https://mediaindonesia.com/read/detail/241257-untuk-sawah-yang-tahan-garam
/*Untuk Sawah yang Tahan Garam*/
Penulis: *MI* Pada: Sabtu, 15 Jun 2019, 01:50 WIB Humaniora
<https://mediaindonesia.com/humaniora>
<https://www.facebook.com/share.php?u=https://mediaindonesia.com/read/detail/241257-untuk-sawah-yang-tahan-garam>
<https://twitter.com/home/?status=Untuk Sawah yang Tahan Garam
https://mediaindonesia.com/read/detail/241257-untuk-sawah-yang-tahan-garam
via @mediaindonesia>
Untuk Sawah yang Tahan Garam
<https://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/news/2019/06/444370fa576859005eb66e8d9a79a679.jpg>
/DOK. YAYASAN ESA KHATULISTIWA/
Tim Institut Teknologi Sepuluh Nopember dan Yayasan Eka Khatulistiwa
menguji salinitas terhadap beberapa varietas padi di Pamekasan
TINGGAL di wilayah pesisir di Pamekasan, Jawa Timur, tepatnya di Desa
Buddagan, membuat Yogie Anggita Baskara terbuka mata akan dampak
perubahan iklim. Salah satunya ialah intrusi dan kenaikan muka air laut.
Sementara itu, kenaikan muka air laut mengancam garis pantai dan intrusi
air laut mengancam sumber air tawar. Di masa mendatang, dampaknya bisa
lebih luas karena hunian hingga areal persawahan akan semakin menyempit.
Berbagai permasalahan lingkungan akibat perubahan iklim ini pula yang
membuat Yogie yang merupakan mahasiswa pascasarjana Institut Teknologi
Surabaya (ITS) bergabung dalam penelitian salinitas (kadar garam
terlarut dalam air) lahan yang dilakukan Laboratorium Ekologi ITS dan
Yayasan Eka Khatulistiwa.
"Karena saya dari keluarga tani. Pernah tanam juga bareng keluarga dulu,
waktu SMP-SMA itu pernah. Cuma kalau pembahasan lebih detail tentang
cekaman salinitas itu baru tahun lalu," ujar Yogie kepada Media
Indonesia, beberapa waktu lalu.
Peneliti Laboratorium Ekologi Departemen Biologi ITS, Mukhammad Muryono,
mengungkapkan jika kenaikan muka dan intrusi air laut semakin terlihat
di banyak daerah peisisir di Tanah AIr.
"Kemudian setelah adanya kenaikan permukaan air laut, fenomena salinitas
ini tidak hanya di garis pantai, tapi juga sudah mulai masuk ke konteks
yang seharusnya tidak salin (tidak asin), tidak payau," jelas Muryono.
Lebih lanjut ia jelaskan, jika dampak permasalahan salinitas terhadap
ketahanan pangan akan tidak terhindarkan.
"Persoalannya kita enggak bisa lari dari salinitas itu. Jadi, mau enggak
mau kita bikin tanaman juga bisa beradaptasi di sana," tambah Muryono.
Menurutnya, permasalahan tersebut telah terjadi di Mongging, Pademawu,
Pamekasan. Intrusi air laut menjadi momok yang tidak terhindarkan.
Akibat intrusi air laut, air dari sumur hanya digunakan untuk mencuci
dan minum ternak. Selebihnya, masyarakat mengandalkan air dari jaringan
PDAM untuk konsumsi.
"Karakteristik sumur warga di sekitar sana sudah terkena intrusi air
laut. Jadi masuknya kadar garam dari arus laut, tapi lewat bawah tanah.
Itu masuk ke sumur-sumur warga. Di Monging, di sekitar sawah,
sumur-sumurnya itu enggak bisa untuk minum karena payau, sedangkan untuk
konsumsi air, mereka rata-rata PDAM," tambah Yogie.
Terkait dengan pertanian, ia mengungkapkan, jika petani mengakali air
sawah yang kini payau dengan cara pencucian dengan air irigasi. Meskipun
cara itu juga tidak sepenuhnya efektif, mengingat jadwal irigasi yang
hanya dua kali seminggu, yakni Senin dan Kamis. Selain itu, mereka juga
menghadapi kondisi lain, yaitu tanah yang terus menyerap air.
"Solusi saat ini yang dari masyarakat lokal ya pencucian. Sebatas itu.
Bisa pencucian irigasi atau menggunakan pompa langsung," terang Yogie.
Beberapa lahan juga mereka mengandalkan tadah hujan. Namun karena kadar
salin cukup tinggi, tanaman sering gagal panen karena mereka tidak
memungkinkan melakukan pencucian.
Lewat penelitian itu, tim ITS mencoba mencari solusi dengan uji coba di
satu petak lahan 20 meter x 30 meter. Terdapat empat varietas yang diuji
tanam, yakni Pokali, SL-478, Imparampat, dan IR29. Dua di antaranya
punya ketahanan salinitas, yakni Pokali dan SL-478.
Salinitas lahan terbagi menjadi tiga kategori, yakni rendah 2-8 dS/m,
menengah 8-15 dS/m, dan tinggi >15 dS/m, sedangkan di Mongging masih
berada dalam kategori sedang.
"Untuk lahan kami saat ini masuk lebih rendah dari Surabaya. Lahan yang
kami gunakan masih agak jauh dari pantai," ujar Yogie.
Padi di lahan salin memang tidak bisa sembarangan. Harus ada perawatan
ekstra, dari ameliorasi tanah atau perbaikan kesuburan tanah, penanaman,
pemupukan, pemberantasan hama, hingga pengairan.
Ameliorasi pada lahan salin bisa dilakukan dengan menambah bahan
amelioran, seperti kapur dengan jumlah 2-5 ton/ha. Lahan juga harus
dilakukan pengukuran salinitas dengan electrical conductively meter (EC
meter) untuk mengetahui tingkat salinitas tanah dan menentukan benih
padi yang sesuai.
Untuk pasokan air, disarankan mengganti air irigasi secara berkala untuk
menghindari kadar salinitas meningkat akibat penguapan. Air yang menguap
akan meninggalkan garam dalam tanah. Selain itu, juga disarankan
meminimalkan kandungan salinitas tanah yang berasal dari air irigasi.
Lebih disarankan membuat bak penampung air hujan atau dari sumber air
tawar yang lain.
Pemupukan juga diusahakan tidak memakai pupuk yang mengandung unsur
garam. Saat tanaman tumbuh, pengukuran mikro tetap dilakukan, meliputi
suhu, keasaman, salinitas, dan kelembaban.
Saat ini usia padi 95 hari dihitung dari hari setelah semai (HSS).
Beberapa di antaranya tumbuh cepat dengan kategori pertumbuhan baik,
seperti Pokali yang sudah mengisi bulir padi hampir 100%. Diperkirakan
akhir Juni atau awal Juli sudah bisa panen. Selanjutnya jenis SL dan IR.
Sementara itu, Imparampat masih awal berbunga, baru keluar malai.
Hasilnya, tanaman padi di Mongging sudah bisa memukau masyarakat
sekitar. (Zuq/M-1)
<https://www.facebook.com/share.php?u=https://mediaindonesia.com/read/detail/241257-untuk-sawah-yang-tahan-garam>
<https://twitter.com/home/?status=Untuk Sawah yang Tahan Garam
https://mediaindonesia.com/read/detail/241257-untuk-sawah-yang-tahan-garam
via @mediaindonesia>
*TAGS:*#Pertanian <https://mediaindonesia.com/tag/detail/pertanian>