Mana suara Jokowi? Mana si LBP? - Kanada Tak Berencana Ambil Kembali Sampah Plastiknya di Malaysia
Indonesiakirim balik sampah impor negara maju RonnaNirmala 17:11 WIB -Kamis, 13 Juni 2019 KementerianLingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bakal mengekspor balik 16 kontainerberisi sampah plastik impor yang diduga diselundupkan ke Surabaya dan Batam. MenteriLHK Siti Nurbaya Bakar menegaskan kiriman sampah plastik itu ilegal, makapihaknya tak segan menjatuhkan sanksi kepada negara pengirim. “Padadasarnya ketentuannya ada, oleh karena itu kita akan melakukan reekspor,” kataSiti, di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (12/6/2019). Keberadaanbelasan kontainer sampah plastik itu pertama kali ditemukan oleh organisasinirlaba lingkungan, Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton)bersama The Party Department, awal Mei 2019. Duaorganisasi ini mendapati ribuan ton sampah plastik itu masuk dengan caradiselundupkan melalui impor bahan baku kertas dari berbagai negara. Ecotonmencatat Amerika Serikat (AS) sebagai negara yang paling banyak menyelundupkansampah rumah tangga ke Indonesia. Setiaptahunnya, negara adidaya itu bisa menyelundupkan hingga 150 ribu ton sampahrumah tangga—seperti botol plastik, kaleng, kemasan makanan, hingga bekasproduk perawatan tubuh—ke Indonesia. DirjenPengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Berbahaya (PLSB3) KLHK RosaVivien Ratnawati menjelaskan belasan kontainer sampah plastik itu terbagimenjadi dua kloter. Sebanyak 11 kontainer tiba di Surabaya, Jawa Timur, sisanyadatang ke Batam, Kepulauan Riau. Viviendalam detikcom menjelaskan, sampah plastik di Batam diselundupkanmelalui celah impor scrap plastik. Impor tersebut memang diizinkan,namun pihak perusahaan harus memenuhi sejumlah ketentuan seperti scrap yangdikirim harus bersih dan pihak pengimpor wajib memiliki alat pengolahnya. Sayangnya,saat kontainer tersebut dibuka, petugas bea cukai justru menemukan scrap plastiktercampur dengan sampah dan terkontaminasi limbah B3. Sementaradi Surabaya, Vivien mengatakan penyelundupan sampah menggunakan modus impor scrapkertas. “Diadi dalamnya ditemukan scrap kertas tercampur plastik dari sampahdomestik; ada popok, sepatu, kayu, bekas kemasan bahan kimia dan bekas kemasanoil. Dan ini belum dicek untuk limbah B3-nya,” kata Vivien. MenteriSiti tidak memerinci apa sanksi yang akan dijatuhkan KLHK kepada negarapengirim, pun menerangkan kapan reekspor bakal dilakukan. Namun pihaknyamengakui bahwa kejadian ini bukanlah yang pertama kali. “Sebetulnyakita melakukan reekspor bukan yang pertama kali. Tahun 2016 itu sampai puluhankontainer,” sambung Siti. Sitiberanggapan, kejadian ini berulang lantaran adanya celah hukum dalamUndang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah dan PeraturanMenteri Perdagangan (Permendag) Nomor 31/M-DAG/PER/5/2016 tentang impor LimbahNonbahan Berbahaya dan Beracun (B3). Sitimengaku sudah berulang kali mengusulkan revisi dua peraturan tersebut, namunprogresnya masih berjalan lambat. “Kitasudah mengusulkan. Kita minta dalam usulan revisi itu jangan ada lagi wilayahabu-abu. Jadi HS (harmonized system) code yang untuk kontrol beacukai harus spesifik, jangan ada yang lain-lain. Kalau ada lain-lain, yanglain-lain lagi masuk,” tegas Siti. Adapunprosedur reekspor sampah plastik harus mengacu pada Peraturan KementerianPerdagangan (Permendag) 31/2016 tentang Ketentuan Impor Limbah Non BahanBerbahaya (B3) dan Beracun dan hasil Konvensi Basel tentang B3. Dengankata lain, proses pengembalian ini turut melibatkan pihak lain sepertiKementerian Perdagangan, Bea Cukai, serta Kementerian Luar Negeri. Indonesiasudah kaya dengan sampah plastik, meski tanpa adanya kiriman puluhan kontainertersebut. Tahun 2015, Jambeck Research Group mencatat Indonesia sebagaipenyumbang sampah plastik di laut kedua di dunia, setelah Tiongkok. Sampahplastik yang tidak terkelola (mismanaged plastic waste) di Indonesiaberjumlah 3,22 juta ton per tahun, di bawah Tiongkok sebesar 8,82 juta tonsampah plastik per tahun. Padatahun 2025, sampah plastik tak terkelola di Indonesia diprediksi bisa mencapai7,4 juta ton per tahun. SementaraBadan Pusat Statistik (BPS) mencatat peningkatan impor sampah plastik Indonesiamencapai 141 persen pada 2018. Kenaikan itu setara dengan 283.152 ton. Angkaini merupakan puncak tertinggi impor sampah plastik selama 10 tahun terakhir.Pada tahun 2013, impor sampah plastik yang masuk ke Indonesia tercatat sebanyak124.433 ton. Sebaliknya,peningkatan impor sampah plastik tidak dibarengi dengan angka ekspor, malahanpada 2018 angka ekspor menurun 48 persen. Senasibdengan Malaysia Perkaraekspor sampah plastik, Indonesia tak sendiri. Malaysia dan Tiongkok turutmengalami persoalan sama. Namun Tiongkok memberlakukan kebijakan agresifmelalui pembatasan impor sampah plastik secara ketat sejak Maret 2018. Kebijakanitu yang disinyalir menjadi penyebab mengapa sampah-sampah plastik dari negaramaju lari ke beberapa negara ASEAN. MenteriEnergi, Teknologi, Ilmu Pengetahuan, Lingkungan, dan Perubahan Iklim MalaysiaYeo Bee Yin mendesak negara maju menghentikan perlakuan ini. “Initidak adil dan tidak manusiawi. Kami akan kembalikan sampah-sampah itu kenegara asalnya tanpa ampun. Malaysia tidak akan menjadi TPA bagi dunia,” ucapBee Yin, mengutip The Guardian. Dataresmi menunjukkan, impor sampah plastik ke Malaysia meningkat tiga kali lipatsejak 2016, menjadi 870.000 ton pada tahun 2018. Lonjakanitu memicu pesatnya pertambahan jumlah fasilitas daur ulang yang sebagian besarberoperasi tanpa izin atau lisensi, juga tanpa memperhatikan standar pengolahanlimbah lingkungan yang berlaku. Yeobertekad untuk menindak sejumlah fasilitas daur ulang dan aktivitas imporilegal, dan menyebut mereka yang terlibat dalam impor sampah itu sebagai‘pengkhianat.’
