Analisis dan pandangan politik Adhie Massardi, mantan jurubicara
Presiden Gusdur mulai nampak kebenarannya. Makin hari makin jelas bahwa
Prabowo-Sandi yang mengalahkan Jokowi-Makruf dan menang dalam proses
pemilihan Presiden Indonesia periode 2019-2024.

Tentu saja hal ini akan menjadi beban berat bagi kaum fanatisi Jokowi.
Namun demikian setiap orang berhak belajar dari sejarah. Misalnya
dengan membaca kembali ulasan yang saya tayangkan berikut ini:


Kamis, 17 Ramadhan 1440 H / 23 Mei 2019
Home » Berita » Berita Nasional

Adhie Massardi: Prabowo-Sandi Menang Minimal 55 Persen

Eramuslim.com – Koordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB), Adhie
Massardi yakin pasangan Capres dan Cawapres 02 Prabowo-Sandi memperoleh
55 persen suara mengalahkan pasangan Jokowi-Ma’ruf pada Pilpres 2019
ini. 

Hal tersebut diyakini melihat Pilpres 2014 lalu di mana Prabowo
berpasangan dengan Hatta Rajasa memperoleh suara sebesar 46,85 persen.
Sementara, di Pilpres 2019 ini Adhie yakin suara Prabowo bertambah
karena berpasangan dengan Sandiaga Salahuddin Uno. 

“Jadi dalam hitungan
politik saya, minimal Prabowo itu dapat 55 persen minimal, masa dari
penampilan begitu, dukungan begitu banyaknya menjadi lebih buruk dari
versi KPU hitungan sekarang, kan nggak masuk akal,” ucap Adhie Massardi
di diskusi publik yang bertema ‘Membongkar Modus Operandi Kecurangan
Pemilu’ di Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (9/5). 

Hal tersebut diyakini melihat Pilpres 2014 lalu di mana Prabowo
berpasangan dengan Hatta Rajasa memperoleh suara sebesar 46,85 persen.
Sementara, di Pilpres 2019 ini Adhie yakin suara Prabowo bertambah
karena berpasangan dengan Sandiaga Salahuddin Uno. 

“Jadi dalam hitungan politik saya, minimal Prabowo itu dapat 55 persen
minimal, masa dari penampilan begitu, dukungan begitu banyaknya menjadi
lebih buruk dari versi KPU hitungan sekarang, kan nggak masuk akal,”
ucap Adhie Massardi di diskusi publik yang bertema ‘Membongkar Modus
Operandi Kecurangan Pemilu’ di Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (9/5). 

Tak hanya itu, pada 2014 Jokowi juga mendapatkan dukungan dari pendukung
mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Sehingga
suara Jokowi menjadi banyak karena dampak dari pendukung  Jusuf Kalla
dan Ahok. 

“Pada 2019 Yusuf Kalla off dari kontestasi. Kemudian adalagi yang
mendorong pasangan Jokowi-JK 2014 ini adalah Ahok dengan faktor
non-muslim dan etnis China yang didorong kesitu,” terangnya 

Namun pada Pilpres 2019 ini, Jusuf Kalla tidak ikut dalam kontestasi
sehingga dinilai mengurangi jumlah dukungannya untuk mendukung Jokowi.
Tak hanya itu, setelah Ma’ruf Amin dipilih menjadi pendamping Jokowi
juga berpengaruh dari dukungan para pendukung Ahok yang diduga kecewa
lantaran sosok Ma’ruf Amin yang membuat Ahok tidak dipilih mendampingi
Jokowi. 

“Tetapi 2019 ini kan ada kekecewaan yang luar biasa besar juga dari
pendukung Ahok dan non-muslim dan etnis Tionghoa terutama karena
pasangan Joko Widodo ternyata Ma’ruf Amin yang dalam pandangan mereka
merupakan otak dari yang menyingkirkan Ahok, jadi kemungkinan
berkurang,” jelasnya. 

Jadi menurut Adhie, pasangan Jokowi-Ma’ruf pada kontestasi Pilpres 2019
ini harusnya hanya mendapatkan suara sebesar 40-42 persen 

“Jadi kalau dihitung realistis politiknya dengan angka kemudian yang
muncul didalam pemilu itu dugaan saya hitungan saya maksimal pasangan
Jokowi-Ma’ruf ini 40 sampai 42 persen,” tuturnya.
 
Sehingga, jika dilihat perhitungan KPU sementara di Situng pada situs
KPU yang memenangkan pasangan Jokowi-Ma’ruf diyakini adanya masalah di
KPU. 

“Karena yang diyakini dalam ilmu politik itu adalah pemilu itu
ekspresi politik keinginan masyarakatnya, angka politik juga keinginan
masyarakat. Kalau angka politik ini tidak nyambung dengan realitas
politiknya itu pasti ada masalah,” tandasnya. [ml]

 

Kirim email ke