Perang diskon ini kan cara pengusaha menerjemahkan tantangan Jokowi untuk bersaing atas nama pasar bebas. Kenapa dilarang?
Kenapa pemerintahan Jokowi senangnya menguras kantong Rakyat yang sudah dedel duwel? Yang penting Rakyat tidak punya kekuatan? Begitukah? Oke, artinya membiarkan harga tiket pesawat dll setinggi langit itu yah ada kepala batu di balik udang juga. - Diskon Tarif Ojek Online Dilarang, Pengguna Merasa Dirugikan Fintech - Rahajeng Kusumo Hastuti,CNBC Indonesia 11 June 2019 - 14:29 Jakarta,CNBC Indonesia - Kementerian Perhubungan (Kemenhub)akan menerbitkan aturan baru yang khusus melarang praktik diskon tariftransportasi online seperti ojek online (ojol) dan taksi online. Langkah ini dilakukan karena praktik diskon tarif ini dianggap merusak industridan sebaiknya diskon disediakan oleh perusahaan lain, bukan aplikator itusendiri dalam hal ini Gojek dan Grab, dua aplikator transportasi online diIndonesia. Meskidemikian, rencana aturan ini juga mendapatkan respon negatif dari masyarakatyang biasanya menggunakan ojek online. Mereka menilai biasanya diskondimanfaatkan untuk menghemat ongkos perjalanannya. Insan (31) yang biasanya bekerja memanfaatkan kereta dan ojek online merasakaandampak akibat penyesuaian tarif. Jika diskon ojek online pun dilarang, makaakan semakin memberatkannya. Bahkandia memilih untuk membawa motor pribadi dari rumahnya di Tangerang Selatan(Tangsel) menuju kantornya di daerah Mampang, meski harus menerjang kemacetan. Biasanya dari stasiun Palmerah menuju Mampang tarifnya Rp 10 ribu, setelah adapenyesuaian tarifnya Rp 16 ribu per sekali jalan, belum lagi ketika jam sibuk.Dengan diskon biasanya Insan merasakan sedikit penghematan sedikit. Jika diskonpun dihapuskan maka ongkosnya semakin mahal. "Jakartamacet, menguras tenaga. Ojol tuh solusi banget karena cepet, relatif murah, gakcapek. Tapi kebijakan pemerintah yang ini malah menutup solusi itu," kataInsan kepada CNBC Indonesia. Sementara Yoli (27) karyawan, yang harus bekerja dari Cileungsi ke Jakarta,membutuhkan ojol untuk kemudahan transportasi. Biasanya menuju tempat bis diamenggunakan ojol dengan tarif Rp 15 ribu, setelah penyesuaian tarif menjadidiatas Rp 20 ribu. Menurutnyaterlalu mahal tarif diatas Rp 15 ribu untuk jarak dekat. "Mungkin pilihannya ke Transjakarta, kalau naik ojol juga mahal dan ga adadiskon lagi," katanya. Sementara Annisa (26) yang juga bergantung pada ojol untuk mobilitassehari-hari, juga merasakan beratnya penyesuaian tarif. Bahkan dia sampaimengirimkan motornya dari Solo, supaya tidak lagi bergantung pada Gojek ataupunGrab. DariKemanggisan ke Kuningan dari yang semula Rp 20 ribu-an, menjadi Rp 31 ribu,padahal di luar jam sibuk. Untuk itu dia memilih untuk membawa motor pribadiketimbang terdampak mahalnya ojek. (roy/roy)
