*Blok Masela terletak di Maluku adalah sumber gas terbesar di Asia Tenggara
(https://www.asiatimes.com/2019/06/article/royal-dutch-shell-to-leave-se-asias-largest-gas-field/
<https://www.asiatimes.com/2019/06/article/royal-dutch-shell-to-leave-se-asias-largest-gas-field/>
*

*Pemerintah daerah Maluku meminta 10% dari hasil Masela untuk propinsi
Maluku, tetapi hingga kini tidak ada berita jelas dari Jakarta.
Jangan-jangan permohonan ini dianggap sepi oleh rezim neo-Mojopahit, karena
biasanya seperti dikatakan pepatah Melayu :”dimana ada gula disitu
berkerumun semut. Kilang-kilang gas Masela diberitakan akan buat terapung,
ada juga yang bilang mau dibangun di Banyuwangi. Untuk dibangun
kilang-kilang gas untuk disalah satu pulau pada sumber gas masih dalam
proses untuk disetujui oleh Jakarta. Harapan gas Blok Masela memberikan
sumbangan positif untuk Maluku, jangan-jangan hanya tinggal impian rakyat
Maluku dan tetap menjadi wilayah yang rakyatnya miskin melarat. *


*Hal ini bisa dilihat dari apa yang terjadi di Aceh, yaitu sesuai
perjanjian Helsinki antara GAM dan pemerintah RI diadakan bagi hasil sekian
prosen dari hasil kekayaan Aceh, tetapi ternyata Aceh, rakyat Aceh
sekalipun mempunyai sumber gas Aron, tidak ada pembagian hasil, malah
diusulkan untuk membuat pipa ke terminal gas di Medan. Gas Aron ini sudah
diambil sejak zaman Soeharto. Sesuai BPS dinyatakan Aceh adalah yang
termiskin di Sumatera, dan kalau termiskin di Sumatera berarti juga di
NKRI.*


*Papua mempunyai berbagai sumber alam, jumlah rakyatnya sedikit. Dua sumber
alam terkenal yaitu Freeport dan Gas di teluk Bintuni (*


*dapat be rapa prosen dari hasil Masela, jangan-jangan hanya omong kosong
belaka seperti sedia kala, sebab seperti dimaklumi apa yang dikatakan
pepatah Melayu kuno: “dimana ada gula disitu berkerumun semut untuk
menikmati”, dalam perjanjian Helsinki antara GAM dan pemeritah Jakarta
dalam mana ditetapkan pembagian hasil 40% untuk Aceh, sampai saat ini
perjanjian tersebut tidak ada kenyataannya dan Aceh tetap menjadi wilayah
termiskin di NKRI. *


*Di Papua di teluk Bituni diambil gas dari sumber yang dinamakan Tangguh (*
https://mediaindonesia.com/read/detail/186280-cadangan-gas-
<https://mediaindonesia.com/read/detail/186280-cadangan-gas-bumi-teluk-bintuni-capai-237-triliun-kaki-kubik>
bumi-teluk-bintuni-capai-237-triliun-kaki-kubik
<https://mediaindonesia.com/read/detail/186280-cadangan-gas-bumi-teluk-bintuni-capai-237-triliun-kaki-kubik>
).* Dari tempat ini diekspor gas ke Fujian 2,6milion ton per tahun untuk
waktu 25 tahun, ke Pusan (Korea Selatan 800.000 ton/tanun selama 20 tahun,
Taiwan 550.000 ton/tahun selama 20 tahun etc. Rakyat Papua termasuk yang
paling miskin. *


https://www.jawapos.com/ekonomi/energi/27/05/2019/blok-masela-difinalisasi-esdm-berharap-ekonomi-maluku-tumbuh-positif/


*Blok Masela Difinalisasi, ESDM Berharap Ekonomi Maluku Tumbuh Positif*

ENERGI <https://www.jawapos.com/ekonomi/energi/>

27 Mei 2019, 20:07:12 WIB

*JawaPos.com –* Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melakukan
finalisasi Plan Of Development pertama (POD-1) lapangan Abadi, Wilayah
Kerja (WK) Masela dengan INPEX Corporation. Pertemuan ini menjadi titik
awal pembahasan investasi yang akan dilakukan untuk pengembangan proyek WK
Masela.

Sebagaimana diketahui, WK blok Masela telah diputuskan sebagai proyek
strategis nasional sejak 2018 lalu. Pasca penetapan itu, pemerintah
Indonesia langsung melakukan upaya agar proyek Abadi dapat direalisasikan
dengan cepat.

“Proyek Abadi menjadi tumpuan pergerakan ekonomi di wilayah Maluku dan
sekitarnya, dan diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi di
kawasan timur Indonesia,” kata Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto dalam
keterangan tertulis yang diterima JawaPos.com, Senin (27/5).

Kementerian ESDM dan INPEX Corporation juga telah menyepakati sejumlah
langkah strategis yang akan ditempuh ke depannya. Untuk pengembangan
Lapangan Abadi, Wilayah Kerja Masela, pemerintah membutuhkan total
investasi dengan estimasi sekitar USD 18-20 miliar.

Angka tersebut untuk skema darat dan cadangan terbukti sebesar 10,7 triliun
kaki kubik (Tcf). Selain itu, untuk keseluruhan pengembangan di sumur
pengembangan, fasilitas produksi, hingga kilang LNG-nya.

Menurut Dwi, biaya pengembangan itu berada di kisaran USD 6-7 per setara
barel minyak (boe) atau 20 persen lebih murah dibandingkan biaya di
offshore sebesar USD 8-9 per boe.

“Pemerintah terus bekerja keras supaya Masela dapat segera beroperasi dan
memberikan manfaat terbaik untuk negara dan rakyat Indonesia,” pungkasnya.

Adapun pertemuan tersebut dipimpin langsung oleh Menteri Energi dan Sumber
Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan bersama Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto
didampingi Duta Besar Indonesia untuk Jepang Arifin Tasrif. Mereka bertemu
dengan Chief Executive Officer INPEX Corporation Takayuki Ueda di kantor
pusat INPEX Corporation, Tokyo pada Selasa, (27/5).

Pertemuan juga membahas pembagian hasil yang optimal antara Pemerintah RI
dan Kontraktor Kontraktor Kerja Sama. Revisi POD-1 Lapangan Abadi
diharapkan dapat ditandatangani pada akhir semester-I 2019.

Editor : Mohamad Nur Asikin

Reporter : Igman Ibrahim

Kirim email ke