https://news.detik.com/kolom/d-4623400/alangkah-indahnya-politik-itu?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.50145766.1548189369.1563128621-1779151128.1563128621
Minggu 14 Juli 2019, 12:08 WIB
Jeda
Alangkah Indahnya Politik Itu
Mumu Aloha - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4623400/alangkah-indahnya-politik-itu?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.50145766.1548189369.1563128621-1779151128.1563128621#>
Mumu Aloha
<https://news.detik.com/kolom/d-4623400/alangkah-indahnya-politik-itu?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.50145766.1548189369.1563128621-1779151128.1563128621#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4623400/alangkah-indahnya-politik-itu?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.50145766.1548189369.1563128621-1779151128.1563128621#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4623400/alangkah-indahnya-politik-itu?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.50145766.1548189369.1563128621-1779151128.1563128621#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4623400/alangkah-indahnya-politik-itu?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.50145766.1548189369.1563128621-1779151128.1563128621#>
1 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4623400/alangkah-indahnya-politik-itu?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.50145766.1548189369.1563128621-1779151128.1563128621#>
Alangkah Indahnya Politik Itu Mumu Aloha (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
*FOKUS BERITA:* Jokowi-Prabowo Bertemu
<https://news.detik.com/indeksfokus/4802/jokowi-prabowo-bertemu/berita>
*Jakarta* - Jadi, apakah politik itu?
Kalau gigimu sakit, dan kau harus pergi ke dokter untuk mencabutnya,
salahkan negara, dan itu artinya urusan politik. Masyarakat Jakarta
sekarang bisa menikmati sore yang indah dengan bermain skate board di
trotoar jalanan yang luas dan nyaman, itu tak terlepas dari keputusan
politik. Kita bisa saja (tetap) mengeluh, untuk sekadar punya trotoar
yang luas dan 'manusiawi' saja kita mesti menunggu berpuluh-puluh tahun,
memangnya apa yang dikerjakan oleh para penguasa kota sebelum ini?
Tapi, sekali lagi, itu(lah) politik. Atau, lebih tepatnya kalau kita
katakan, itulah indahnya politik.
Politik memberi kita harapan, mewujudkan kebaruan-kebaruan, dan pada
akhirnya menciptakan kondisi-kondisi yang mengarahkan kita untuk
perlahan-lahan semakin dekat dengan kehidupan yang kita impikan,
kebahagiaan yang kita angankan, dan keinginan-keinginan lainnya. Pendek
kata, kita tak bisa hidup tanpa politik. Udara yang kita hirup setiap
bangun tidur pada pagi hari adalah politik, angin semilir yang membelai
pipi kita saat berlibur di pantai adalah politik.
Langit yang memayungi kita, bumi yang kita pijak, dan ruang tempat kita
bergerak ke sana ke mari semua adalah politik.
Ada suatu cerita dari khasanah pelajaran zen. Seekor ikan kecil bertanya
kepada ikan besar. "Aku sering mendengar pembicaraan tentang laut. Laut
itu apa?" Jawab ikan besar, "Segala yang di sekelilingmu itu adalah
laut." Mendengar penjelasan itu, ikan kecil pun menyahut, "Kok aku tak
bisa lihat?"
Kata ikan besar, "Kamu hidup, bergerak, dan keberadaanmu dalam laut.
Laut ada di dalam dan di luar dirimu. Laut memberimu kehidupan dan saat
kematian tiba kamu kembali ke asalmu. Laut di sekelilingmu seperti
dirimu sendiri."
Demikianlah, sebagaimana ikan, kadang kita tidak menyadari "tempat
hidup" kita. Ikan hidup di sungai, danau, rawa-rawa, empang, kolam,
/blumbang/, hingga laut, dan mereka tidak menyadarinya. Demikian pula
kita, warga negara, hidup dalam politik, dan sering melupakannya.
Politik itu sederhana. Ketika kau mengulek cabai menjadi sambel
kesukaanmu, ingatlah bahwa itu semua urusan politik. Apa kau lupa,
pernah marah karena harga cabai melambung tinggi? Kemarin, belum lama,
harga daging ayam di pasaran anjlok, masyarakat konsumen girang, tetapi
peternak dan penjual ayam naik pitam hingga protes dengan cara
membagi-bagikan ayam mereka secara gratis. Kejadian serupa pernah
menimpa petani tomat, ketika mereka membuang hasil panennya ke jalanan
sebagai protes karena harga tomat rendah sekali.
Begitulah, bahkan untuk urusan jumlah uang yang harus kita keluarkan
dari kantong untuk membeli barang-barang pun, ada keputusan politik di
belakangnya, yang kadang rumit, sampai bisa membuat seorang menteri jadi
kurang tidur. Sekali lagi, alangkah indahnya politik itu.
Bahkan, misalnya kau seorang laki-laki dan menyukai (sesama) laki-laki,
atau perempuan yang hanya bisa jatuh cinta pada perempuan juga, lalu
orang-orang menyebutmu LGBT, dan kau merasa dikucilkan, diperlakukan
tidak adil di masyarakat, karena hak-hakmu tidak setara dengan warga
negara lain pada umumnya, tenang, ada politik yang bisa membelamu. Kalau
kau buruh, atau guru honorer, atau karyawan kontrak, dan merasa upahmu
rendah, tenang, politik bisa memperjuangkan tuntutanmu.
Politik adalah jawaban bagi setiap persoalan kita.
Seorang pakar akan berkata begini: politik adalah upaya untuk membuka
celah kemungkinan bahwa sesuatu yang tidak dihitung menjadi dihitung
dalam tatanan sosial serta memiliki kesinambungan yang kontingen pada
beberapa subjek-subjek lainnya. Terdengar agak memusingkan?
Lupakan, dan bayangkan saja ini: dengan politik, kita memilih
pemimpin-pemimpin yang kita dukung, kita percaya, kita cintai, lewat
sebuah hajatan besar pesta demokrasi yang gegap gempita --bahkan pada
hari itu kita diberi libur (terima kasih, politik!) khusus untuk
mencoblos, memberikan suara kita dengan bebas. Alangkah indahnya
demokrasi. Lalu, setelah suara kita dihitung, dan pemimpin yang kita
pilih kalah, kita masih bisa menggugatnya dan membawanya ke sidang
perselisihan hasil pemilu ke sebuah mahkamah yang nantinya akan
memberikan keputusannya. Apa yang lebih indah dari demokrasi di dunia ini?
Seorang pakar akan berkata begini: perhatian utama demokrasi bukanlah
pada formulasi kesepakatan atau penjaminan tatanan, namun juga mendorong
dan memberi tempat pada "ketaksetujuan". Apa ini juga terdengar agak
memusingkan? Baik, baik, bagaimana kalau kita bayangkan saja sebuah
pertunjukan. Panggungnya adalah gerbong MRT yang kini menjadi kebanggaan
warga Jakarta. Terlihat dua orang aktor, bukan, tokoh bangsa, ya
pemimpin-pemimpin yang kemarin kita coblos dalam pemilu yang demokratis
itu.
Entah janjian atau bagaimana, keduanya sama-sama memakai kemeja warna
putih, duduk berdampingan, intim, mesra. Seperti tampak pada foto-foto
yang kemudian beredar di media massa dan lini massa media sosial kita,
Pak Prabowo begitu semringah, tak lepas menatap Pak Jokowi yang seperti
biasa agak "malu-malu", dan "tak berani membalas" tatapan yang mengarah
kepadanya. Itulah pertunjukan politik yang terjadi Sabtu (13/7) pagi
kemarin.
Media massa dan para /netizen/ pun seolah bersorak: akhirnya! Seperti
ada perasaan lega yang membuncah. Seperti ada beban tak tertanggungkan
yang telah sekian lama memberati pundak, dan mendadak sontak terlepas.
Plong. Semua senang. Ringan dan riang gembira.
Tapi, ternyata ada juga yang #kecewa. Lagi-lagi, ingat, inilah politik,
inilah demokrasi. Kita boleh sepakat untuk tidak sepakat. Kita boleh
kecewa di tengah banyak orang yang menyambut pertemuan itu sebagai
"merajut kembali tali persaudaraan bangsa yang terkoyak", atau apalah
ungkapan yang semacam itu. Yang kecewa mungkin berpikir, /lho/, sudah
didukung "mati-matian", sampai titik darah penghabisan, menguras seluruh
emosi, /lha/ kok akhirnya berangkulan tertawa-tawa dan makan sate
bersama. Apa-apaan ini!
Seorang /netizen/ berkata: /Nggak akan lupa kerusuhan 22 Mei dan semua
energi negatif yang dibuat selama ini. Nggak akan!/
/Netizen/ lain meratap: /Hancur sehancurnya hati ini bila kalian bisa
merasakan apa yang berkecamuk dalam jiwaku./
/Netizen/ lainnya lagi menambahi: /Foto Pak Prabowo yang sudah
berbulan-bulan saya pajang di rumah dengan penuh kebanggaan...dengan
penuh kekecewaan, dengan perasaan sedih hari ini saya turunkan... /
/Netizen/ lain pula menyahut: /Jangankan yang berjuang siang malam
mengorbankan tenaga, pikiran dan harta, saya yang hanya berjuang di
medsos dengan sedikit uang saja merasa marah./
Ada juga yang perih tapi lucu karena mengingatkan kita pada lagu
dangdut: /Tega-teganya Prabowo menyakiti kami. Ya Allah./
Yang kemudian diisengi dengan sahutan yang tak kalah lucu, dan kali ini
benar-benar bikin kita tertawa, melupakan bagian "perih"-nya tadi:
/Kalau pakai perasaan jangan berpolitik, mending pacaran saja./
Adapun yang merasa lega dan gembira, agaknya lebih realistis dan paham
bahwa ya, inilah politik. Apalagi yang kamu harapkan? Apakah terlalu
sulit untuk memahaminya? Jadi, apakah politik itu? Apakah masih perlu
penjelasan?
*(mmu/mmu)
*
**