https://news.detik.com/kolom/d-4578459/ramadhan-yang-tak-dirindukan?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.233685149.2084860800.1559932730-718116821.1559932730
Jumat 07 Juni 2019, 14:38 WIB
Kolom
Ramadhan yang (Tak) Dirindukan
Irfan L. Sarhindi - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4578459/ramadhan-yang-tak-dirindukan?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.233685149.2084860800.1559932730-718116821.1559932730#>
Irfan L. Sarhindi
<https://news.detik.com/kolom/d-4578459/ramadhan-yang-tak-dirindukan?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.233685149.2084860800.1559932730-718116821.1559932730#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4578459/ramadhan-yang-tak-dirindukan?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.233685149.2084860800.1559932730-718116821.1559932730#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4578459/ramadhan-yang-tak-dirindukan?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.233685149.2084860800.1559932730-718116821.1559932730#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4578459/ramadhan-yang-tak-dirindukan?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.233685149.2084860800.1559932730-718116821.1559932730#>
1 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4578459/ramadhan-yang-tak-dirindukan?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.233685149.2084860800.1559932730-718116821.1559932730#>
Ramadhan yang (Tak) Dirindukan Foto: iStock
*Jakarta* - Terlepas dari semua /posting/-an bernada sedih dengan
/quote/ dari Alquran dan/atau hadis ditambah puisi "ketika tangan tak
mampu menggapai" yang berseliweran di detik-detik final puasa dan
proklamasi kemenangan hari raya melalui gema takbir dan Salat Id,
Ramadhan seperti kekasih yang kita gombali ketika dekat, lalu kita
lupakan begitu saja tak lama setelah terpisah. Kita /move on/ kepada
Syawal dan mengubah kembali orientasi perhitungan kalender kita ke Masehi.
Kita mengeset kembali diri dan akhlak kita ke pengaturan awal,
menanggalkan sejumlah titipan, kenangan, dan jejak yang coba
diinternalisasi oleh lelaku puasa selama Ramadhan. Ramadhan jadi bulan
yang (tak) dirindukan. Memang kita menyambut Ramadhan dengan suka cita,
memperlakukan kehadirannya seperti kita menyambut suatu festival maha
agung, pesta raya, sehingga keistimewaannya tidak hanya harus disyukuri
melalui kesetiaan iktikaf dan tarawih di Masjid, tetapi juga /sa'i/ di
pasar berburu daging dan sayuran demi sahur dan buka puasa yang istimewa.
Tapi toh perlakuan spesial itu sepertinya bersifat seremonial semata.
Nilai-nilai yang dibawa serta oleh Ramadhan dan ditawarkan (atau
dijejalkan, disublimasikan) melalui puasa, kita tanggalkan seiring
semakin dekatnya puncak gunung perjuangan. Itu sebabnya barangkali Nabi
Muhammad menyebut banyak yang puasa sekadar dapat lapar dan dahaga. Misi
dasar dan tujuan puasa sendiri cenderung tergerus euforia pesta raya
itu, dilupakan di latar belakang, tidak tertengok dan tidak
tertindaklanjuti. Alhasil, sulit bagi kita menumbuhkan kerinduan yang
tulus kepada Ramadhan karena di sepanjang Ramadhan saja kita sudah
bermanis muka tetapi berpaling hati.
Padahal Ramadhan sejatinya adalah medium, suatu latihan ketat, semacam
diklatsar, yang bertujuan /la'allakum tatakum/: mencetak dan membangun
fondasi takwa. Karena ia membangun fondasi takwa, maka Ramadhan harus
ditindaklanjuti dengan resolusi untuk mengejawantahkan ketakwaan dalam
tingkah laku kita sehari-hari pasca Ramadhan. Artinya, ibadah kita
--baik yang /mahdah/ maupun /ghairu mahdah-- /harusnya meningkat pasca
Ramadhan, dan bukannya malah stagnan apalagi berkurang.
Bagaimana caranya? Sederhana. Kita bedah ketakwaan "macam" apa sih yang
digagas dan diinternalisasi oleh puasa Ramadhan. Pertama, latihan
menahan diri (puasa). Menahan diri ini penting dalam konteks kehidupan
berdemokrasi demi terwujudnya kemaslahatan dan keadilan sosial. Menahan
diri terhadap apa? Setidak-tidaknya dalam hal makan dan minum. Puasa
melatih kita untuk /kuluu wasyrabuu wala tusrifu/ (makan dan minum
secukupnya). Menyesuaikan selera dan nafsu dengan kapasitas perut
sehingga tidak menumpuk sampah makanan yang hari ini masih jadi
persoalan besar umat manusia.
Sayangnya, bahkan sepanjang Ramadhan saja nafsu makan kita tetap kalap.
Makanan yang terbuang karena kita lapar mata saat berburu takjil atau
saat bikin makanan untuk sahur dan buka tidak bisa dibilang sedikit.
Padahal setelah puasa terhadap nafsu makan ada puasa terhadap nafsu
keserakahan yang lebih besar: memilah mana yang hak dan mana yang bukan;
memilah mana yang dibutuhkan dan mana yang sekadar diinginkan. Singkat
madah, puasa adalah tirakat membendung gejolak dan rayuan konsumerisme
yang sebagaimana Thanos, /inevitable/ (tak terelakkan).
Kedua, dalam puasa kita mengenal konsep pembatalan pahala puasa. Yaitu
sikap-sikap yang dianggap mencederai nilai-nilai puasa sehingga jika
dilakukan pahala puasanya hilang dan/atau berkurang. Contohnya,
berbohong, mengadu domba, /ghibah/, dan melihat sesuatu yang menimbulkan
syahwat. Jika kita telaah, aturan-main ini sebetulnya adalah proses
diklatsar untuk membangun komponen akhlak mulia di dalam diri kita
sebagai pondasi ketakwaan tadi.
Ambil contoh, puasa melatih integritas. Dalam integritas terkandung
sikap jujur dan dapat dipercaya. Integritas adalah manifestasi akhlak
ihsan yang diliputi kesadaran bahwa apapun yang kita lakukan dipantau
oleh Allah sehingga setiap wewenang dijalankan dengan baik, setiap janji
ditepati, setiap kata dijaga kejujurannya. Integritaslah yang menjadi
tulang punggung dakwah Islam di era Nabi SAW dan para sahabat serta
/tabiin/ dan yang hari ini hilang di tengah-tengah jumlah Muslim yang
seperti buih ombak di samudera Hindia.
Hari ini kita masih gelisah menaruh sandal baru di halaman Masjid karena
takut hilang, apalagi /markir/ mobil/motor di luar rumah. Hampir dapat
dipastikan jika kita ketinggalan tas di sebuah taman misalnya, dan kita
cari kembali satu jam kemudian, tas itu mungkin sudah raib. Apalagi
kalau lupa menaruh ponsel. Sementara di negara-negara maju yang Muslim
menjadi minoritas, integritas justru tampak di mana-mana. Di Jepang,
misalnya, atau bahkan di Eropa.
Ketika mengikuti program pertukaran Muslim ke Australia, seorang Muslim
Indonesia yang telah lama menetap di Melbourne curhat soal "susah
dipercayanya" orang-orang Muslim. Di UK, saya dan teman saya ditipu
/landlord/ beragama Islam. Saat berhaji, kisah soal "penipua"' sangat
lazim terdengar mulai dari jasa dorong /thawaf/ bagi lansia dan difabel
hingga pada jasa transportasi ke dan dari Arafah-Mina-Muzdalifah. Di
Indonesia sendiri, ada begitu banyak kasus korupsi atau pencucian uang
yang melibatkan tokoh agama, politisi dari partai Islam, para pebisnis
umrah, serta pemangku jabatan di wilayah institusi keagamaan.
Semua indikasi di atas menunjukkan belum tuntasnya misi Ramadhan, belum
tercapainya tujuan puasa yang "telah diwajibkan atas kamu" ini. Mungkin
karena puasa masih kita khidmati sebagai sebatas ritual (yang berat),
atau karena kita terlena oleh sejumlah perayaan dan acara-acara
pseudo-Islami di televisi, atau karena kesadaran akan Ramadhan yang
lenyap seiring perjuangan berat perjalanan mudik dan kembali kerja
sebagaimana para peserta diklatsar yang selain sertifikat, tidak
mendapatkan apa-apa dari tiga hari dua malamnya di hotel berbintang
dibiayai negara atau perusahaan. Tidak apa-apa, yang penting secara
simbolik naik jabatan. Walau nyatanya mungkin tidak.
*Irfan* *L. Sarhindi* /pengasuh Salamul Falah
/
*(mmu/mmu)*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*