasa (14/5), namun
tidak sampai dirawat di Puskesmas. Teman saya lainnya ada yang
muntah-muntah dan dibawa ke Puskesmas," demikian Firmus.
Pewarta : Untung Setiawan
Uploader : Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2019