https://news.detik.com/kolom/d-4554685/anarki-dan-imajinasi
Sabtu 18 Mei 2019, 13:10 WIB
Kolom
Anarki dan Imajinasi
Anicetus Windarto - detikNews
<https://connect.detik.com/dashboard/public/winddarto>
Anicetus Windarto <https://connect.detik.com/dashboard/public/winddarto>
Share *0* <https://news.detik.com/kolom/d-4554685/anarki-dan-imajinasi#>
Tweet <https://news.detik.com/kolom/d-4554685/anarki-dan-imajinasi#>
Share *0* <https://news.detik.com/kolom/d-4554685/anarki-dan-imajinasi#>
0 komentar <https://news.detik.com/kolom/d-4554685/anarki-dan-imajinasi#>
Anarki dan Imajinasi Simbol anarko sindikalis di Malang (Foto: Muhammad
Aminudin)
*Jakarta* -
Aksi yang dilakukan oleh kelompok "Anarko Sindikalisme" di beberapa kota
seperti Bandung, Jakarta, Malang dan Surabaya, pada peringatan May Day
(Hari Buruh) 2019 beberapa waktu lalu cukup mengejutkan. Meskipun, pada
2018 di Yogyakarta, tepatnya di jalan utama sekitar Kampus UIN Kalijaga,
aksi serupa juga terjadi dengan gaya yang serupa. Berpakaian
hitam-hitam, kebanyakan berumur di bawah 20 tahun, dan beraksi secara
individual meski ada dalam sebuah kelompok.
Bagi Benedict Anderson (/Di Bawah Tiga Bendera. Anarkisme dan Imajinasi
Antikolonial/, Marjin Kiri, 2015), aksi seperti itu sesungguhnya
memiliki sejarah yang cukup panjang dan biasanya berujung pada
kekerasan, bahkan kematian. Hal itu disebabkan karena aksi yang bergerak
kalap terus-menerus seperti hubungan antarbintang di langit telanjur
dipandang meresahkan, mengganggu, bahkan mengancam ketenangan dan
kenyamanan dalam hidup sehari-hari.
Maka tak heran jika pada konvensi Partai Republik pada 2004 di New York,
kepolisian metropolis menyatakan bahwa ancamannya bukan berasal dari
orang-orang komunis, bukan pula dari fanatikus Muslim, melainkan dari
kaum anarkis.
Pernyataan yang sebenarnya agak tendensius itu tampak mau mewariskan
suatu "ketakutan" yang sebelumnya telah distigmakan, baik pada
orang-orang komunis maupun fanatikus Muslim. Dengan stigma itu,
masyarakat pun dengan mudah dibuat tunduk dan patuh tanpa mampu
melakukan perlawanan apapun. Maka tak heran jika tuduhan-tuduhan seperti
komunis, teroris, dan/atau radikalis begitu dihindari dan dijauhi agar
tidak terkena "tulah/kutukan" daripadanya.
Penting untuk diketahui bahwa anarki adalah gerakan yang khas bentuknya
dan beraneka ragamnya pada akhir abad ke-19 dengan prinsip
"berorganisasi tanpa pemimpin". Dengan prinsip itu, kaum anarkis dengan
bebas bergerak secara individual untuk melawan imperialisme dan/atau
kolonialisme yang telah berganti wajah dalam globalisasi mutakhir.
Penemuan teknologi modern seperti telegraf, percetakan, kapal uap, atau
kereta api semakin memperluas gerakan perlawanan kaum anarkis yang
dengan cepat memanfaatkan migrasi lintas samudra untuk berjejaring
dengan siapa saja dan di mana saja. Petani dan buruh di luar Eropa,
termasuk penulis dan seniman "borjuis", serta gerakan nasionalis "kecil"
dan "ahistoris", dirangkul sebagai sesama aktivis politik yang bukan
lagi berpaham Marxis, melainkan anarkis migran.
Salah satu tokohnya adalah José Rizal dari Filipina yang adalah novelis
jenius di Asia. Rizal yang dikenal juga sebagai bapak nasionalisme di
Filipina itu telah dieksekusi mati di hadapan regu tembak di ruang
terbuka bernama Bagumbayan (Taman Luneta) pada 30 Desember 1896. Sebagai
novelis, Rizal telah menerbitkan dua karya termahsyur, masing-masing
dengan judul /Noli Me Tangere/ (Jangan Sentuh Aku) dan /El
Filibusterino/ (Merajalelanya Keserakahan). Dua karya itu telah
menciptakan sebuah imajinasi tentang "masyarakat" di Filipina yang utuh
dan kontemporer serta "tanpa kelas".
Hanya sayangnya, Rizal terlampau tergoda untuk menjadi guru politik
bangsanya dengan mengandalkan pada kekuatan pidato atau artikel kritis,
sebagaimana kaum terpelajar Filipina pada umumnya, lebih daripada
novel-novelnya. Itulah mengapa Rizal yang baru berumur 36 tahun dengan
segera diadili dengan dakwaan penghasutan dan pengkhianatan di hadapan
mahkamah militer. Meski tanpa dihadiri oleh para juri, sidang yang
berlangsung hanya satu hari menjatuhkan vonis hukuman mati pada Rizal di
tempat di mana seperempat abad sebelumnya tiga orang pastor sekuler
dihukum cekik dengan gelang besi.
Tragis, memang. Namun, kematian Rizal yang dianggap sebagai martir
nasional telah menyulut api pemberontakan di Filipina. Jalan lapang
menuju cita-cita kemerdekaan dari imperium Spanyol pun terbuka bagi
bangsa Filipina. Hanya sayangnya, proyeksi novel ketiga yang "indah" dan
"artistik" tak membuahkan apa pun juga. Bahkan dua novel sebelumnya
hanya tinggal menjadi kenang-kenangan yang sudah berada di luar
cita-cita gerakan revolusionernya yang bertumpu pada anarkisme.
Inilah wajah anarki yang telah kehilangan imajinasi dan dengan mudah
diberantas, bahkan distigmakan setara atau lebih daripada komunis
dan/atau teroris. Anarki yang pada mulanya merupakan suatu gerakan
kritik sosial baru dengan prinsip di atas selalu dianggap sebagai bahaya
besar justru karena dikerjakan tidak dengan serius dan militan. Artinya,
para anarkis yang sesungguhnya anti imperialisme, kolonialisme, dan
bahkan globalisme mustahil untuk membuat keresahan, apalagi kekacauan,
jika tanpa ada yang merekayasakannya.
Faktanya, pada peristiwa Haymarket Martyrs di Chicago, akhirnya
diketahui bahwa yang membuat kericuhan dengan melempar bom ke tengah
pasukan polisi dalam demonstrasi damai kaum buruh adalah para agen
polisi sendiri. Maka, adilkah jika anarkisme masih dianggap sebagai
bahaya besar yang lucunya di tempat cikal bakalnya Hari Buruh 1 Mei
(/May Day/) dinobatkan hanya diperingati dengan sebuah monumen?
*A. Windarto* /peneliti di Lembaga Studi Realino, Sanata Dharma, Yogyakarta/
*(mmu/mmu)*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*