Oya? Tidak pilih Jokowi berarti pilih Prabowo?Tidak pilih dua-duanya tetap 
diartikan pilih Prabowo...???

Fanatik sama Prabowo nih? Hahaha.....

   --- djiekh@... wrote: 
   Kan yang tidak memilih Prabowo jauh lebih banyak dari pada yang tidak milih 
Jokowi,kalau "golputnya sama-sama dihitung"?Apa yang golput maunya dihitung 
sebgai pilih Prabowo ?

Pada tanggal Kam, 18 Jul 2019 pukul 09.30 ajeg menulis:
Ada lebih dari 107 juta Rakyat yang tidak memilih Jokowi. Ini membuat 
legitimasi Jokowi secara de facto sangat lemah. Dengan begitu, pertemuan 
Jokowi-Prabowo tidak punya nilai strategis kekuasaan tapi hanya unjuk rasa 
politik taktis. Momennya pun tinggal persoalan waktu. Dan, waktu yang dipilih 
untuk pertemuan sangat khas politiking Indonesia yang, menurut Prabowo, kental 
dengan ewuh-pakewuh, tatakrama.. Dalam hal ini, menunggu selesainya masa 
berkabung SBY (40 hari Ibu Ani). 

Pentingkah itu?
Untuk adab kemanusiaan ya pentinglah. Apalagi yang berkabung kan rekan 
seperjuangan. 

Lalu, di mana politikingnya? 

Nah ini, dalam konteks pilpres 2019, pilihan waktu pertemuan rupanya menjadi 
penting setelah SBY (rekan "seperjuangan") langsung lompat ke pelukan Jokowi 
dengan bolak-balik mengutus sang ananda ke istana, seolah menyatakan siap 
kebagian mebel dalam kabinet Jokowi. 

SBY memang tidak pernah mengaku atau membantah tudingan soal perselingkuhan 
politik, tapi toh dia terlanjur basah saat menyeberang. Bungkamnya si beye, 
seperti biasa, ditutupi dengan alasan absurd. Kali ini alasannya sedang menata 
hati yang remuk ditinggal istri tercinta. Tapi dia berjanji buka suara lagi 
segera setelah masa berkabung 40 hari selesai. Ya oke, rapopo.
Akhirnya masa berkabung usai. Belum sempat si beye buka mulut, tiga hari 
kemudian orang yang ditelikungnya justru enak-enakan makar sate dll bersama 
presiden terpilih minus legitimasi itu... Sampai detik ini tidak satu huruf pun 
terdengar dari mulut Susilo.
Cantik bukan?
Penulis (Asyari) boleh bikin artikel baru dengan angel politik adab dalam 
pilpres curang penuh pengkhianatan ini.

--- lusi_d@... wrote: 
 
Berikut sekedar ilustrasi tentang pertemuan di Lebak Bulus antara
Prabowo dan Jokowi dari sudut pandang wartawan Asyari Usman yang diberi
nama "Jokowi Dapat Semuanya, Prabowo Berikan Seluruhnya". Salam, Lusi.

Medan, Swamedium.com — Dari pertemuan Lebak Bulus (13 Juli 2019), ada
pertanyaan penting: Jokowi dapat apa, dan Prabowo dapat apa? Siapa yang
untung, siapa yang rugi?

Kalau mau dijawab singkat, itulah judul tulisan kali ini. Yaitu, Jokowidapat 
semuanya, sedangkan Prabowo memberikan seluruhnya. Jokowi dapat
‘full package’ dan Prabowo menyerahkan segalanya.
Yang diperoleh Jokowi dan yang diberi Prabowo barangkali tidak ternilai
secara material. Maksudnya, saya tidak tahu berapa yang pantas dibayar
untuk legitimasi jabatan presiden. Mau Anda sebut 25 triliun? Atau 50
triliun? Wallahu a’lam.

Tapi jangan salah paham. Saya hanya mencoba menggambarkan betapamahalnya 
legitimasi jabatan presiden 2019 yang diperlukan oleh Jokowi
dari Prabowo. Jangan sampai ditafsirkan ada deal 25 T atau 50 T. Nanti
bisa menjadi fitnah. Sekali lagi, saya hanya mencoba untuk memberikan
‘price tag’ andaikata jabatan presiden itu layak diuangkan.

Sekarang, legitimasi itu telah dikatongi Jokowi dengan senyuman lepasdan penuh 
makna. Senyuman yang menujukkan kepuasan yang utuh. Tidak
sompel. Ini bisa terjadi karena Prabowo juga menyerahkan legitimasi itu
dengan ‘sepenuh hati’. Betul-betul tulus. Itu terlihat dari suasana
gembira-ria. Ada puja-puji yang menyenangkan semua hadirin. Termasuklah
para broker yang mencarikan legitimasi itu.

Prabowo tampak ikhlas sekali menyerahkan legitimasi yang diperlukan
Jokowi tsb. Begitulah saya membaca ekspresi wajah Jenderal sendiri.
Tulus-ikhlas bagaikan Anda menjual sesuatu dengan harga yang Anda
harapkan dari pembeli. Nah, sekali lagi, jangan sampai salah tafsir.
Kata ‘harga’ di sini bukan transaksional sifatnya. Ini hanya untuk
membantu kita dalam melihat krusialnya legitimasi itu.
Itu isu yang pertama. Isu lainnya adalah pendapat banyak orang bahwa
Prabowo pintar memilih tempat (stasiun MRT). Pendapat itu menyebutkan
Prabowo, secara halus, merendahkan Jokowi. Direndahkan karena bertemu
di stasiun. Bukan di tempat yang mulia seperti Istana, hotel, rumah
Prabowo, dst.

Mohon maaf, logika ini perlu ditinjau ulang. Mengapa? Karena nilai
legitimasi dari Prabowo itu tidak tergantung pada tempat penyerahannya.
Kita ambil satu contoh yang mirip dengan legitimasi jabatan presiden
itu. Katakan Anda baru saja lulus study S3 di Harvard University,
Oxford atau Cambridge. Kemudian rektornya, entah dengan alasan apa,
menyerahkan ijazah S3 Anda di toilet kampus. Apakah tempat penyerahan
itu akan membatalkan gelar Anda? Tentu saja tidak.
Begitu pula dengan legitimasi dari Prabowo. Tidak berkurang nilainyasedikit pun 
bagi Jokowi ketika itu diberikan Prabowo di stasiun kereta.
Bahkan sekiranya Prabowo mengajak Jokowi ke toilet untuk menyalami dia
dan mengucapkan selamat, juga tidak cacat sedikit pun asalkan disiarkan
langsung oleh televisi dan ditonton jutaan orang.

Tidak terhormatkah di toilet? Sangat keliru. Itu tadi, kalau ijazah S3
Anda diserahkan oleh rektor di toilet, apakah gelar Anda tak berlaku?

Menurut saya, Jokowi tidak memerlukan penyerahan legitimasi dari
Prabowo di tempat yang terhormat.. Yang dia perlukan adalah ucapan
selamat yang disaksikan oleh publik, baik itu rekaman video apalagi
siaran langsung. Singkirkanlah perasaan Anda bahwa pemberian legitimasi
di stasiun MRT merupakan penghinaan terhadap Jokowi. It doesn’t work
that way, guys.

Persoalan lainnya adalah logika lucu yang perlu diluruskan tentang
pertemuan Jokowi-Prabowo. Bahwa kesediaan Prabowo bertemu merupakan
strategi mantan Danjen Kopassus itu untuk satu tujuan besar yang tidak
bisa diapahami oleh publik. Banyak yang yakin bahwa Prabowo memenuhi
undangan naik MRT plus makan siang di Senayan itu adalah taktik untuk
memenangkan sesuatu.

Bapak-Ibuk sekalian. Tidak ada yang salah untuk tetap menaruh harapan
bahwa ‘strategi’ Prabowo itu akan berakhir dengan kemenangan.. Inilah
harapan yang sangat patut dikagumi. Karena, harapan itu mencerminkan
suasana batin yang cukup kuat. Menunjukkan bahwa para pendukung Prabowo
tidak mudah menyerah. Tidak gampang putus asa. Ini hebat luar biasa!

Hanya saja, harapan itu tak punya referensi yang memadai untuk disebut
realistis. Harapan itu bergantung sepenuhnya pada ‘devine
intervention’ (kehendak Tuhan). Tak salah kalau disebut mukjizat.

Orang yakin akan ada kejutan besar dalam waktu dekat ini. Dasarnya
adalah pengajuan gugatan PAP (pelanggaran administrasi pemilu) ke
Mahkamah Agung (MA). Sebagian orang percaya Prabowo akan menang dan
otomatis menjadi presiden yang sah. Jokowi akan dilucuti. Prabowo-Sandi
yang akan dilantik.
Semudah itukah? Rasanya tak mungkin. Memang tidak ada yang mustahil
bagi Allah SWT. Tetapi, sebatas perkiraan realistis manusia, sangat
tidak mungkin. Banyak pertanyaan yang harus dijawab. Misalnya, apakah
masuk akal dengan satu ketukan palu MA semuanya berbalik untuk Prabowo?
Apakah para hakim MA berani tampil beda dari para hakim MK?

Dengan peta kekuatan institusional yang ada saat ini, apakah Anda 
yakin‘kemenangan’ Jokowi bisa dianulir? Apakah orang-orang kuat Jokowi rela
presiden mereka disingkirkan lewat selembar keputusan MA? Wallahu
a’lam. Bagi saya, skenario ini jauh panggang dari api!

Terus, strategi apalagi?

Kawan, semua sudah selesai. Jokowi sudah berhasil mendapatkan semua
yang dia perlukan. Dan Prabowo sudah memberikan seluruh yang dia
miliki. (*)

*Penulis: Asyari Usman (wartawan senior)
15..07.2019

Kirim email ke