Bagaimana boleh Jokowi berbicara tentang HAM, kalau disekelilingnya
dikawali dan dinasehati oleh okonom-oknom masa lalu.


Jokowi terbicara tentang oposisi, bukankah semua partai politik
berkaok-kaok sebagai pancasilais. Jadi apa yang mau dioposisikan. Bisa jadi
kalau ada yang berkaok-kaok terhadap policy rezim neo-Mojopahit akan mudah
dicap sebagai oknom anti pancasila dan didiamkan.

Suka atau tidak suka semua wajib bertepuk tangan dan bersorak-sorak gembira
ria.

https://nasional.tempo.co/read/1224675/pegiat-ham-anggap-pidato-jokowi-mengerikan?utm_source=Digital%20Marketing&utm_medium=Web%20Notif&utm_campaign=Nasional_Mutia&utm_content=&utm_term=



*Pegiat HAM Anggap Pidato Jokowi Mengerikan*

Reporter:
*M Rosseno Aji*

Editor:
*Amirullah*

Senin, 15 Juli 2019 11:39 WIB

0 KOMENTAR
<https://nasional.tempo.co/read/1224675/pegiat-ham-anggap-pidato-jokowi-mengerikan/full&view=ok#comments>

002
[image: Indonesia's incumbent president Joko Widodo, who was re-elected on
April's election gestures as he delivers a speech to highlight his vision
for the next five years in Bogor, West Java province, July 14, 2019.
REUTERS/Willy Kurniawan]
<https://statik.tempo.co/data/2019/07/15/id_855512/855512_720.jpg>

*Indonesia's incumbent president Joko Widodo, who was re-elected on April's
election gestures as he delivers a speech to highlight his vision for the
next five years in Bogor, West Java province, July 14, 2019. REUTERS/Willy
Kurniawan*

*TEMPO.CO <http://TEMPO.CO>*, *Jakarta* - Pendiri kantor hukum Lokataru
Haris Azhar menilai pidato presiden terpilih Joko Widodo atau Jokowi
<https://www.tempo.co/tag/jokowi>bertajuk Visi Indonesia sebagai hal
mengerikan dalam perspektif hak asasi manusia. Ia mengatakan pidato yang
dibacakan di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa
Barat, Ahad, 14 Juli 2019 itu, sama sekali tidak menyinggung penegakan HAM.


Baca: Pidato Jokowi Dikritik Karena Tak Singgung soal Hukum dan HAM
<https://nasional.tempo.co/read/1224617/pidato-jokowi-dikritik-karena-tak-singgung-soal-hukum-dan-ham>


"Jokowi tidak konsen pada soal penegakan hukum dan kondisi HAM," kata Haris
saat dihubungi, Senin, 15 Juli 2019.

Haris khawatir pidato Jokowi itu jadi lonceng penggerak untuk melanggar
hukum dan HAM atas nama investasi. "Misalnya jangan halangi investor; atas
nama persatuan. Lalu dikatakan akan dihajar bagi siapapun yg menghalangi
investor. Ngeri kali!" ujar dia.


Ia juga kecewa Jokowi sama sekali tidak bicara soal derita masyarakat yang
tanahnya diambil pebisnis. "Dimana ruang mereka dalam pidato semalam?" kata
dia.

Senada dengan Haris, Direktur Eksekutif Institute Criminal of Justice
Reform (ICJR) Anggara juga mengkritik pidato Jokowi. Menurut ICJR, Jokowi
lebih banyak membahas soal masa depan ekonomi nasional dan tak menyinggung
soal pembangunan negara hukum dan penegakan Hak Asasi Manusia (HAM).
Padahal, ujar Anggara, dua hal tersebut berkesinambungan. Untuk mendorong
pembangunan ekonomi, perlu hukum yang kuat untuk menjamin kepastian
berusaha di Indonesia.

"Pembangunan negara hukum sekali lagi harus menjadi agenda prioritas yang
terutama bagi pemerintahan Jokowi-Ma'ruf," ujar Anggara melalui keterangan
tertulis, Senin, 15 Juli 2019.

Anggara menjelaskan, pembangunan negara hukum bukan hanya bagian dari
agenda kerja pemerintahan, tetapi juga merupakan kewajiban konstitusional
untuk setiap Kepala Negara.

Dalam pidatonya kemarin malam, Jokowi menyampaikan lima visi, yakni;
tentang pembangunan infrastruktur, pembangunan sumber daya manusia dengan
memberi jaminan kesehatan dan pendidikan, menarik investor, reformasi
birokrasi, dan mengalokasikan APBN untuk kemajuan serta kesejahteraan
masyarakat. Tak ada visi tentang hukum dan HAM.


Menanggapi kritik tersebut, Wakil Ketua TKN Arsul Sani mengatakan, dari
sekian banyak misi dan agenda yang terdapat dalam dokumen yang diserahkan
kepada KPU pada saat pencapresan, tentu tidak mungkin semua disampaikan
untuk pidato yang memang dijadwalkan tidak terlalu lama itu. "Tentu dipilih
visi misi dan agenda yang pas buat dipidatokan di hadapan para relawan
pendukung dan rakyat," ujar Arsul saat dihubungi pada Senin, 15 Juli 2019.

Baca: Jokowi: Oposisi Itu Sangat Mulia, Asal Jangan Menimbulkan Dendam
<https://pilpres.tempo.co/read/1224537/jokowi-oposisi-itu-sangat-mulia-asal-jangan-menimbulkan-dendam/full&view=ok>



Pidato Jokowi kemarin malam, ujar Arsul, jangan dipahami bahwa pemerintahan
lima tahun ke depan hanya melulu akan fokus pada hal-hal yang berbau
ekonomi. "Tanpa dipidatokan secara khusus tentang penegakan hukum,
pemberantasan korupsi dan penyelesaian kasus HAM berat masa lalu, tidak
berarti ketiga hal tersebut tidak akan menjadi agenda kerja prioritas
pemerintahan Jokowi-Ma'ruf," ujar Arsul.

*ROSSENO AJI | DEWI NURITA | BUDIARTI UTAMI PUTRI*

Kirim email ke