ANALISIS
Narasi Usang Pidato Visi 'Investasi' Jokowi
CNN Indonesia | Senin, 15/07/2019 09:32 WIB
Bagikan :
Narasi Usang Pidato Visi 'Investasi' JokowiPidato pertama Jokowi sebagai
presiden terpilih dinilai masih banyak mengulang narasi lama dan kurang
berempati karena mengesampingkan isu hukum dan HAM. (REUTERS/Willy
Kurniawan)
Jakarta, CNN Indonesia --VisiIndonesia lima tahun ke depan yang
disampaikan Joko Widodo di pidato pertamanya sebagai presiden
terpilih*<https://www.cnnindonesia.com/tag/jokowi>*dinilai masih belum
jelas karena narasi atau janji yang dibangun masih mengulang-ulang dan
justru cenderung berpihak pada kelompok besar di Indonesia.
Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting Pangi Syarwi
Chaniago menilai Jokowi terlihat menggebu-gebu membahas investasi yang
luas dan tidak menyentuh sama sekali masalah hukum dan *Hak Asasi
Manusia <https://www.cnnindonesia.com/tag/hak-asasi-manusia>*(HAM)
hingga pemberantasan korupsi.
"Padahal kegelisahan rakyat yang sekarang timbul karena merasa hukum dan
penegakan HAM tidak adil. Membahas investasi luas dan bilang akan
menghajar yang menghalangi investasi justru buat curiga," kata Pangi
kepada/CNNIndonesia.com/, Senin (15/7).
Padahal, imbuh Pangi, kegaduhan politik di akar rumput, konflik sosial,
kesenjangan dan ketidakadilan menjadi biang kerok permasalahan bangsa
karena lemahnya agenda penegakan hukum. Sehingga, narasi Jokowi yang
akan menghajar siapapun yang menghambat investasi justru menimbulkan
kecurigaan bahwa Jokowi takut membahas masalah hukum dan HAM demi
membela korporasi besar atau pihak-pihak yang sudah berkontribusi di
kampanye*pilpres 2019 <https://www.cnnindonesia.com/tag/pilpres-2019>*.
"Anggaran kampanye cukup besar dan budaya politik kita tak bisa lepas
dari cara transaksional. Buka investasi luas untuk balik modal tidak
menutup kemungkinan," kata Pangi.
Lihat juga:
Jokowi Diprotes karena Tak Bahas Visi Hukum dan HAM
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190715001736-32-412044/jokowi-diprotes-karena-tak-bahas-visi-hukum-dan-ham/>
Pangi sepakat investasi yang luas bisa menciptakan lapangan kerja yang
juga luas. Namun kenyataannya, selama lima tahun periode pertama Jokowi,
penciptaan lapangan kerja kurang terlihat. Beberapa BUMN seperti
Krakatau Steel juga justru tidak menguntungkan.
Pangi menyoroti pembangunan tol dan infrastruktur Jokowi selama ini yang
ternyata tidak menguntungkan perusahaan-perusahaan dalam negeri.
"Jadi Jokowi ini lagi bingung, program dia lima tahun sebelumnya tidak
kelihatan. Jadi banyak narasi yang diulang dan justru hilang seperti
konsep Maritim dan Revolusi Mental," kata Pangi.
Menurut Pangi, Jokowi pernah mengungkapkan janji politik soal membangun
Indonesia menjadi negara maritim yang tangguh dan membangun Sumber Daya
Manusia (SDM) dengan konsep revolusi mental. Namun saat pidato kemarin,
Jokowi melupakan keduanya. Mestinya, kata Pangi, visi seorang presiden
harus berkelanjutan dan memperkuat apa yang sudah ia lakukan di periode
yang sudah ia jalankan.
Narasi Usang Jokowi, Janji Investasi yang Kurang Rasa AdilPresiden
terpilih Joko Widodo menyampaikan pidato visi kebangsaan di Sentul,
Bogor. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
Lihat juga:
Jokowi: Kita Butuh Sosok Menteri yang Berani
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190714233151-20-412042/jokowi-kita-butuh-sosok-menteri-yang-berani/>
Selain itu, narasi usang yang dikritik oleh Pangi adalah cara Jokowi
yang kembali 'membenturkan' rakyat dengan wacana anti pancasila. Menurut
Pangi, Pancasila sebagai satu-satunya ideologi di Indonesia sudah
disepakati seluruh rakyat Indonesia.
"Jangan adu rakyat lagi dengan kelompok anti dan yang pro pancasila.
Masyarakat kecil cuma gelisah karena ketidakadilan dan penegakan hukum
dan HAM lemah. Harusnya narasi itu yang diperkuat," ujar Pangi.
Narasi pengulangan yang disampaikan Jokowi juga diamini pengamat politik
Hendri Satrio. Menurut Hendri,salahsatu visi baru yang disampaikan
Jokowi adalah soal SDM di poin membangun Manajemen Talenta Indonesia.
Hanya saja, menurut hemat Hendri, masalah SDM masih kurang dieskplorasi.
Sementara/vocational school/adalah janji usang Jokowi yang selama ini
justru tidak berjalan.
Lihat juga:
Jokowi soal Penghambat Investasi: Saya Akan Kejar dan Hajar
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190714210826-32-412032/jokowi-soal-penghambat-investasi-saya-akan-kejar-dan-hajar/>
Atas dasar itu, Hendri tak heran Jokowi lebih bersemangat kembali
mengulang narasi infrastruktur dan investasi. Namun Hendri, tak sepakat
dengan pesan komunikasi Jokowi yang akan menghajar penghambat investasi.
Bagi Hendri, Jokowi harus lebih empati terhadap hal sensitif
Pendiri lembaga survei Kedai Kopi ini juga mengkritik Jokowi yang tidak
membahas masalah hukum dan HAM.
"Jokowi tipikal orang kerja, orangnya ini suka yang kelihatan saja. Suka
monumen dan tidak suka konsep. Jadi kalau HAM atau hukum tidak
kelihatan," kata Hendri kepada/CNNIndonesia.com/.
Narasi Usang Jokowi, Janji Investasi yang Kurang Rasa AdilJoko
Widodo-Ma'ruf Amin beserta istri di acara syukuran kemenangan Pilpres
bersama relawan. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
Lebih lanjut, Hendri mengaku Jokowi sudah cukup baik membahas fenomena
global hingga ekonomi mikro. Namun Hendri menilai Jokowi terlihat masih
kebingungan dengan apa yang sudah ia lakukan di periode sebelumnya.
Seharusnya, kata Hendri, Jokowi mengungkapkan apa yang sudah menjadi
prestasi bagi dia periode sebelumnya, dan akan diperkuat di periode
2019-2024.
"Ini masih terlihat bingung, tidak menyampaikan capaian-capaian yang
sudah ada dan mau diapain. Malah dia jelaskan menteri harus lebih berani
dan bahas APBN. Ini malah memperlihatkan kalau selama ini menterinya
tidak berani dan APBN belum optimal," kata Hendri.
Lihat juga:
Jokowi: Oposisi Juga Mulia
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190714204742-32-412031/jokowi-oposisi-juga-mulia/>
Sebelumnya, Jokowi menyampaikan beberapa poin di pidato pertama sebagai
presiden terpilih dengan tema 'Visi Indonesia'. Jokowi menekankan soal
pembangunan infrastruktur dan pembangunan SDM seperti vocational school
dan membangun Manajemen Talenta Indonesia.
Selain itu, pidato yang juga dihadiri Ma'ruf Amin dan partai politik
pendukung tersebut menegaskan soal investasi seluas-luasnya, membuka
lapangan kerja dan melakukan reformasi birokrasi.
Jokowi yang merupakan politikus PDIP itu juga menyinggung soal
penggunaan APBN yang harus tepat sasaran dan tidak ada toleransi bagi
pihak yang mengganggu pancasila.
*(dal/gil)*
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com