----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: Marco 45665 [email protected] 
[nasional-list] <[email protected]>Kepada: Eric DMS 
<[email protected]>; Chalik Hamid 
<[email protected]>; Ronggo Gmail ronggo. 
<[email protected]>; [email protected] 
<[email protected]>; Sheila Kartika [email protected] 
[PERS-Indonesia] <[email protected]>; RKB 
<[email protected]>; Bh.jo [email protected] <[email protected]>; 
'[email protected]' [email protected] [temu_eropa] 
<[email protected]>Terkirim: Jumat, 17 Mei 2019 20.08.32 GMT+2Judul: 
[nasional-list] Re: [Media_Nusantara] SITUNG KPU DAN ROBOT IKHLAS
     

PEMILU & SANDIWARA POLITIK yang Memilukan ( dan atau Memalukan ....) 
Disini memang Jelas nampak , bahwa di Masyarakat bangsa ini kebanyakan atau 
sangat  banyak terdapat  Para AMATIRAN  Yang senang tampil  dan bergaya 
PROFESSIONAL , atau sekumpulan atau SEMENTARA PARA   ''JAGOAN2 PENCAK - SILAT 
dan PARA DUKUN SAKTI dengan Jampean2 Penghalau Setan-nya dan  atau bahkan 
Sementara para PENDERITA PARANOIA  Akut maupun Chronis '' yang kesemuanya 
senang Berorasi Politik dan Agama (yang  tak lebih sebenarnya  hanya '' Onani 
'' Politik dan Agama dimuka Publik dan Media demi KEPUASAN dan NAFSU JABATAN 
dan KEKUASAAN bagi dirinya sendiri....dan pada akhir2nya dan atau Ujung2nya 
...Tak lebih hanya banyak ''NGACO-NYA dan  MENGACAUNYA ''  dan pada akhirnya 
membuat Masa Pengikutnya dan Dirinya sendiri  TERJEBAK dalam ILUSI dan 
KEKURANGANNYA  serta KELEMAHANNYA SENDIRI...... bagaikan  seorang yang mencapai 
Status  Delerium ....setelah mengisap kebanyakan LSD (overdoses).....sehingga 
HIDUP dan Berpikir diluar REALITAS.......AKHIRNYA  ..APA yang diunduhnya ( baik 
oleh dirinya masing2 maupun oleh Kumpulan Masa Pendukung2 dan sejenisnya ) tak 
lebih adalah HASIL dariKELEMAHAN dan KEBOHONGANNYA  masing2nya...... untuk 
kemudian merasa terpukul dan terpojokan dan kecewa dalam Ketersinggunnya dan 
dalam Geramnya  akibat  Retorik  ''KECERDASANNYA dan KEJUJURANNYA '' 
SENDIRI......Untuk lebih menarik Para Penonton dan Pemberi Suara ( Sorakan dan 
Gemuruh Tepuk tangan   ), maka Sandiwara dan Onani Politik dan Keagamaan tsb 
masih harus dan perlu dibumbui dengan Aneka Ragam  Penampilan yang menurutnya 
bisa lebih menarik perhatian Publik Penonton untuk bisa Bersorak dan Bertepuk 
tangan sekeras dan sebanyak mungkin ...... terkadang perlu ditampilkan secara 
berselingan dengan penampilan yang mengingatkan kita pada  sebuah '' Image Fake 
'' yang diperanankannya sebagai  figur Bung Karno dan dicampur-adukan dengan 
figur Hiter, Musolini, dan bahkan Gaya dan Gesto Donald Trump yang ditampilkan 
cukup meyakinkan dan sangat Grotesque  ...... Untuk lebih menarik hati para 
Penonton dan Masyarakat di-sekeliling-nya maka   tak boleh ketinggalan untuk 
menyuguhkan sebuah Tarian Rakyat > Dang - Dut atau sedikit gerakan Joget 
Populer untuk memberi Kesan DIALAH Manusia Rakyat  yang ''KERAKYATAN '' ....( 
tentunya dengan Jutaan Hektar Lahan Kehutanan yang bukan MIliknya dan Ribuan 
Hektar Areal  Bonansa dan atau '' Lahan Perternakan dan gembala KUDA '' 
...Terminus Technicus disebut '' RANCH VALLEY''  ( Mulut iseng bilang > '' 
LITTLE TEXAS'' )......... Dan yang paling Tragis ialah Sandiwara Politik dan 
Kekuasan semacam itu (di arena  PEMILU 2019)  dianggapnya sebagai ''HAK MUTLAK  
 DEMOKRASI '' ( yang notabene  Tidak ada hubungannya dengan System Demokrasi 
dan Kehidupan Demokrasi itu sendiri ) dan diartikannya sebagai untuk  
melahirkan '' HAK untuk UNJUK RASA  atau HAK untuk Melampiaskan Emosi, 
Kekuasaan dan kekerasan dan bahkan Kepicikan-nya sendiri '' ......>HAK 
DEMOKRASI dan UNJUK RASA (DEMO) kerap kali diartikan dan dipakai sebagai 
Instrument  '' SHOW OF FORCES ''  (...of  Naivety and Stupidity ..)> HAK 
DEMOKRASI dan UNJUK RASA (DEMO) sering dihubungkan dengan Context  dan bahkan 
dalam  Pengertian  sebagai  HAK untuk berkuasa dengan cara apapun - termasuk '' 
HAK COUP KONSTITUSIONAL ''.....atau jika perlu ...memakai alternativ lain HAK 
COUP JIHAD KEAGAMAAN  .... sedangkan COUP MILITER ...... Well...well...... 
Kemungkinan besar tak bisa di-realisir atau secara Real dipraktekan 
...mengingat bahwa '' ALL Mighty Shogun's  ( The PROTAGONISTS) sudah masuk 
dalam karantina'' Rumah Jompo'' ...sehingga sudah Tak punya Kekuatan untuk 
menggerakkan kesatuan Samurainya .... kecuali  mungkin masih tetao 
menggantungkan pada Kekuatan yang dinamakannya sebagai  ''THE PEOPLE POWER'' 
yang oleh Penciptanya (yang sering nyebut : ''Amiinn...'' segera  dirubah 
namanya sebelum Supper Power tsb sempat berfungsi ......... 
Sekian dulu FEJETON sekitar PEMILU 2019 dari sudut pandang yang lain.....dari 
Kehidupan Politik di-bumi Ibu pertiwi ini.....(Monsieur Alfred,) 
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
On Thu, 16 May 2019 at 15:01, Al Faqir Ilmi [email protected] 
[Media_Nusantara] <[email protected]> wrote:

     

SITUNG KPU DAN ROBOT IKHLAS 
Oleh : Marsudi Wahyu Kisworo
Guru Besar Ilmu Komputer, Alumni Fakultas Teknik Elektro, Jurusan Ilmu Komputer 
ITB tahun 1978.
Sesuai dengan sistem perundang-undangan Pemilu di Indonesia, satu-satunya hasil 
penghitungan suara yang sah secara hukum adalah hasil penghitungan suara 
berjenjang yang dilakukan secara manual, mulai dari tingkat TPS sampai pleno 
KPU Pusat, sedangkan Situng hanya untuk mengonfirmasi hasil perhitungan suara 
manual berjenjang tersebut, dan sebagai alat kontrol publik agar hasil 
penghitungan suara manual berjenjang menjadi transparan dan dapat di akses oleh 
siapapun.
Mekanisme ini masih sama dengan yang ada pada Grand Design Sistem IT Pemilu 
tahun 2004, dimana saya pernah menjadi anggota tim yang mendisain Sistem IT KPU 
tersebut.
Artinya, apabila dalam menginput data form C1 yang telah dipindai pada Situng 
terdapat salah entri, salah algoritma, perangkatnya rusak, diretas, 
diacak-acak, disedot datanya, dimanipulasi atau apapun namanya, hasil Situng 
ini tidak akan memiliki pengaruh apa-apa terhadap hasil akhir penghitungan 
suara. Tidak ada gunanya jika ingin memanipulasi hasil Pemilu melalui Situng, 
kalau memang mau memanipulasi ya lakukan di penghitungan suara manual 
berjenjang, bukan di Situng.
Dalam grand design IT KPU, Situng juga dirancang sebagai salah satu mekanisme 
transparansi penghitungan suara dan sebagai alat kontrol dari masyarakat jika 
terjadi manipulasi suara dan kecurangan. Dengan demikian Situng bukanlah hal 
yang sepele, tetapi alat penting untuk mengonfirmasi perhitungan suara manual 
berjenjang, untuk itu Situng jangan disalahgunakan agar seolah-olah dapat 
menentukan hasil akhir penghitungan suara.  
Dengan ditampillkannya hasil scan form C1 di Situng, maka masyarakat dapat 
berpartisipasi untuk memonitor hasil penghitungan suara di tingkat TPS. Jika 
terjadi manipulasi di tingkat ini, maka formulir C1 yang sudah dipindai dan 
diunggah di Situng bisa digunakan sebagai referensi. 
Jadi kalau ditemukan penyimpangan seperti ini, maka segera dilakukan koreksi 
terhadap perhitungan di tingkat TPS tersebut. Nah ketika kemudian perhitungan 
suara naik ke jenjang berikutnya yaitu di Kecamatan, maka hal yang sama 
dilakukan koreksi di jenjang tersebut. 
Jadi mestinya kalau perhitungan suara sudah sampai ke sebuah jenjang, maka 
perhitungan suara di jenjang bawahnya sudah valid dan sah karena disaksikan 
oleh para saksi peserta Pemilu dan juga oleh masyarakat.
Sekarang soal aplikasi Situng itu sendiri. Dalam grand design, Situng yang 
tampil adalah hasil virtualisasi dari salah satu server di KPU. Karena 
merupakan virtualisasi maka Situng dibuat terbuka, siapapun bisa dan diberikan 
kemudahan untuk mengakses. 
Namun hal ini punya dampak sampingan yang buruk, yaitu Situng dengan mudah 
dapat diretas, bahkan oleh anak-anak SMA. Hal ini tidak terlalu menjadi 
masalah, karena sebagai virtualisasi dari server, pihak KPU dapat dengan mudah 
mengembalikan ke status sebelum diretas, karena server yang sesungguhnya tidak 
tersambung ke Internet. 
Karena Situng KPU merupakan sistem terbuka, maka siapa saja dapat mengambil 
data yang ada di Situng. 
Beberapa hari yang lalu ada seorang profesor yang mengaku pakar IT, dimana 
latarbelakangnya saya tahu persis, membuat program saja tidak bisa, dengan 
bangga mengirimkan file Excel hasil download database Situng kepada saya, saya 
jawab “kalau hanya download data seperti itu, mahasiswa informatika semester 
awal pun bisa melakukannya”. Karena salah satu pelajaran dalam data analytics 
adalah bagaimana mengunduh data server kedalam file Excel.
Lalu bagaimana dengan “pakar” IT lulusan Teknik Elektro ITB bernama Hairul Anas 
Suaidi yang baru baru ini presentasi di Hotel Sahid, dengan Robot Ikhlas hasil 
karyanya yang katanya dapat memantau Situng KPU?
Terus terang saja, hasil karya Hairul Anas Suaidi itu biasa saja dan cenderung 
menyesatkan publik.  
Seperti saya jelaskan sebelumnya bahwa Situng KPU adalah sistem terbuka. Jadi 
mau diunduh per-hari, per-jam, per-menit, per-detik, atau real time, ya mudah 
saja karena oleh KPU memang dibuat sedemikian transparan seperti itu. Bahkan 
mahasiswa yang semesternya agak tinggi sedikit bisa membuat salinan (mirroring) 
dari database Situng dengan mudah. 
Robot yang katanya dapat memantau Situng KPU bukanlah sebuah karya yang 
fenomenal bagi masyarakat IT. Tidak perlu menjadi seorang pakar untuk membuat 
aplikasi seperti itu. 
Mungkin ada yang menyanggah bahwa Robot Ikhlas bukan hanya melakukan mirroring 
saja, tetapi dapat menemukan ribuan kecurangan dari Situng. 
Sekali lagi, mau ribuan, jutaan, milyaran, triliunan kesalahan atau apapun 
namanya di Situng, atau seandainya Situng dihancurkan sekalipun, tidak ada 
pengaruhnya terhadap penghitungan suara manual berjenjang.
Kalau begitu apakah sebaiknya Situng dihentikan saja? Menghentikan Situng 
berarti menutup akses partisipasi dan kontrol publik terhadap penghitungan 
suara manual berjenjang. 
Karena itu menurut saya biarkan saja Situng berjalan seperti sekarang, tidak 
usah diributkan apalagi oleh pakar IT abal-abal, karena jika pakar yang 
benar-benar pakar, dengan penelitian dan karya-karya yang mendunia, pasti tahu 
bahwa Situng KPU tidak digunakan sebagai alat penghitungan suara yang sah, 
tetapi hanya alat kontrol saja, yang sah adalah sistem penghitungan suara 
manual berjenjang. 
Jadi kalau mau memantau apakah dalam penghitungan suara terdapat kecurangan 
atau tidak, awasilah penghitungan suara manual berjenjang, bukan mengawasi 
Situng.

Dikirim dari Yahoo Mail untuk iPhone


   

 
|  | Bez virů. www.avast.com  |

    

Kirim email ke