Setiap angka yang disajikan lembaga negara memang dimaksudkan sebagai data acuan bersama, untuk kepentingan bersama. Kalau angkanya bertentangan dengan realita di masyarakat (biasanya angka kemiskinan) bisa ditebak itu cuma untuk kepentingan citra pemerintah atau kelompok yang berkuasa atas pemerintah. Begitu juga sajian angka oleh KPU pada pilpres 2019. Dimaksudkan sebagai data acuan tentang kemenangan capres dari unsur pemerintah sekalipun bertentangan dengan realita kampanyenya di berbagai tempat yang sepi pengunjung. Rapopo, sebelum mengupas realitas politik dalam pilpres 2019 mari kita beriman, percaya, pada angka di atas kertas terbitan KPU ini: Daftar Pemilih Tetap (DPT) : 192.828.520 orang Perolehan capres 01...................85.607.362 suara Perolehan capres 02..................68.650.239 suara Jelas dan gamblang kesimpulannya adalah: - perolehan suara capres 01 tidak mencapai 50% DPT - lebih dari 107 juta Rakyat tidak memilih capres 01 - selisih suara 01 dan 02 nyaris = DPT siluman itu Nah, tanpa harus ditambah realitas di luar kertas, data KPU ini sudah sah untuk menyediakan koper dan tiket pesawat pulang ke Solo. Tetapi kalau angka 85 juta itu tetap dilegalkan sebagai bukti kemenangan maka legitimasi kekuasaannya pasti sangat lemah. Sebab, de facto ada lebih dari 107 juta Rakyat yang tidak memilih capres 01. --- lusi_d@... wrote: Analisis dan pandangan politik Adhie Massardi, mantan jurubicara Presiden Gusdur mulai nampak kebenarannya. Makin hari makin jelas bahwa Prabowo-Sandi yang mengalahkan Jokowi-Makruf dan menang dalam proses pemilihan Presiden Indonesia periode 2019-2024.
Tentu saja hal ini akan menjadi beban berat bagi kaum fanatisi Jokowi. Namun demikian setiap orang berhak belajar dari sejarah. Misalnya dengan membaca kembali ulasan yang saya tayangkan berikut ini: Kamis, 17 Ramadhan 1440 H / 23 Mei 2019 Home » Berita » Berita Nasional Adhie Massardi: Prabowo-Sandi Menang Minimal 55 Persen Eramuslim.com – Koordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB), Adhie Massardi yakin pasangan Capres dan Cawapres 02 Prabowo-Sandi memperoleh 55 persen suara mengalahkan pasangan Jokowi-Ma’ruf pada Pilpres 2019 ini. Hal tersebut diyakini melihat Pilpres 2014 lalu di mana Prabowo berpasangan dengan Hatta Rajasa memperoleh suara sebesar 46,85 persen. Sementara, di Pilpres 2019 ini Adhie yakin suara Prabowo bertambah karena berpasangan dengan Sandiaga Salahuddin Uno. “Jadi dalam hitungan politik saya, minimal Prabowo itu dapat 55 persen minimal, masa dari penampilan begitu, dukungan begitu banyaknya menjadi lebih buruk dari versi KPU hitungan sekarang, kan nggak masuk akal,” ucap Adhie Massardi di diskusi publik yang bertema ‘Membongkar Modus Operandi Kecurangan Pemilu’ di Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (9/5). Hal tersebut diyakini melihat Pilpres 2014 lalu di mana Prabowo berpasangan dengan Hatta Rajasa memperoleh suara sebesar 46,85 persen. Sementara, di Pilpres 2019 ini Adhie yakin suara Prabowo bertambah karena berpasangan dengan Sandiaga Salahuddin Uno. “Jadi dalam hitungan politik saya, minimal Prabowo itu dapat 55 persen minimal, masa dari penampilan begitu, dukungan begitu banyaknya menjadi lebih buruk dari versi KPU hitungan sekarang, kan nggak masuk akal,” ucap Adhie Massardi di diskusi publik yang bertema ‘Membongkar Modus Operandi Kecurangan Pemilu’ di Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (9/5). Tak hanya itu, pada 2014 Jokowi juga mendapatkan dukungan dari pendukung mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Sehingga suara Jokowi menjadi banyak karena dampak dari pendukung Jusuf Kalla dan Ahok. “Pada 2019 Yusuf Kalla off dari kontestasi. Kemudian adalagi yang mendorong pasangan Jokowi-JK 2014 ini adalah Ahok dengan faktor non-muslim dan etnis China yang didorong kesitu,” terangnya Namun pada Pilpres 2019 ini, Jusuf Kalla tidak ikut dalam kontestasi sehingga dinilai mengurangi jumlah dukungannya untuk mendukung Jokowi. Tak hanya itu, setelah Ma’ruf Amin dipilih menjadi pendamping Jokowi juga berpengaruh dari dukungan para pendukung Ahok yang diduga kecewa lantaran sosok Ma’ruf Amin yang membuat Ahok tidak dipilih mendampingi Jokowi. “Tetapi 2019 ini kan ada kekecewaan yang luar biasa besar juga dari pendukung Ahok dan non-muslim dan etnis Tionghoa terutama karena pasangan Joko Widodo ternyata Ma’ruf Amin yang dalam pandangan mereka merupakan otak dari yang menyingkirkan Ahok, jadi kemungkinan berkurang,” jelasnya. Jadi menurut Adhie, pasangan Jokowi-Ma’ruf pada kontestasi Pilpres 2019 ini harusnya hanya mendapatkan suara sebesar 40-42 persen “Jadi kalau dihitung realistis politiknya dengan angka kemudian yang muncul didalam pemilu itu dugaan saya hitungan saya maksimal pasangan Jokowi-Ma’ruf ini 40 sampai 42 persen,” tuturnya. Sehingga, jika dilihat perhitungan KPU sementara di Situng pada situs KPU yang memenangkan pasangan Jokowi-Ma’ruf diyakini adanya masalah di KPU. “Karena yang diyakini dalam ilmu politik itu adalah pemilu itu ekspresi politik keinginan masyarakatnya, angka politik juga keinginan masyarakat. Kalau angka politik ini tidak nyambung dengan realitas politiknya itu pasti ada masalah,” tandasnya. [ml]
