Minggu 30 Juni 2019, 11:41 WIB
Umat Hindu: Tudingan 'Arabisasi' Zalimi Masyarakat Banyuwangi
Ardian Fanani - detikNews
Umat Hindu: Tudingan Arabisasi Zalimi Masyarakat BanyuwangiTokoh lintas
agama kecam tudingan arabisasi di Banyuwangi/Foto: Ardian Fanani
*Banyuwangi*- Sebelumnya beredarnya tulisan seorang warga luarBanyuwangi
<https://www.detik.com/tag/banyuwangi>yang berisi tudingan 'arabisasi'.
Tudingan itu ditujukan kepada gagasan halal tourism yang beberapa tahun
lalu dicetuskan Pemkab Banyuwangi.
Kini tudingan itu mendapat reaksi keras dari para tokoh lintas agama dan
budayawan. Bahkan, Umat Hindu menilai tulisan berjudul 'Di Tanah Hindu
Itu, Arabisasi Dipaksakan Tumbuh' tersebut menzalimi seluruh masyarakat
Banyuwangi.
Sekretaris Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Banyuwangi I Komang
Sudira menegaskan, penyebaran tulisan itu merupakan kezaliman untuk
masyarakat Banyuwangi. Tidak ada umat Hindu di Banyuwangi yang
berpikiran seperti maksud dalam tulisan tersebut.
*Baca juga:*Resah Isu Arabisasi, Tokoh Agama Minta Pemkab Banyuwangi
Bersikap
<https://travel.detik.com/read/2019/06/30/100132/4605591/1382/resah-isu-arabisasi-tokoh-agama-minta-pemkab-banyuwangi-bersikap>
Umat Hindu Banyuwangi selama ini hidup penuh toleransi dengan umat
beragama lainnya. Tidak ada intimidasi, tidak dikekang, dan bahkan
jajaran pimpinan Pemkab Banyuwangi kerap mendatangi undangan acara-acara
Umat Hindu.
"(Tulisan) itu dibangun untuk kepentingan pribadi. Entah siapa yang
menyuruh, di Umat Hindu tidak ada semacam itu. Itu sudah menzalimi
masyarakat Banyuwangi. Kami percaya dengan hukum karmapala. Saya harap
tidak perlu khawatir, kalau berlaku jahat ingin merusak kerukunan
Banyuwangi, maka mereka akan menerima akibatnya," ujarnya dalam
pertemuan bersama para tokoh lintas agama dan budayawan di Rumah Adat
Osing, Pendopo Banyuwangi, Sabtu (29/6).
Menurut Komang, pihak yang menulis dengan tudingan 'Arabisasi' tidak
memahami Banyuwangi. Wilayah yang justru malah merayakan perbedaan
dengan berbagai atraksi seni-budaya khas kearifan lokal berbagai suku
yang hidup di kabupaten tersebut. Mulai Suku Osing, Suku Bugis, Suku
Madura, Suku Jawa dan masyarakat Tionghoa.
"Di Banyuwangi ini seni-budaya dirayakan semarak, dari Suku Osing sampai
masyarakat Tionghoa ada festivalnya. Semuanya dirayakan tanpa memandang
agama. Inilah cara kami di Banyuwangi untuk guyub, jadi tidak akan
mempan dipecah belah orang luar," imbuh Komang.
*Baca juga:*Pemkab Banyuwangi: Wisata Halal Urusan Segmen Pasar, Bukan
Arabisasi
<https://travel.detik.com/read/2019/06/30/090023/4605556/1382/pemkab-banyuwangi-wisata-halal-urusan-segmen-pasar-bukan-arabisasi>
Seperti diketahui, di media sosial telah beredar tulisan yang menuding
ada 'Arabisasi' dalam pengembangan pariwisata Banyuwangi hanya dengan
merujuk pada pengembangan halal tourism di pantai kecil yang ada di
Banyuwangi. Padahal di Banyuwangi, tradisi dan ritual adat khas Suku
Osing begitu semarak digelar, bahkan masuk dalam kalender Banyuwangi
Festival yang difasilitasi PemkabBanyuwangi
<https://www.detik.com/tag/banyuwangi>.
"Halal tourism itu hanya strategi marketing semata. Tidak ada urusan
dengan Arabisasi. Saya menyesalkan ini karena kita mengembangkan
pariwisata Banyuwangi ini dengan kerja keras dan strategi, sekarang
orang yang tidak tahu apa-apa seenaknya sendiri ngomong Arabisasi," ujar
Kepala Dinas Pariwisata Banyuwangi, MY Bramuda.
"Coba dipikir, kalau orang kemudian batal ke Banyuwangi, warung-warung
yang dulu dibanjiri wisatawan, rezekinya berkurang. Orang kadang asal
menulis, tanpa berpikir dampaknya ke masyarakat luas yang telah
merasakan hasil pengembangan pariwisata Banyuwangi," pungkas Bramuda.
*(sun/bdh)*
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com