Seandainya kalah-menang pemilu berdasarkan "KEYAKINAN" seseorang,
siapapun dia bahwa Prabowo-Sandi memperoleh minimal 55% dan bisa
dinyatakan keluar sebagai pemenang, apa jadinya pemilu itu???
"KEYAKINAN" itu tentu harus bisa diBUKTIKAN dengan fakta-data pemilih
suara yang konkrit sebagaimana kenyataan yang terjadi di setiap TPS!!!
Lha pemilu 2019 kali ini disetiap TPS itu bukan saja ada bawaslu yg
mengawasi jalannya pemilu, tapi juga saksi-saksi setiap kubu dan parpol
yg ada caleg2 nya! Begitu banyak mata yang mengawasi, TENTU sangat amat
sulit masih terjadi kecurangan, ... dan setiap suara dihitung dan
tercatat di C1 yg ditandatangani juga oleh saksi kedua kubu! Kalau saja
saksi merasa dicurangi boleh saja protes dan menolak tandatangan, ...
dan itu terjadi dan direkomendasi bawaslu untuk dilakukan pemilihan
ulang! Bukankah ada lebih 2 ribu TPS yg dilakukan pemilihan ulang, ...
Begitu juga dengan proses penghitungan manual C1 yang berjenjang,
dimulai dari setiap TPS itu, lalu naik kepenghitungan setiap kecamatan,
propinsi dan nasional dengan diikuti, disaksikan juga oleh setiap kubu
dan parpol, ... semua sudah ditandatangni oleh saksi-saksi bersangkutan!
Kalau saja ada yg menganggap terjadi SALAH HITUNG, entah di propinsi,
kecamatan mana, ... tentu boleh diajukan ke MK, dan diuji apa BENAR bisa
mendiskwalifikasi hasil kemenangan kubu-1 berdasarkan keputusan KPU itu!
Kalau sudah KALAH, mbok yaa ngaku KALAH saja secara JANTAN dan KESATRIA!
Tidak perlu neko-neko membuat narasi pemilu Curang, TANPA bisa
menunjukkan bukti2 kuat berdasarkan fakta-data, ... apalagi sampai
bangkitkan People Power dgn kerusuhan yang jatuhkan KORBAN JIWA, ...!
Sunny ambon [email protected] [GELORA45] 於 3/6/2019 18:49 寫道:
*Kalau sudah diperkirakan akan kalah, maka perlu dibuat sesuatu supaya
bisa menang atau tetap menang. Pembuatannya tidak susah, karena
dimiliki segala macam alat dan kekuasaan.*
On Mon, Jun 3, 2019 at 10:21 AM Lusi D. <[email protected]
<mailto:[email protected]>> wrote:
Analisis dan pandangan politik Adhie Massardi, mantan jurubicara
Presiden Gusdur mulai nampak kebenarannya. Makin hari makin jelas
bahwa
Prabowo-Sandi yang mengalahkan Jokowi-Makruf dan menang dalam proses
pemilihan Presiden Indonesia periode 2019-2024.
Tentu saja hal ini akan menjadi beban berat bagi kaum fanatisi Jokowi.
Namun demikian setiap orang berhak belajar dari sejarah. Misalnya
dengan membaca kembali ulasan yang saya tayangkan berikut ini:
Kamis, 17 Ramadhan 1440 H / 23 Mei 2019
Home » Berita » Berita Nasional
Adhie Massardi: Prabowo-Sandi Menang Minimal 55 Persen
Eramuslim.com – Koordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB), Adhie
Massardi yakin pasangan Capres dan Cawapres 02 Prabowo-Sandi
memperoleh
55 persen suara mengalahkan pasangan Jokowi-Ma’ruf pada Pilpres 2019
ini.
Hal tersebut diyakini melihat Pilpres 2014 lalu di mana Prabowo
berpasangan dengan Hatta Rajasa memperoleh suara sebesar 46,85 persen.
Sementara, di Pilpres 2019 ini Adhie yakin suara Prabowo bertambah
karena berpasangan dengan Sandiaga Salahuddin Uno.
“Jadi dalam hitungan
politik saya, minimal Prabowo itu dapat 55 persen minimal, masa dari
penampilan begitu, dukungan begitu banyaknya menjadi lebih buruk dari
versi KPU hitungan sekarang, kan nggak masuk akal,” ucap Adhie
Massardi
di diskusi publik yang bertema ‘Membongkar Modus Operandi Kecurangan
Pemilu’ di Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (9/5).
Hal tersebut diyakini melihat Pilpres 2014 lalu di mana Prabowo
berpasangan dengan Hatta Rajasa memperoleh suara sebesar 46,85 persen.
Sementara, di Pilpres 2019 ini Adhie yakin suara Prabowo bertambah
karena berpasangan dengan Sandiaga Salahuddin Uno.
“Jadi dalam hitungan politik saya, minimal Prabowo itu dapat 55 persen
minimal, masa dari penampilan begitu, dukungan begitu banyaknya
menjadi
lebih buruk dari versi KPU hitungan sekarang, kan nggak masuk akal,”
ucap Adhie Massardi di diskusi publik yang bertema ‘Membongkar Modus
Operandi Kecurangan Pemilu’ di Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (9/5).
Tak hanya itu, pada 2014 Jokowi juga mendapatkan dukungan dari
pendukung
mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.
Sehingga
suara Jokowi menjadi banyak karena dampak dari pendukung Jusuf Kalla
dan Ahok.
“Pada 2019 Yusuf Kalla off dari kontestasi. Kemudian adalagi yang
mendorong pasangan Jokowi-JK 2014 ini adalah Ahok dengan faktor
non-muslim dan etnis China yang didorong kesitu,” terangnya
Namun pada Pilpres 2019 ini, Jusuf Kalla tidak ikut dalam kontestasi
sehingga dinilai mengurangi jumlah dukungannya untuk mendukung Jokowi.
Tak hanya itu, setelah Ma’ruf Amin dipilih menjadi pendamping Jokowi
juga berpengaruh dari dukungan para pendukung Ahok yang diduga kecewa
lantaran sosok Ma’ruf Amin yang membuat Ahok tidak dipilih mendampingi
Jokowi.
“Tetapi 2019 ini kan ada kekecewaan yang luar biasa besar juga dari
pendukung Ahok dan non-muslim dan etnis Tionghoa terutama karena
pasangan Joko Widodo ternyata Ma’ruf Amin yang dalam pandangan mereka
merupakan otak dari yang menyingkirkan Ahok, jadi kemungkinan
berkurang,” jelasnya.
Jadi menurut Adhie, pasangan Jokowi-Ma’ruf pada kontestasi Pilpres
2019
ini harusnya hanya mendapatkan suara sebesar 40-42 persen
“Jadi kalau dihitung realistis politiknya dengan angka kemudian yang
muncul didalam pemilu itu dugaan saya hitungan saya maksimal pasangan
Jokowi-Ma’ruf ini 40 sampai 42 persen,” tuturnya.
Sehingga, jika dilihat perhitungan KPU sementara di Situng pada situs
KPU yang memenangkan pasangan Jokowi-Ma’ruf diyakini adanya masalah di
KPU.
“Karena yang diyakini dalam ilmu politik itu adalah pemilu itu
ekspresi politik keinginan masyarakatnya, angka politik juga keinginan
masyarakat. Kalau angka politik ini tidak nyambung dengan realitas
politiknya itu pasti ada masalah,” tandasnya. [ml]
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com