https://news.detik.com/kolom/d-4583674/mengoptimalkan-perjumpaan-kultural?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.243782983.395420941.1560363679-214187559.1560363679
Rabu 12 Juni 2019, 15:32 WIB
Kolom
Mengoptimalkan Perjumpaan Kultural
Anggi Afriansyah - detikNews
<https://connect.detik.com/dashboard/public/afriansyah_anggi>
Anggi Afriansyah
<https://connect.detik.com/dashboard/public/afriansyah_anggi>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4583674/mengoptimalkan-perjumpaan-kultural?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.243782983.395420941.1560363679-214187559.1560363679#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4583674/mengoptimalkan-perjumpaan-kultural?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.243782983.395420941.1560363679-214187559.1560363679#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4583674/mengoptimalkan-perjumpaan-kultural?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.243782983.395420941.1560363679-214187559.1560363679#>
0 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4583674/mengoptimalkan-perjumpaan-kultural?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.243782983.395420941.1560363679-214187559.1560363679#>
Mengoptimalkan Perjumpaan Kultural Foto: Sylke Febrina Laucereno
*Jakarta* -
Beberapa tahun belakangan ini, membenci seolah semakin mudah dilakukan.
Salah satu aspek yang begitu mengerikan adalah ketika bangunan kebencian
ini dipijakkan oleh justifikasi keagamaan yang sempit. Agama yang
seharusnya membawa damai tercemar karena laku umat yang kasar
menggunakannya semata untuk kepentingan elektoral.
Hari-hari ini kita melihat betapa agama tidak menjadi panduan moral yang
menuntun mereka yang berkontestasi di arena politik, tetapi sangat mudah
diperalat demi kepentingan politik elektoral semata. Almarhum Gus Dur
sudah mengingatkan bahwa agama merupakan pedoman moral, bukan
justifikasi kelompok agama tertentu untuk memimpin dan mengatur mereka
yang berbeda secara paksa dengan dalih tafsir keagamaan yang eksklusif.
Inilah kritik dari Gus Dur dalam relasi agama dengan negara dalam
beberapa tulisannya.
Almarhum Rendra dalam sajaknya yang berjudul /Maskumambang/ mengkritik
agama yang terlalu jauh dibawa ke ruang politik. "Apabila agama menjadi
lencana politik, maka erosi agama pasti terjadi! Karena politik tak
punya kepala, tidak punya hati, politik hanya mengenal kalah dan menang,
kawan dan lawan, peradaban yang dangkal. Meskipun hidup berbangsa perlu
politik, tetapi politik tidak boleh menjamah ruang iman dan akal di
dalam daulat manusia!" (WS Rendra dalam /Doa untuk Anak Cucu/, 2014).
Kritik Rendra masih relevan dalam membaca situasi politik yang gaduh
hari-hari ini.
Tujuan politik sebagai alat perjuangan menciptakan masyarakat adil dan
sejahtera kemudian menjadi sangat utopis, karena nyatanya praktik
politik yang dilihat dan dirasakan begitu memecah belah persatuan
bangsa. Ada saja argumen yang digunakan untuk menyerang pihak yang
berbeda. Dialog-dialog konstruktif semakin sulit terbangun karena
masing-masing pihak merasa paling benar.
Kontestasi politik lima tahun seperti perang yang melibatkan hidup mati.
Sampai memposisikan teman dan bahkan saudara sebagai lawan yang perlu
diberangus hanya karena berbeda pilihan. Siapapun akan diserang
habis-habisan jika berbeda dengan cara pandangnya. Kebencian dengan
mudah ditembakkan ke segala penjuru mata angin.
Hari-hari ini, kita perlu mengingat terus pesan Bung Karno. Ia menyebut
Indonesia didirikan untuk semua bukan untuk golongan tertentu saja.
Bukan untuk satu agama atau suku tertentu. Maka, tak bisalah jika hanya
karena berbeda pilihan politik kita harus tercerai berai. Gotong royong
yang menurut Bung Karno adalah intisari dari perasan semua sila
Pancasila hanya bisa dilakukan ketika ada kesepakatan bersama untuk bahu
membahu dalam membangun bangsa ini.
Sebab itu, Indonesia kini dan masa depan tak bisa dibangun oleh
pertengkaran saling menjatuhkan. Tak bisa dikokohkan oleh semburan caci
maki juga sumpah serapah yang penuh hasutan dan kutukan. Negeri ini tak
memerlukan getir amarah penuh kebencian hanya karena perbedaan agama,
suku, kelas sosial, apalagi hanya karena pilihan politik.
*Piranti Kultural
*
Beruntung setelah kontestasi berlangsung, kita kemudian memasuki bulan
Ramadhan dan disusul oleh Hari Raya Idulfitri. Ramadhan dan Idulfitri
menyediakan ruang yang besar bagi pertemuan-pertemuan antarberagam
masyarakat. Dua momen besar ini merupakan piranti perjumpaan kultural
yang perlu dioptimalkan.
Perjumpaan-perjumpaan menjadi lebih intensif dilakukan di momen Ramadhan
dipungkas dengan saling bermaafan di Hari Raya Idulfitri. Buka puasa
bersama, tarawih bersama, ataupun salat berjamaah adalah momen pertemuan
antar beragam kalangan menjadi bagian penting rekonsiliasi antar beragam
kalangan yang sebelumnya sempat berbeda pendapat soal pilihan politik.
Jika sebelumnya sungkan untuk saling bertemu, maka Ramadan lalu maupun
Idulfitri adalah momen tepat untuk menjalin kembali silaturahmi.
Momen-momen mengharukan begitu banyak terpotret selama Ramadhan. Haru
rasanya ketika melihat kalangan saudara non-muslim ikut merayakan
kegembiraan ketika berbuka puasa dengan menyiapkan beragam makanan.
Ataupun ketika kita menyaksikan masyarakat yang memiliki rezeki berlebih
berbagi kepada kalangan masyarakat yang kurang mampu.
Situasi yang sama dirasakan ketika perayaan Idulfitri. Pertemuan
antarmasyarakat begitu hangat dan menyenangkan. Silaturahmi yang
dilakukan elite politik pun menjadi bagian penting bagi rekonsiliasi
politik pascapilpres yang begitu menguras tenaga.
Momen-momen tersebut menghadirkan tawa bahagia dan perasaan hangat.
Inilah Indonesia yang kita bayangkan bersama. Indonesia yang meskipun
berbeda-beda, tapi tetap berkomitmen untuk terus bersama. Saling bahu
untuk menolong atas nama kasih sayang.
Dinamika politik tidak boleh mencerabut rasa bahagia dan keinginan untuk
berbagi di antara kita. Kontestasi yang terjadi tidak boleh membuat kita
mudah marah atau mudah dihasut oleh mereka yang ingin memanaskan situasi
menjadi tidak nyaman.
Ramadhan lalu membuat kita leluasa merenungkan kembali hakikat diri juga
relasi dengan lingkungan sekitar. Almarhum Nurcholish Madjid (Cak Nur)
dalam buku /30 Sajian/ /Ruhani: Renungan di Bulan Ramadlan/ (2007)
mengemukakan bahwa ibadah puasa tidak hanya menyangkut masalah personal,
tetapi juga terkait dimensi sosial. Ramadhan adalah waktu untuk
menumbuhkan sikap-sikap terpuji salah satunya dengan mendahulukan
berprasangka baik terhadap orang lain yang sangat sesuai dengan konsep
fitrah.
Berprasangka baik, lanjut Cak Nur, berkaitan dengan pelaksanaan ibadah
puasa. Karena ketika berpuasa umat Islam dianjurkan untuk menjauhi sikap
tidak terpuji seperti iri, dengki, berkata kotor, dan segala sikap yang
merugikan lainnya. Catatan reflektif dari Cak Nur dapat menjadi
pengingat kita semua. Ramadhan menjadi ruang penting untuk mengikis rasa
curiga berlebihan kepada pihak yang berbeda. Ada keinginan untuk
memperlakukan orang lain sebaik-baiknya.
Kita tentu berharap ibadah puasa yang dijalani sebulan penuh lalu tidak
menjadi sia-sia. Ramadhan sebagai sekolah terbaik yang membuat kita
meraih derajat takwa. Sehingga kita dapat menjauhkan diri dari perilaku
yang tidak terpuji yang coba kita hindari selama sebulan lamanya.
*Anggi Afriansyah* /peneliti Pusat Penelitian Kependudukan LIPI/
*(mmu/mmu)*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*