https://international.sindonews.com/read/1418911/40/wanita-hamil-dan-anak-
anak-jadi-korban-perang-suku-di-papua-nugini-1562729309
Wanita Hamil dan Anak-
anak Jadi Korban Perang
Suku di Papua Nugini
Berlianto <https://index.sindonews.com/blog/2397/berlianto>
Rabu, 10 Juli 2019 - 10:28 WIB
views: 73.331
Wanita Hamil dan Anak-anak Jadi Korban Perang Suku di Papua Nugini Dua
wanita hamil tewas dalam perang suku di Papua Nugini. Foto/Istimewa
A+ A-
*PORT MORESBY* - Dua puluh empat orang tewas, termasuk dua wanita hamil,
dalam pertempuran suku di dataran tinggi di Papua Nugini. Peristiwa ini
mendorong Perdana Menteri Papua Nugini bersumpah untuk membalas dendam
pembunuhan brutal tersebut.
Para pejabat setempat mengatakan sedikitnya 24 orang telah tewas di
provinsi Hela, sebuah wilayah terjal di barat negara itu, dalam serangan
kekerasan selama tiga hari antara suku-suku yang bersaing.
Klan dataran tinggi telah berperang satu sama lain di Papua Nugini
selama berabad-abad, tetapi gelombang senjata otomatis telah membuat
bentrokan lebih mematikan dan meningkatkan siklus kekerasan.
Baca Juga:
* Selain Situbondo, Gempa Lebih Besar Juga Guncang Papua Nugini
<https://international.sindonews.com/read/1345268/40/selain-situbondo-gempa-lebih-besar-juga-guncang-papua-nugini-1539221938>
* Pesawat Air Niugini Jatuh ke Laut, Semua Penumpang Selamat
<https://international.sindonews.com/read/1341993/40/pesawat-air-niugini-jatuh-ke-laut-semua-penumpang-selamat-1538109130>
"Dua puluh empat orang dipastikan tewas, terbunuh dalam tiga hari,
tetapi bisa jadi lebih banyak hari ini," kata administrator provinsi
Hela, William Bando.
"Kami masih menunggu brief hari ini dari pejabat kami di lapangan,"
imbuhnya seperti dikutip dari /Channel News Asia/, Rabu (10/7/2019).
Bando telah menyerukan agar setidaknya 100 polisi dikerahkan untuk
memperkuat sekitar 40 petugas setempat.
Dalam satu serangan di Karida, para penyerang dikatakan telah mencincang
hingga mati enam wanita, delapan anak-anak serta dua wanita hamil dan
anak-anak mereka yang belum lahir dalam amukan selama 30 menit.
Petugas kesehatan setempat, Pills Kolo mengatakan sulit untuk mengenali
beberapa bagian tubuh dan memposting gambar jenazah yang dibundel
bersama-sama menggunakan kelambu sebagai kantong mayat sementara.
Insiden itu mengejutkan negara tersebut dan baru-baru ini menunjuk James
Marape, yang berasal dari provinsi tersebut, sebagai Perdana Menteri
negara itu.
"Hari ini adalah salah satu hari tersedih dalam hidup saya," katanya
dalam sebuah pernyataan.
"Banyak anak dan ibu yang secara tidak bersalah terbunuh di desa Munima
dan Karida di daerah pemilihan saya," sambungnya.
Ia pun berjanji akan menyebarkan lebih banyak pasukan keamanan dan
memperingatkan para pelaku dengan mengatakan waktu Anda habis.
"Penjahat penjahat bersenjata, waktumu sudah habis," seru Marape.
"Belajarlah dari apa yang akan kulakukan untuk para penjahat yang
membunuh orang yang tidak bersalah, aku tidak takut untuk menggunakan
tindakan terkuat dalam hukum untukmu," ujarnya.
Dia mencatat bahwa hukuman mati "sudah menjadi hukum".
Marape belum memberikan rincian penyebaran keamanan tetapi tampak
jengkel dengan sumber daya yang ada saat ini.
"Bagaimana sebuah provinsi dengan 400.000 orang dapat berfungsi dengan
hukum dan ketertiban kepolisian dengan di bawah 60 polisi, dan sesekali
militer serta polisi operasional yang tidak lebih dari pemeliharaan
bantuan," katanya.
Tidak jelas apa yang memicu serangan itu, tetapi banyak perkelahian
dipicu oleh persaingan lama yang didorong oleh pemerkosaan atau
pencurian, atau perselisihan tentang batas-batas suku.
Di provinsi Enga di dekatnya, gelombang kekerasan yang serupa mendorong
pembentukan garnisun militer darurat dan pengerahan sekitar 100 tentara
pemerintah di bawah komando seorang mayor yang dilatih Sandhurst.
(ian)