Angka golput mengherankan, melihat trend historical data seharusnya golput lebih banyak dari 2014, anggap saja growth-nya 10% seharusnya golput kali ini sekitar 33-34%; ada distorsi data yang signifikan berkisar 14% dari jumlah suara sedangkan selisih kemenangan cuman 10-11%. Belum lagi ada faktor lain yg mengakibatkan golput seharusnya bertambah banyak, seperti misalnya faktor pendukung Ahok yg tidak bisa mendukung Ma'ruf Amin. Apakah ancaman2 pidana bagi mereka yg golput mempunyai pengaruh?Ataukah kesalahan hitung? --- https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-48130161
Berdasarkan hitung cepat LSI dengan 100% sampel, data golput pada Pilpres 2019 mencapai 19,24%. Angka tersebut melawan tren golput yang terus naik sejak pemilihan umum pascareformasi. Menurut data Komisi Pemilihan Umum (KPU), tingkat golput 23,30% pada Pilpres 2004, 27,45% pada 2009, dan 30,42% pada 2014. ---In [email protected], <lusi_d@...> wrote : Analisis dan pandangan politik Adhie Massardi, mantan jurubicara Presiden Gusdur mulai nampak kebenarannya. Makin hari makin jelas bahwa Prabowo-Sandi yang mengalahkan Jokowi-Makruf dan menang dalam proses pemilihan Presiden Indonesia periode 2019-2024. Tentu saja hal ini akan menjadi beban berat bagi kaum fanatisi Jokowi. Namun demikian setiap orang berhak belajar dari sejarah. Misalnya dengan membaca kembali ulasan yang saya tayangkan berikut ini: Kamis, 17 Ramadhan 1440 H / 23 Mei 2019 Home » Berita » Berita Nasional Adhie Massardi: Prabowo-Sandi Menang Minimal 55 Persen Eramuslim.com – Koordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB), Adhie Massardi yakin pasangan Capres dan Cawapres 02 Prabowo-Sandi memperoleh 55 persen suara mengalahkan pasangan Jokowi-Ma’ruf pada Pilpres 2019 ini. Hal tersebut diyakini melihat Pilpres 2014 lalu di mana Prabowo berpasangan dengan Hatta Rajasa memperoleh suara sebesar 46,85 persen. Sementara, di Pilpres 2019 ini Adhie yakin suara Prabowo bertambah karena berpasangan dengan Sandiaga Salahuddin Uno. “Jadi dalam hitungan politik saya, minimal Prabowo itu dapat 55 persen minimal, masa dari penampilan begitu, dukungan begitu banyaknya menjadi lebih buruk dari versi KPU hitungan sekarang, kan nggak masuk akal,” ucap Adhie Massardi di diskusi publik yang bertema ‘Membongkar Modus Operandi Kecurangan Pemilu’ di Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (9/5). Hal tersebut diyakini melihat Pilpres 2014 lalu di mana Prabowo berpasangan dengan Hatta Rajasa memperoleh suara sebesar 46,85 persen. Sementara, di Pilpres 2019 ini Adhie yakin suara Prabowo bertambah karena berpasangan dengan Sandiaga Salahuddin Uno. “Jadi dalam hitungan politik saya, minimal Prabowo itu dapat 55 persen minimal, masa dari penampilan begitu, dukungan begitu banyaknya menjadi lebih buruk dari versi KPU hitungan sekarang, kan nggak masuk akal,” ucap Adhie Massardi di diskusi publik yang bertema ‘Membongkar Modus Operandi Kecurangan Pemilu’ di Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (9/5). Tak hanya itu, pada 2014 Jokowi juga mendapatkan dukungan dari pendukung mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Sehingga suara Jokowi menjadi banyak karena dampak dari pendukung Jusuf Kalla dan Ahok. “Pada 2019 Yusuf Kalla off dari kontestasi. Kemudian adalagi yang mendorong pasangan Jokowi-JK 2014 ini adalah Ahok dengan faktor non-muslim dan etnis China yang didorong kesitu,” terangnya Namun pada Pilpres 2019 ini, Jusuf Kalla tidak ikut dalam kontestasi sehingga dinilai mengurangi jumlah dukungannya untuk mendukung Jokowi. Tak hanya itu, setelah Ma’ruf Amin dipilih menjadi pendamping Jokowi juga berpengaruh dari dukungan para pendukung Ahok yang diduga kecewa lantaran sosok Ma’ruf Amin yang membuat Ahok tidak dipilih mendampingi Jokowi. “Tetapi 2019 ini kan ada kekecewaan yang luar biasa besar juga dari pendukung Ahok dan non-muslim dan etnis Tionghoa terutama karena pasangan Joko Widodo ternyata Ma’ruf Amin yang dalam pandangan mereka merupakan otak dari yang menyingkirkan Ahok, jadi kemungkinan berkurang,” jelasnya. Jadi menurut Adhie, pasangan Jokowi-Ma’ruf pada kontestasi Pilpres 2019 ini harusnya hanya mendapatkan suara sebesar 40-42 persen “Jadi kalau dihitung realistis politiknya dengan angka kemudian yang muncul didalam pemilu itu dugaan saya hitungan saya maksimal pasangan Jokowi-Ma’ruf ini 40 sampai 42 persen,” tuturnya. Sehingga, jika dilihat perhitungan KPU sementara di Situng pada situs KPU yang memenangkan pasangan Jokowi-Ma’ruf diyakini adanya masalah di KPU. “Karena yang diyakini dalam ilmu politik itu adalah pemilu itu ekspresi politik keinginan masyarakatnya, angka politik juga keinginan masyarakat. Kalau angka politik ini tidak nyambung dengan realitas politiknya itu pasti ada masalah,” tandasnya. [ml]
