PENGANUGERAHAN GELAR DOKTOR KEHORMATAN ITB Kepada Theodore Permadi Rachmat. Aula Barat ITB, 3 Juli 2019.
_______________________ KARAKTER DAN MINDSET SEBAGAI PENENTU KEBERHASILAN DAN KELANGSUNGAN BANGSA Yang terhormat, Pimpinan dan anggota Majelis Wali Amanat ITB, Pimpinan dan anggota Senat Akademik ITB, Rektor dan Wakil Rektor ITB, Pimpinan dan anggota Forum Guru Besar ITB, Ketua dan Anggota Tim Promotor, Sahabat dari Komite Ekonomi Nasional, Sahabat dari Alumni SMA Santo Aloysius, Sahabat dari Alumni Departemen Teknik Mesin ITB Angkatan ’61, Sahabat dari bidang bisnis, Sahabat dari berbagai komunitas, Keluarga yang amat saya cintai, Serta para undangan dan hadirin sekalian. Selamat pagi, semoga karunia Tuhan Yang Maha Esa beserta kita semua. Sebelum saya mulai, saya harus berterus terang, bahwa menyiapkan pidato pagi ini adalah salah satu yang paling sulit. Berdiri di sini, di depan jajaran pendidik, praktisi, tokoh-tokoh bisnis dan tokoh-tokoh bangsa, membuat saya sulit memilih hal apa yang perlu saya sampaikan. Terlebih lagi, seumur hidup saya tidak pernah membayangkan berdiri di mimbar ini, untuk tujuan seperti ini. Menjadi sebuah kehormatan bagi saya, dan menjadi momen yang tidak akan pernah saya lupakan sepanjang hidup saya. Saya hanya berharap agar paparan sederhana yang akan saya sampaikan ini berkenan dan bermanfaat bagi Bapak dan Ibu sekalian. KELUARGA DAN MASA KECIL Bapak dan Ibu yang saya hormati, Izinkan saya memulai pidato yang berjudul “KARAKTER DAN MINDSET SEBAGAI PENENTU KEBERHASILAN DAN KELANGSUNGAN BANGSA” ini, dengan bercerita sedikit tentang masa kecil dan keluarga saya. Saya lahir di Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Majalengka, sekitar 75 tahun yang lalu. Saya adalah anak ke-2 dari 3 bersaudara. Ayah saya bernama Raphael Adi Rachmat, dan Ibu saya bernama Augustine. Saya memiliki satu kakak, Alm. Benny Rachmat, dan satu adik, Ibu Linda Rachmat. Di usia 28 tahun, saya menikah dengan Ibu Like Rani Imanto. Dari pernikahan kami, Tuhan mengaruniakan 3 anak yang sangat saya cintai dan banggakan: Christian Ariano Rachmat, Arif Patrick Rachmat, dan Ayu Rachmat. Sebelum berbicara mengenai banyak hal, izinkan saya untuk berterima kasih yang tulus kepada istri saya, Ibu Like, atas dukungan, pengertian, dan doa yang tak pernah putus sepanjang perjalanan hidup kami. Dan kepada Ario, Arif, dan Ayu, yang senantiasa mengindahkan nasihat orang tuanya dan terus menjaga kehormatan dan nilai-nilai luhur keluarganya. Bapak dan Ibu sekalian, Semasa kecil saya, kami relatif lebih beruntung secara ekonomi. Saya bersyukur Tuhan menganugerahi kami dengan hidup yang berkecukupan. Lebih bersyukur lagi, karena kedua orang tua saya mencontohkan cara hidup yang sangat sederhana. Tidak berlebihan, tidak memanjakan kami sebagai anak. Kala itu, saya mengamati banyak kesenjangan sosial yang terjadi di luar keluarga saya. Banyak sekali keluarga dan anak-anak yang tidak seberuntung saya. Dari mengamati, mulai muncul keinginan dalam diri saya, untuk suatu saat bisa membantu orang lain. Saat itu, orang tua saya memiliki usaha. Skalanya waktu itu belum terlalu besar, tapi mereka lakukan dengan sungguh-sungguh. Saya mencatat berbagai perilaku orang tua sebagai pebisnis, khususnya dalam hal menjaga reputasi. Orang tua saya selalu mengingatkan bahwa kami, anak-anaknya harus habis-habisan menjaga reputasi, walaupun itu berisiko pada kurangnya income bagi keluarga di saat-saat susah. Keluarga, mengajarkan arti penting sifat peduli, kesederhanaan hidup, memaafkan, dan menjaga nama baik. MASA-MASA BELAJAR Masa kecil sampai kuliah saya jalani di kota ini, kota Bandung, yang oleh seorang psikolog Belanda, MAW Brouwer, disebut sebagai “tempat yang diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum”. Selepas dari SMP dan SMA Santo Aloysius, saya melanjutkan sekolah ke Departemen Teknik Mesin ITB, dulu bernama Technische Hoogeschool te Bandoeng. Selama belajar di ITB, saya bersyukur mendapatkan bimbingan dari para maestro yang kompeten dan menginspirasi: Prof. Ir. Wiranto Arismunandar, Alm. Prof. Samudro, Alm. Prof. Oetarjo Diran, Alm. Prof. Dr. H. Mathiaas Aroef, Alm. Prof. Ir. Partosiswojo, dan banyak lagi dosen-dosen hebat namun tidak bisa saya sebut satu persatu. Untuk semua pendidik ITB, saya mengucapkan terima kasih yang tak terhingga. Mereka mengajar dan melatih saya untuk menjadi pribadi yang selalu haus akan ilmu pengetahuan dan berpikir logis serta sistematis. Mereka juga mengajarkan kepada saya untuk selalu mencari, memahami, serta menghormati fakta maupun data, sebelum mengemukakan pendapat ataupun dalam mengambil keputusan.. Dan yang terutama, mereka selalu berpesan agar kami selalu berupaya untuk memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk peningkatan kualitas kehidupan. PEMBANGUNAN KARAKTER Bapak dan Ibu sekalian… Terus terang, saya bukan tipe orang yang rajin belajar. Proses pendidikan di Departemen Teknik Mesin ITB tidak sepenuhnya mulus. Banyak juga rintangannya, termasuk yang masih saya ingat, saya harus mengulang ujian sebuah mata kuliah yaitu mata kuliah Teknik Pengatur, sampai 17 kali sebelum dinyatakan lulus. Saya bersyukur, ditangani langsung oleh para pendidik yang memiliki jiwa mendidik yang luar biasa, dan memiliki standar yang tinggi. Semua itu mengasah saya untuk tumbuh menjadi pribadi yang adaptif, tidak mudah menyerah, dan berkomitmen terhadap pilihan hidup saya. Pendidikan di ITB juga mengajarkan saya untuk menghormati dan menegakkan integritas melalui fakta dan data, mengukur dan menimbang sebelum berpendapat atau memutuskan, tidak semata-mata bergantung pada opini atau informasi yang belum tentu benar. ITB mengajarkan kepada saya untuk memiliki nilai kepeloporan, kejuangan, pengabdian, dan keunggulan. Keempat nilai itu, sungguh selaras dengan nilai pribadi saya. Secara sadar maupun tidak, sepanjang hidup saya, saya mengamalkan keempat nilai luhur tersebut. Sebagai sebuah institusi pendidikan terkemuka, saya amat yakin bahwa ITB akan terus berada di garis depan untuk membangun karakter generasi penerus. Sangat besar harapan saya agar ITB terus berjuang menjadi entitas pendidikan yang IMBANG, BERKUALITAS, dan PRODUKTIF. IMBANG dalam arti terus mencetak generasi penerus yang tidak hanya pandai secara intelektual, kompeten secara teknis, namun juga matang sebagai pribadi dan kokoh prinsip-prinsip kebangsaannya. Kematangan pribadi yang saya maksud adalah beberapa karakter berikut ini. Yang pertama: RENDAH HATI. Yang kedua: memiliki GRIT. Istilah GRIT dilontarkan oleh Angela Duckworth - seorang psikolog dari Amerika untuk menggambarkan dimilikinya semangat yang menyala-nyala (passion) dan daya tahan dalam menghadapi berbagai masalah (perseverance). Yang ketiga: KEINGINAN UNTUK MEMBERI ATAU BERBAGI (GIVERS) - bukan semata-mata keinginan untuk menerima atau mengambil (TAKERS). Pendidikan karakter seperti ini kadang kita nomorduakan, padahal kita semua tahu, bahwa manusia-manusia unggul adalah manusia yang tidak hanya pintar tapi juga berkarakter. Tanpa karakter yang baik dan kokoh, bangsa ini akan kesulitan mewujudkan cita-cita luhurnya ... Dalam situasi seperti sekarang ini, lembaga pendidikan juga berperan sebagai palang pintu pencetak generasi penerus yang cinta pada bangsanya dan setia pada prinsip-prinsip kebangsaan yang telah ditetapkan oleh para pendiri bangsa. Lembaga pendidikan harus menyatakan sikap dengan tegas tentang prinsip- prinsip kebhinekaan, NKRI, dan UUD 45. BERKUALITAS dalam arti ITB sebagai institusi pendidikan tinggi terus berupaya untuk memastikan agar proses dan hasil pendidikannya semakin relevan terhadap perubahan zaman serta buah pendidikan dan juga risetnya memberikan dampak yang makin besar bagi bangsa dan kemanusiaan secara luas. PRODUKTIF dalam arti ITB tidak hanya mencetak lulusan yang berkualitas dari pendidikannya, namun juga menjadi pabrik riset dan penemuan, serta menjadi tuan rumah dan inisiator dari berbagai upaya untuk memajukan bangsa dan kualitas umat manusia melalui ilmu pengetahuan. Saya akan terus mendukung upaya ITB untuk mewujudkan harapan para pendiri ITB, yang tercermin dalam lambang ITB: Ganesha. Ganesha adalah simbol pengetahuan, kebijaksanaan, dan kebajikan. Semoga ITB terus berkarya menjadi lembaga pendidikan yang selalu menjadi sumber pengetahuan, tidak pernah berhenti berbagi ilmu, tidak ragu berkorban untuk kepentingan yang lebih mulia, dan hidup suci dalam pengabdian bagi kemanusiaan. SOLIDARITY FOREVER Bapak dan Ibu yang saya hormati, Masa kuliah di ITB adalah masa yang sangat menyenangkan. Tidak hanya karena proses pendidikannya, namun juga karena saya belajar bermasyarakat dan berteman di sini. Saya menjadi pribadi yang makin sadar akan keberagaman karakter manusia, pentingnya tolong-menolong, menghargai pandangan dan perbedaan satu sama lain, serta menjaga dan mengutamakan relasi antar manusia di atas berbagai bentuk persaingan. Alm. Budiharjo, Alm. Purnardi Djojosudirdjo, Alm. Palgunadi Tatit Setyawan, Alm. Benny Subianto, adalah beberapa nama dari begitu banyak nama sahabat tumbuh bersama, berjuang bersama, dan bahkan berkarya bersama dalam hidup. Dari sahabat-sahabat saya itu, saya belajar untuk menyadari, menerima dan menghargai perbedaan. Tumbuh bersama mereka, saya menjadi makin paham bahwa perbedaan suku, agama, ekonomi, tidak perlu menjadi sumber perselisihan. Perbedaan memperkaya wawasan, perbedaan membangun kebijaksanaan, perbedaan mengasah kepekaan. Bapak dan Ibu sekalian, Dalam persahabatan kami, ada benang merah yang mengikat serta mempersatukan kami. Benang merah itu adalah kesamaan cara berpikir dan nilai inti. Saya mengenang sahabat-sahabat saya sebagai manusia yang optimis, positif, pantang menyerah, dan terus berusaha untuk tumbuh sebagai pribadi. Secara khusus, ijinkan saya untuk berbagi cerita tentang persahabatan saya dengan Alm. Pak Benny Subianto. Beliau dari Madura, saya dari Kadipaten. Beliau pribumi, saya non pribumi. Beliau muslim, saya Katolik. Beliau sabar dan hati-hati, saya lebih tidak sabar dan impulsif. Semua perbedaan itu, sama sekali tidak mempengaruhi kecocokan dan kepercayaan kami satu sama lain. Persahabatan, dan bahkan persaudaraan yang begitu mendalam terus lestari puluhan tahun, melebar sampai kepada kedua keluarga besar, lintas generasi. Bapak dan Ibu sekalian, Dalam hal values, almarhum Pak Benny Subianto, menggambarkan pentingnya values dengan sangat baik, “We have to change with changing time, but we have to hold on to unchanged values”. Pak Benny peka dan terus beradaptasi dalam perubahan, namun tetap berpegang teguh pada nilai-nilai inti yang diwariskan oleh para pendahulu. Bersamanya, saya membangun United Tractors, Astra, Adaro, dan sektor agribisnis di Triputra Group. Saya mengenang beliau sebagai sahabat yang tulus, setia, dan terus tumbuh sebagai pribadi. Dari situ muncul keyakinan saya, bahwa perbedaan sama sekali bukan penghalang untuk berteman, bekerja sama, dan membangun cita-cita bersama. Perbedaan justru bisa menjadi pengikat dan pemersatu. Perbedaan justru dapat membantu kita untuk menjadi orang yang lebih baik. Saya juga belajar banyak dari Iman Taufik, Ketua Angkatan Departemen Teknik Mesin Angkatan ‘61 yang saya cintai. Beliau mengajarkan kepada saya bagaimana memaknai semangat SOLIDARITY FOREVER secara nyata dan konsisten.. Satu sama lain saling membantu, mengingatkan, berbagi. Setia, senasib sepenanggungan dalam suka maupun duka. Terima kasih Pak Iman Taufik. Karena Bapak, kebersamaan dan persaudaraan Teknik Mesin ’61 terus terjaga. Atas usaha Bapak, SOLIDARITY FOREVER menjadi nyata, tak hanya berhenti di kata. PLURALISME Bapak dan Ibu yang saya hormati, Saya dilahirkan bermata sipit, beragama Katolik, dan berasal dari keluarga yang cukup mampu. Pada saat itu, bermasyarakat dengan ciri-ciri seperti itu tidak selalu mudah. Kadangkala kami harus menerima perkataan atau perlakuan yang diskriminatif atau provokatif. Sebelum belajar di ITB, saya menjalani pendidikan di sekolah-sekolah yang relatif homogen: sekolah Belanda, dan kemudian SMP dan SMA Katolik Santo Aloysius. Karena relatif homogen, saya tidak memperoleh banyak kesempatan untuk memahami keberagaman Indonesia. ITB adalah kontak pertama saya dengan pluralisme. ITB adalah melting pot, tempat bertemunya mahasiswa dari beragam suku, latar belakang ekonomi, agama, pandangan politik, dan berbagai perbedaan lain. Saya mulai memahami keberagaman Indonesia di ITB. Dari pemahaman, timbul kesadaran, bahwa menerima, menghormati, dan merayakan keberagaman amat penting agar Indonesia bisa menjadi Indonesia yang Raya. Saya jadi makin paham, bahwa saya sendiri yang harus mulai membangun pemahaman dan menyikapi berbagai keberagaman itu dengan bijak. Saya harus mulai dari diri sendiri, untuk menghentikan perdebatan dan kekerasan yang dipicu karena rasa berbeda dan kehendak sepihak untuk menyeragamkan. Karena bangsa ini, sejak didirikannya sudah beragam. Beragam suku, agama, ras, dan golongan. Pendiri bangsa menegaskan, bahwa bangsa ini harus tetap harus bersatu. Beda suku, beda, agama, beda ras, beda golongan, tidak seharusnya jadi pemecah-belah. Bhinneka Tunggal Ika. Sejarah menunjukkan, begitu banyak bangsa yang runtuh, karena mereka mempermasalahkan perbedaan seperti itu. Perang saudara, pemusnahan ras, ketidakadilan sosial dan pendidikan, begitu banyak tragedi yang terjadi karena umat manusia mempermasalahkan perbedaan yang tidak pantas dan tidak perlu diperselisihkan. Kebesaran hati dan kemampuan bangsa ini untuk menghargai dan menerima perbedaan menjadi salah satu kunci bagi kebesaran bangsa ini di masa yang akan datang. Karena sejak lahirnya, Indonesia itu bhinneka, beragam – dan bukan seragam. PENDIDIKAN SEBAGAI JAWABAN Bapak dan Ibu yang saya hormati. Confucius, sang filsuf, pernah berkata, “If you plan for one year, plant rice. If your plan is for ten years, plant trees. If your plan is for one hundred years, educate children”. Kata-kata bijak dari Confusius itu sungguh benar. Pendidikan karakter dan mindset yang berkesinambungan menjadi kunci. Pendidikan memajukan cara berpikir. Pendidikan membuka wawasan. Pendidikan meningkatkan kemampuan manusia untuk memahami dan menghargai perbedaan. Pendidikan karakter dan mindset memampukan manusia untuk tidak hanya hidup berdasarkan dogma yang bisa saja usang, tidak relevan, dan tidak selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan. Pendidikan yang makin baik, adalah pendidikan yang tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan dan kompetensi, namun di atas itu, menanamkan values dan membangun mindset. Pengetahuan dan kompetensi akan terus berkembang sejalan zaman, tapi values dan mindset akan selalu relevan dengan segala zaman, dan akan menjadi pembeda yang sulit ditiru Pendidikan bagi generasi penerus adalah salah satu hal terpenting yang harus menjadi perhatian bangsa. Bangsa-bangsa besar menaruh perhatian dan upaya yang begitu bersungguh-sungguh, untuk memastikan kualitas pendidikan. Karena mereka sadar, bahwa keberlangsungan, kemandirian, dan kesejahteraan bangsa di masa datang, ditentukan oleh kualitas manusianya. Dalam bentuk apapun, sekecil apapun, kita masing-masing punya tanggung jawab yang sama: membangun generasi penerus, yang lebih hebat dari kita. Hanya dengan begitu, maka bangsa ini akan jadi bangsa yang besar dan berdampak bagi umat manusia. Pendidikan adalah kunci pengubah bangsa. MEMBANGUN BISNIS, MEMBANGUN PEOPLE Bapak dan Ibu yang saya kasihi, Merintis, membangun, dan membesarkan United Tractors, Astra Group, Triputra Group, Adaro Group, adalah wujud rasa terima kasih melalui pembukaan kesempatan bekerja bagi ratusan ribu tenaga kerja, pemasukan pajak bagi negara, tumbuhnya ekonomi lokal-informal di banyak tempat, dan yang tidak kalah penting, membantu bangsa membangun pola pikir dan values generasi penerus. Di perusahaan-perusahaan tersebut, belasan ribu engineer dilatih berbagai teknik problem solving dan teknik-teknik operational excellence. Dalam mata rantai selanjutnya, mereka tentu memberikan sumbangan yang tidak kecil dalam upaya untuk membangun engineering capability bangsa ini. Setidaknya ada 2 lembaga pendidikan yang pada saat itu dibangun di Astra untuk mengembangkan talenta-talenta muda yang kompeten, memiliki mindset yang benar, dan menghidupi nilai-nilai luhur. Yang pertama adalah AMDI, Astra Management Development Institute. Melalui AMDI, belasan ribu pemimpin Astra dari berbagai level dicetak, ilmu pengetahuan dilembagakan dan disebarluaskan. Yang kedua adalah Politeknik Manufaktur Astra. Sejak tahun 1995, Polman Astra telah mencetak ribuan tenaga muda terdidik terlatih dalam berbagai bidang manufaktur seperti mekatronika, teknologi manufaktur, teknologi pembuatan peralatan presisi Perusahaan-perusahaan itu juga mengadopsi kehebatan Toyota Production System, yang hari ini banyak dipakai banyak perusahaan untuk meningkatkan OPERATIONAL EXCELLENCE, tidak hanya di industri manufaktur otomotif, tapi diadopsi oleh berbagai industri lainnya. Melalui Astra, berbagai usaha pembuatan komponen otomotif dilokalisasi, dan saat ini menjadi salah satu tulang punggung industri otomotif nasional. Semoga semua itu secara langsung maupun tidak langsung, membantu meningkatkan daya saing bangsa, sehingga Indonesia makin dapat berdiri tegak di antara bangsa-bangsa, adil, dan sejahtera. Bila di zaman dulu, semangat kejuangan dimaknai sebagai tindakan melawan bangsa penjajah, maka saat ini dan di masa yang akan datang semangat kejuangan perlu dimaknai sebagai upaya untuk membantu membangun kesempatan bekerja, terlibat dalam upaya pembangunan generasi penerus yang lebih hebat dari kita, dan sebisa mungkin membantu memecahkan masalah kesenjangan yang masih banyak terjadi di bangsa ini. Dalam kesempatan yang baik ini, saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada para pengusaha, eksekutif, karyawan, dan semua pihak, yang pernah atau masih bekerja sama dalam mewujudnyatakan semangat kejuangan melalui kontribusi di berbagai bidang karyanya. TERIMA KASIH DAN ‘GIVE BACK’ Bapak dan Ibu yang terhormat, To whom much is given, much is required. Sebagai pengusaha, saya bersyukur dapat hidup lebih dari cukup. Namun, sangat banyak yang hidupnya jauh dari cukup. Saya terpanggil untuk turun tangan, mengembalikan apa yang Tuhan berikan kepada saya bagi sesama yang membutuhkan. Melalui Yayasan Pelayanan Kasih A&A Rachmat, apa yang saya terima, saya bagikan kepada sesama. Sampai hari ini, ada lebih dari 19 ribu mahasiswa dari seluruh Indonesia yang dibantu pendidikannya, 1.5 juta pasien yang terlayani oleh 35 klinik kesehatan murah, lebih dari 6000 anak yatim piatu dibantu biaya hidupnya, lebih dari 13 ribu kacamata diberikan kepada yang membutuhkan, lebih dari 6000 paket buku telah dibagikan kepada siswa yang membutuhkan, dan lebih dari 800 guru telah dilatih agar menjadi guru yang lebih kompeten dan bersemangat dalam menjalani profesi mulia itu. Less for self, more for others, enough for everyone. Saya tahu, semua itu tidak cukup untuk menyelesaikan masalah kesenjangan di Indonesia. Tapi setidaknya, sejauh yang saya mampu, saya memberikan HARAPAN dan KESEMPATAN bagi sesama yang membutuhkan. Besar-kecilnya dampak, tidak menjadi masalah. Yang lebih penting adalah mencoba melakukan apa yang bisa dilakukan, untuk membuat Indonesia menjadi sedikit lebih baik, dari waktu ke waktu. Itu sudah cukup bagi saya. Maka sekali lagi, dari lubuk hati yang paling dalam, TERIMA KASIH ITB, TERIMA KASIH INDONESIA. Saya bersyukur atas hidup yang Tuhan berikan kepada saya. Bapak dan Ibu yang saya kasihi, Seorang lulusan Harvard University, Lucila Hanane Takjerad, yang adalah seorang anak pengungsi dari Aljazair bercerita bahwa dia berkesempatan sekolah di Harvard karena suatu ketika ada seorang asing yang membantu ibunya untuk mendaftarkan nama mereka sebagai imigran Amerika Serikat. Sampai saat ini, Lucila belum mengenal orang itu, dan belum bisa berterima kasih atas bantuan yang kecil dan sederhana itu. Hal kecil dan sederhana yang memberikan HARAPAN dan KESEMPATAN kepada Lucila dan keluarganya. Tanpa bantuan dari orang asing itu, Lucila tidak akan pernah jadi imigran, mendapatkan kewarganegaraan Amerika Serikat, dan berkesempatan mengenyam pendidikan di Harvard University. Saya menutup pidato ini dengan menyampaikan kalimat Lucila dalam pidato inaugurasinya di Harvard University: “Do the least you can do now, because the least you can do, might turn out to be the most significant for others.” Terima kasih, kiranya Tuhan memberkati kita semua. Bandung, 3 Juli 2019 TP. Rachmat
