Peristiwa 22 Mei 1998[sunting <https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Arief_Koeshariadi&veaction=edit§ion=3> | sunting sumber <https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Arief_Koeshariadi&action=edit§ion=3> ]
Ia merupakan saksi sejarah <https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah> dan terlibat langsung dalam detik-detik pergantian kepemimpinan Nasional <https://id.wikipedia.org/wiki/Nasional> atau era awal reformasi <https://id.wikipedia.org/wiki/Reformasi>, Laksamana <https://id.wikipedia.org/wiki/Laksamana> TNI <https://id.wikipedia.org/wiki/TNI> Arief seperti dituturkannya dalam berbagai kesempatan sangat heran ketika terjadi kerusuhan Mei 1998 <https://id.wikipedia.org/wiki/Kerusuhan_Mei_1998>, Arief berkeliling Jakarta dan tak melihat adanya pasukan di lapangan. Padahal, jumlah pasukan yang di bawah kendali operasi di Jakarta kala itu 110 satuan setingkat kompi. Pasukan tersebut terdiri dari pasukan Yonif 327 Brawijaya, Grup I Kopassus, Kostrad, Marinir, dan tiga skuadron helikopter TNI Angkatan Udara. Melihat kejanggalan itu, Arief lalu mendatangi lokasi parkir panser-panser marinir. Di tempat ini pun tak seorang marinir ditemukan. Karena khawatir, Arief lalu memerintahkan pasukan marinir di Surabaya datang di Jakarta. Pasukan yang tiba di Halim Perdanakusuma ditempatkan di Cilandak. Dari markas marinir di Jakarta tersebut, pasukan disebar. Pasukan tiba sebelum Jenderal Wiranto ke Malang, tidak ada pasukan yang terlihat atau berusaha melakukan pengamanan sehingga atas inisiatifnya dia mengkontak Kesatuan Korps Marinir <https://id.wikipedia.org/wiki/Korps_Marinir> dari Surabaya <https://id.wikipedia.org/wiki/Surabaya> untuk mengirim pasukan ke Jakarta <https://id.wikipedia.org/wiki/Jakarta>. https://id.wikipedia.org/wiki/Arief_Koeshariadi Lha di mana pasukan marinir Jakarta dibawah yang sekarang Letjen Purnawirawan Suharto ? Pasukannya di bagi2 oleh Kodan Jaya, disuruh jaga tempa yang tidak strategis? Setelah marinir Surabaya datang, marinir Jakarta menggabungkan diri jaga tempat strategis di Jakarta. Pasukannya Wiranto dan Prabowo jadi bingung,lha kok muncul kekuatan ketiga dengan senjata berat. Pasukan marinir ini yang melindungi demonstrasi mahasiswa dari penembakan. Nama marinir harum waktu itu di tangan mahasiswa. Rupanya letjen purnawirawan ini sudah lama kenal biak dengan Prabowo? hingga diajak latihan bersama dengan Kopassus. Tetapi Suharto menolak, karena tugas marinir lain sekali dari Kopassus.
