Sudah betul alm Ani mendapat pelayanan medik di Singapura walaupun meninggal disana. Kalau di rawat di Indonesia dan meninggal, pasti keluarganya akan menyesal sebab pelayan medik yg baik/dgn standard international belum di cobanya.
Saya dalam situasi yg sama, juga akan berobat di Singapura atau Penang kecuali sakit masuk angin atau batuk pilek. Istilah penyakit "batuk-pilek", saya mendapat dari mantan presiden IDI dr. Kartono Mohamad waktu dia mengkritik standar pelayanan medik di Indonesia dalam diskusi kami. Lebih dari beberapa tahun yg lalu, saya mempunyai saudara sepupu yg sebagai CEO dari perusahan Intel dari Amerika (computer chips) dari Asia Tenggara yg mendapat serangan jantung di Jakarta. Dia alumni dr Universitas Melbourne. Sebelum mulai bekerja di Jakarta dari Auatralia, ia minta kantor Intel dibuka di Jakarta. Waktu kena serangan jantung, ia mau dirawat di Jakarta. Tetapi perusahan Intel tidak mengizinkan ia dirawat di Jakarta, dan ia diangkut dgn helikopter utk diterbangkan ke Singapura utk dirawat di Singapura. Utk selanjutnya ia perlu mendapat perawatan di Singapura. Sebagai hasilnya head quarter utk Asia Tengara dipindah dari Jakarta ke Singapura. Dalam penyakit yg unik, sulit dan jarang kalau perlu, saya juga akan memilih perawatan di RS yg spesial AS drpd di Kanada.
