Studi Intoleransi Indonesia: Makin Sekuler Seseorang, Ia Makin Toleran

| 
| 
| 
|  |  |

 |

 |
| 
|  | 
Studi Intoleransi Indonesia: Makin Sekuler Seseorang, Ia Makin Toleran

www.theconversation.com

Sebuah studi intoleransi Indonesia menunjukkan, bahwa semakin sekuler 
seseorang, maka semakin toleran orang itu....
 |

 |

 |





Sumber www.theconversation.comPosted on June 14, 2019

Sebuah studi intoleransi Indonesia menunjukkan, bahwa semakin sekuler 
seseorang, maka semakin toleran orang itu. Penelitian ini menemukan bahwa 
persepsi ancaman, ketidakpercayaan, sekularisme, fanatisme agama, dan media 
sosial dapat memicu intoleransi secara langsung. Responden yang merasa terancam 
dan tidak percaya pada agama dan etnis lain, cenderung tidak toleran. 
Kecenderungan yang sama juga ditemukan pada mereka yang fanatik terhadap agama 
dan pengguna media sosial akut.

Oleh: Sari Seftiani (The Conversation)
Intoleransi telah menjadi salah satu topik yang paling banyak dibicarakan di 
Indonesia—negara sekuler dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia—seiring 
meningkatnya kasus intoleransi di seluruh negeri.
Para peneliti dan organisasi masyarakat sipil telah melakukan berbagai survei 
untuk memahami intoleransi dalam masyarakat Indonesia yang beragam. Tetapi 
kebanyakan dari mereka hanya menunjukkan persentase orang yang tidak toleran di 
antara penduduk Indonesia.
Studi deskriptif ini hanya memberikan pola umum intoleransi di Indonesia. 
Mereka tidak mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan praktik intoleran.
Kita perlu penelitian tentang intoleransi yang tidak hanya angka, untuk mencari 
tahu mengapa dan bagaimana orang menjadi intoleran, dan untuk menemukan solusi.
Dengan menggunakan metode analisis statistik yang disebut pemodelan persamaan 
struktural (SEM), tim saya dan saya mengidentifikasi bahwa identitas agama dan 
etnis yang kuat adalah faktor dalam seseorang yang memiliki sikap intoleran.
METODE DI LUAR STATISTIKPeneliti yang memiliki minat dalam masalah intoleransi 
jarang menggunakan SEM—metode yang dapat menunjukkan hubungan sebab akibat 
antara beberapa variabel dependen dan variabel independen.
Metode ini biasanya diterapkan pada penelitian tentang pemasaran, motivasi, dan 
tingkat kepuasan terhadap fasilitas kesehatan. Peneliti ilmu sosial juga 
menggunakannya untuk mengukur sesuatu yang abstrak.
Tetapi akan bermanfaat untuk menggunakan metode ini untuk mengisi kekosongan 
yang ditinggalkan oleh studi deskriptif. Dengan menggunakan SEM, kita dapat 
mengidentifikasi dan memahami faktor-faktor yang menyebabkan intoleransi, dan 
sejauh mana berbagai faktor mempengaruhi tingkat intoleransi.
Ini juga dapat digunakan untuk mengukur sesuatu yang abstrak—seperti 
toleransi—dengan menggunakan indikator untuk mewakili konsep.
Untuk penelitian kami, kami menggunakan indikator seperti penolakan pemimpin 
dari berbagai agama dan kelompok etnis, dan penolakan tetangga dengan agama dan 
etnis yang berbeda. Setelah kami mengidentifikasi indikator ini, kami dapat 
mengukur variabel dan menentukan hubungannya.
TEMUAN KAMIPada tahun 2018, kami mewawancarai 1.800 responden di sembilan 
provinsi di seluruh Indonesia. Kami memilih responden yang memenuhi syarat 
untuk memilih dalam pemilu, untuk mengukur intoleransi terkait pandangan mereka 
tentang kandidat pemilu dengan agama dan etnis yang berbeda. Oleh karena itu, 
kami menggunakan multistage random sampling untuk memperoleh sampel penduduk 
berusia 17-64 tahun atau sudah menikah, yang menurut hukum Indonesia berhak 
memilih.
Dari analisis kami, kami mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan sikap 
intoleran: identitas agama dan fanatisme, etnis, ketidakpercayaan, sekularisme, 
ancaman yang dirasakan, dan media sosial.

Karakteristik responden. (Sumber: The Conversation)
Penelitian kami menemukan bahwa persepsi ancaman, ketidakpercayaan, 
sekularisme, fanatisme agama, dan media sosial dapat memicu intoleransi secara 
langsung.
Responden kami yang merasa terancam dan tidak percaya pada agama dan etnis 
lain, cenderung tidak toleran. Kecenderungan yang sama juga ditemukan pada 
mereka yang fanatik terhadap agama dan pengguna media sosial akut.
Penelitian ini menunjukkan ketidakpercayaan atas perbedaan agama adalah salah 
satu aspek utama yang berkontribusi terhadap intoleransi. Responden kami 
mengatakan bahwa orang-orang dari agama yang berbeda tidak dapat dipercaya dan 
mereka cenderung mengeksploitasi orang lain ketika mereka berkuasa.
Para responden ini juga merasa terancam ketika orang-orang yang berbeda agama 
menjadi pemimpin dan lebih kuat secara ekonomi dan politik.
Penelitian ini juga menemukan bahwa semakin sekuler seseorang, maka semakin 
toleran orang itu.
Kami mengidentifikasi orang-orang sekuler ini tidak hanya berdasarkan pada 
nilai-nilai agama mereka, tetapi juga kepercayaan mereka pada peran negara 
untuk melindungi hak-hak warga negara dengan berbagai agama.
Kami menemukan bahwa 56,6 persen responden kami dapat menerima kandidat dengan 
agama berbeda untuk mencalonkan diri untuk jabatan pemerintah. Sebagian besar 
dari mereka juga tidak menilai latar belakang agama dan etnis kandidat dalam 
pemilihan presiden dan daerah.

Visualisasi hasil SEM memodelkan intoleransi dan radikalisme. (Sumber: The 
Conversation)
PEMBUATAN KEBIJAKAN BERBASIS PENELITIANPenelitian kami menunjukkan bahwa SEM 
dapat digunakan sebagai alternatif untuk mengeksplorasi dan memahami masalah 
intoleransi.
Kami dapat menggunakan temuan ini sebagai dasar untuk membuat kebijakan untuk 
mengatasi intoleransi di Indonesia.
Mencari tahu berapa banyak orang dalam masyarakat yang memiliki sikap intoleran 
adalah penting, tetapi lebih penting lagi untuk menggali lebih dalam untuk 
memahami alasannya.
Sari Seftiani adalah peneliti di Pusat Penelitian Kependudukan, Lembaga Ilmu 
Pengetahuan Indonesia (LIPI).
Keterangan foto utama: Puluhan ribu Muslim Indonesia memperingati protes tahun 
2016 yang menargetkan mantan Gubernur Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, di 
Jakarta pada 2 Desember. (Foto: Reuters)


Kirim email ke