----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: 'Lusi D.' [email protected] 
[nasional-list] <[email protected]>Kepada: 
"[email protected]" <[email protected]>; 
"[email protected]" <[email protected]>Terkirim: Rabu, 10 Juli 
2019 21.47.30 GMT+2Judul: [nasional-list] Seniman Amrus Natalsya
     
Mengenali kembali para maestro kita.
Selamat menggali ingatan atas jasa dan karya mereka. 
Lusi.

Seniman Amrus Natalsya Gelar Pameran Tunggal untuk Terakhir Kalinya

Bernadus Wijayaka / BW Rabu, 10 Juli 2019 | 21:50 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Amrus Natalsya yang merupakan seorang pelukis
dan pematung Indonesia, mengadakan pameran tunggalnya dengan tema
“Terakhir, Selamat Tinggal dan Terima Kasih”.

Pameran ini merupakan hasil kerja sama dengan Taman Ismail Marzuki dan
Etty Mustafa Art Collection. Pameran digelar di Galeri cipta II Taman
Marzuki, 14-23 Juli 2019. Upacara pembukaan digelar Minggu (14/7/2019),
pukul 12.00 WIB.

Etty Mustafa mengungkapkan, pameran ini dibuat untuk terakhir kalinya
oleh sang perupa beraliran revolusionary realism ini, mengingat umurnya
yang tidak lagi muda.

“Di dalam pameran ini Amrus Natalsya akan menampilkan sekitar 50
karya-karyanya yang banyak mengangkat tema sosial seperti lukisan
kanvas dan lukisan pahat bertema pasar, Pecinan dan patung kapal Nuh,”
ujar Etty dalam keterangan tertulis kepada Beritasatu.com.

Rencananya, pameran yang akan dihadiri langsung oleh tokoh Sanggar Bumi
Tarung Misbach Thamrin ini, dibuka langsung oleh Gubernur DKI Anies
Baswedan.

Salah satu kurator seni Indonesia, Agus Dermawan menambahkan, lukisan
kayu Amrus telah menghasilkan karya yang berciri khas pribadi.

“Pameran tunggal ini adalah bukti keberadaan (eksistensi) Sanggar Bumi
Tarung dalam sejarah seni rupa Indonesia sejak 58 tahun yang silam.
Ketika itu, pendirinya Amrus Natalsya berumur 28 tahun,” ungkap Agus.

Kurator pameran Mahardika Yudha mengatakan, proyek seni kehidupan
masyarakat di Pecinan adalah salah satu filen fitur dari Amrus Natalsya
yang kembangkan sejak reformasi 1998. Tema ini dipilih sebagai bentuk
empatinya pada situasi masyarakat Indonesia ketika terjadi peristiwa
Mei 1998.

Amrus Natalsya lahir pada 21 Oktober 1933, di Medan, Sumatera Utara.
Putra dari pasangan Rustam Syah Alam dan Aminah. Sejak kecil, ia sudah
menunjukkan bakat seninya. Pada 1954, ia menempuh pendidikan seni di
ASRI Yogyakarta. Sejak saat itu Amrus mulai menghasilkan karya berupa
patung dan lukisan.

Dalam berkarya, Amrus juga dikenal sering mengangkat tema sosial dan
kesulitan yang dihadapi manusia sehari-hari. Pada 1955, patung hasil
karya pertama Amrus yang berjudul ‘Orang Buta yang Terlupakan’ dibeli
oleh Presiden Soekarno ketika dipamerkan dalam Lustrum Pertama ASRI di
Sono Budoyo, Yogyakarta. Presiden Soekarno kemudian juga mengkoleksi
karya Amrus lainnya yang berjudul "Kawan-kawanku".

Karya Amrus kemudian sering ditampilkan dalam berbagai pameran, seperti
pameran tunggal di Taman Merdeka Utara, Jakarta (1955); pameran lukisan
di Wina, Austria (1955); pameran "Konferensi Asia Afrika" di Bandung
(1955); pameran bersama mahasiswa ASRI (1961-1963); pameran tunggal di
Galeri Lontar, Jakarta (1995); karya terbaik dalam pameran patung
kontemporer "Trienale Jakarta II" (1998); pameran "Kepedulian Sesama
Pelukis" di Galeri 678, Jakarta (2000); dan pameran tunggal “Kampung
dan Metropolitan” di Galeri 678, Jakarta.


    

Kirim email ke