https://news.detik.com/kolom/d-4629849/melihat-trans-nasionalisme-bekerja?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.122121483.1264695859.1563466556-971032311.1563466556
Kamis 18 Juli 2019, 16:15 WIB
Kolom
Melihat Trans-Nasionalisme Bekerja
Ali Amin - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4629849/melihat-trans-nasionalisme-bekerja?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.122121483.1264695859.1563466556-971032311.1563466556#>
Ali Amin
<https://news.detik.com/kolom/d-4629849/melihat-trans-nasionalisme-bekerja?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.122121483.1264695859.1563466556-971032311.1563466556#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4629849/melihat-trans-nasionalisme-bekerja?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.122121483.1264695859.1563466556-971032311.1563466556#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4629849/melihat-trans-nasionalisme-bekerja?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.122121483.1264695859.1563466556-971032311.1563466556#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4629849/melihat-trans-nasionalisme-bekerja?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.122121483.1264695859.1563466556-971032311.1563466556#>
1 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4629849/melihat-trans-nasionalisme-bekerja?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.122121483.1264695859.1563466556-971032311.1563466556#>
Melihat Trans-Nasionalisme Bekerja Foto: ABC Australia
*Jakarta* - Sejak awal era 1980-an mulai populer paradigma
trans-nasionalisme menggeser mantra nasionalisme yang ramai dirayakan
sejak berakhirnya era kolonialisme. Nasionalisme melihat kepentingan
dalam negeri lebih utama di atas kepentingan bangsa lain. Sementara
trans-nasionalisme bukan berarti mengabaikan kepentingan dalam negeri,
tapi melihat dunia yang tak terpisah-pisah, saling terkait, tak ada satu
pun yang bisa mengisolasi diri karena saling membutuhkan. Tentu saja
meredupnya paradigma nasionalisme dan populernya pandangan
trans-nasionalisme tak lepas dari kemajuan teknologi transportasi dan
komunikasi.
Orang Malaysia, Hong Kong, Taiwan tidak bisa hidup tenang dan maju
industrinya tanpa keuletan tenaga kerja dari Indonesia dan Filipina.
Sama halnya seperti Saudi dan negara Timur-Tengah lainnya yang
mempekerjakan sekitar dua juta TKI. Indonesia sendiri bisa tidak akan
aman jika membiarkan jutaan tenaga produktifnya menganggur di kampung
tanpa pekerjaan dan penghasilan yang memadai. Menyalurkan mereka ke
negeri yang membutuhkan itu termasuk solusi yang realistis. Anak-anak di
kampung-kampung butuh aliran /cash/ yang pasti untuk makan dan kebutuhan
sehari-hari. Jutaan warga Indonesia yang berada di luar negeri telah
membantu menghidupkan perekonomian desa-desa di Jawa, menghidupkan
ekonomi nasional sekaligus negeri-negeri yang mereka datangi.
Ada kesan sementara menjadi TKI adalah pekerjaan hina karena menjadi
babu di negara lain. Ini perspektif nasionalisme yang tidak sepenuhnya
benar. Sejak era teknologi digital, TKI baik sebagai pekerja kelas bawah
atau profesional mengalami perubahan cara hidup sebagai kaum migran yang
berbeda dari era sebelumnya.
TKI sekarang tidak seperti dulu lagi yang terisolasi dan menderita
karena kultur yang berbeda, menderita dalam kesepian dan keterasingan.
Mereka meski berada di Taiwan, Hong Kong, atau Saudi dapat setiap hari
menghubungi keluarga dan orang-orang tercinta di Indonesia dengan /video
call/. Mereka juga tetap bisa mempraktikkan kultur dan tradisi
Indonesia, seperti memasak makanan Indonesia, menyanyi, dan berpakaian
ala orang Indonesia. Mereka bisa berasosiasi dan berserikat memenuhi
ruang ruang publik di negara barunya. Tentu ada kasus-kasus
pengecualian, namun begitulah tren umumnya. Minoritas di negara asing
bukan masalah.
Kecuali Saudi, negara-negara penerima TKI umumnya juga tidak gegabah
mengundang TKI untuk menelantarkannya. Badan-badan internasional terkait
hak asasi dan perlindungan buruh dan imigran juga turut melakukan
monitor. Kata banyak ahli migrasi internasional, kebanyakan kaum migran
sekarang hanya satu kakinya saja yang berada di negeri asing, tetapi
kaki yang lain berada di negeri asalnya.
Indonesia butuh Eropa, China, dan AS yang mau menampung
komoditas-komoditas pertanian, perkebunan, pertambangan, perikanan,
kerajinan. Tanpa pasar yang terbuka dari negeri-negeri tersebut, kelapa
sawit tembakau, karet, kopra, kopi akan menumpuk dan membusuk di gudang
dan sawah kita. Para petani, nelayan, dan kaum pekerja lainnya di
Indonesia tak bisa menikmatinya. Sebaliknya juga Eropa, China, AS butuh
Indonesia untuk pemasaran komoditas mereka yang belum bisa disaingi
produk Indonesia.
Mereka juga butuh nikel, timah, batubara dari Indonesia untuk bahan
industrinya. World Cup 2018 kemarin memang diadakan di Rusia, tapi
jangan lupa si kulit bundarnya disuplai dari Tasikmalaya. Pun lomba
bulutangkis internasional, shuttlecock-nya didatangkan dari perusahaan
di Tegal yang menghimpun bulu-bulu angsa dari seluruh Indonesia. Semua
saling terhubung dan membutuhkan.
Ingat, krisis industri China 2009 kemarin yang disebabkan melambatnya
pertumbuhan ekonomi domestik (menurunnya daya beli) mengakibatkan banyak
pabrik tutup dan membatasi produksi. Kondisi ini berefek domino. Pasar
global lesu, ekspor komoditas ke negara terbesar di dunia itu
terkoreksi, harga minyak turun, panen sawit rugi, kamar hotel sepi, padi
dan cabe tak terbeli. Kejadian utamanya di Beijing, tapi efeknya sampai
ke lorong-lorong toko elektronik di Glodok hingga warung kopi di sudut
pulau kecil di Nusantara.
Jika saja Donald Trump tetap berparadigma nasionalisme eksklusif (yang
rasis), hanya mementingkan dalam negeri, harusnya ia tak peduli dengan
ancaman negara-negara lain dengan menghentikan operasional pesawat
BOEING 737 MAX. Sebaliknya, ia bisa saja menekan negara-negara konsumen
BOEING tersebut dengan misalnya memboikot balik produk ekspor dari
negara-negara pemesan atau mengembargo bantuan teknologi suku cadang
mesin-mesin berat. Dia bisa bilang, "Anda sudah janji mau beli produk
saya, sekarang mau batalin. Saya bisa setop kebutuhan suku cadang
senjata, mesin mobil, pesawat, senjata tentara kalian."
Atau bisa saja demi alasan nasionalisme Trump memaksa Facebook, Google,
dan Microsoft berhenti melayani market mereka di negara-negara
yang/ngeyel/ atau bahkan mensuplai data privat warga dunia untuk
kepentingan AS. Jelas, di zaman yang tak terbatas informasi dan
komunikasi seperti sekarang tidak mungkin Trump bertindak nekat. Berapa
puluh juta tenaga warga Amerika yang terserap di industri-industri besar
tersebut dari hulu ke hilir.
AS bisa punya nuklir, tapi rakyat yang lapar dan butuh pekerjaan di
dalam negeri bisa membuat kekuatan nuklir tak berfungsi. Kalaupun nekat
(dan tidak mungkin), industri pesaing di negara-negara lain sudah
otomatis mempunyai kesempatan lebih maju dan sekaligus menenggelamkan
industri Amerika secara pelan-pelan. Berubahnya pendirian Trump dengan
menghentikan penerbangan Boeing 737 MAX adalah karena tekanan
solidaritas lintas batas negara. Meski korban pesawat jatuh sebagian
besar dari Indonesia dan Ethiopia, tapi soliditas negara-negara lain
yang bersatu dalam duka mampu membuka mata "nasionalisme" Donald Trump.
Di sinilah trans-nasionalisme bekerja. Tidak ada yang bisa berdiri
sendiri tanpa keterlibatan bangsa lain. Di era trans-nasional kita tidak
bisa berpikir "pokoknya demi kepentingan domestik", dan mencurigai
bangsa dan pihak lain. Kita tidak bisa melihat sisi ancaman saja dari
masuknya investor-investor dan kerja sama asing di Indonesia tanpa
melihat begitu banyak manfaat dari dana yang mereka gelontorkan dan
/technological skill/ yang mereka transfer.
Jika kita "/ngeyel/" mencurigai kerja sama industri/investor China, US,
dan Eropa, maka Vietnam, Thailand, Filipina, Burma, dan negara-negara
lain siap menampung mereka dan memberi manfaat besar kepada negara dan
warganyanya sekaligus melejitkan potensinya meninggalkan Indonesia yang
tertutup dalam tempurung nasionalismenya. Jika kita "ngotot" menutup
Bali, Bandung, Raja Ampat untuk turis-turis China, mereka bisa ke
Maldives, Thailand, Vietnam, Malaysia, atau ke Filipina.
Bisakah sekarang kita hidup hanya dengan wawasan nasionalisme saja tanpa
kesadaran trans-nasionalisme? Misalnya menyimpan pemikiran hanya mau
memakai produk-produk Indonesia saja? Memang benar baju dibeli di Tanah
Abang (yang sebagian besar diimpor dari China), tapi benang, kancing,
cetakan pewarna kain, dan mesin pembuat kainnya mungkin dari China,
Jepang, dan Jerman. Tidak ada negara satu pun di dunia yang bisa
menafikan peran bangsa dan negara lain.
Satu bangsa atau satu nasionalisme sebenarnya hanya sebuah imajinasi
masyarakat saja, begitu kata Benedict Anderson (1983). Sebelum era
modern kita terpisah-pisah berdasarkan klan dan suku, lalu setelah
bertemu dengan klan dan suku yang lain kita disatukan oleh "imajinasi"
ideologi nasional bangsa. Pada perkembangannya nasionalisme sering
ditafsirkan sebagai ideologi kelompok dominan. Nasionalisme Amerika dan
Australia artinya supremasi kulit putih, begitupun India (Hindu),
Malaysia (etnis Melayu), Israel (Yahudi), dan Indonesia (Jawa, masa Orde
Baru). Di mana ideologi nasionalisme menguat, kelompok minoritas tertindas.
Sekarang setelah samudra, gunung, jurang, dan awan tersambung oleh
saluran komunikasi internet dan satelit di angkasa, masihkah relevan
kita bicara berbuih-buih tentang nasionalisme dalam arti yang sempit
(proteksi identitas nasional)? Masih relevankah kita membenci kedatangan
sejumlah kecil orang asing, sementara anak-anak kita menjadi minoritas
sedang belajar dan bekerja di negeri asing? Maukah anak-anak kita yang
minoritas di luar negeri didiskriminasi, direndahkan, dan dicurigai?
Begitupun sama, saya kira, perasaan setiap manusia atas
saudara-saudaranya di negeri kita. Nasionalisme dan trans-nasionalisme
harus didudukkan sesuai porsinya. Peristiwa penanganan pascabencana
Tsunami di Aceh yang melibatkan warga dunia secara global memperlihatkan
nasionalisme saja tidak cukup untuk menjelaskan sukarela kerja sama
warga dunia.
Thomas Friedman dalam bukunya /The World is Flat/ (2005) menjelaskan
metafora "bumi datar". Menurutnya apa yang terjadi di sudut suatu bangsa
secara transparan dapat terlihat oleh dari horizon mana pun. Artinya
juga, apa yang terjadi di sudut dunia selalu terhubung dengan sudut bumi
lainnya. Friedman pun mengatakan entitas sosial apapun tanpa
memperhatikan gejala global ini akan terlindas zaman. Hubungan manusia
sekarang ini tidak mungkin bisa dibatasi secara sederhana oleh batas
teritori atau kelompok komunal lainnya. Sekarang hubungan antarmanusia
sudah menembus dinding-dinding kamar pribadi dan hanya mereka yang sadar
akan fenomena tersebut yang dapat /survive/.
Perlu ditegaskan di sini bahwa selain perspektif nasionalisme yang
selalu digembar-gemborkan para politisi menjelang kontes politik
nasional di Indonesia, perlu kita melihat kecenderungan trans-nasional
yang tidak bisa dihindari. Semua negara bermain di ranah tersebut untuk
bisa meraih sebanyak-banyak keuntungan demi masa depan bangsanya. Tak
ada satu pun negara yang tidak ingin berdaulat secara ekonomi,
ketahanan, dan politik. Namun pertahanan yang lebih penting di era
trans-nasional sekarang ini adalah jaminan kesejahteraan bagi warganya.
Alih-alih memproteksi diri, mengisolasi, bermanyun-manyun karena selalu
curiga dengan asing, lebih baik kita bermain aktif melintas batas
teritorial, meliuk, menari, bermanuver dengan takdir baru dunia yang
semakin tak terbatas.
Kedatangan produk asing, turis, dan profesional asing seperti dokter,
dosen, engineer, arsitek tidak mungkin dibendung berdasarkan
konvensi-konvensi internasional. Bahkan nanti mungkin kampus dan rumah
sakit. Begitupun tak mungkin ada larangan orang Indonesia berobat ke
Singapura atau Malaysia. Dengan berleha-leha di bawah tempurung
nasionalisme yang selalu curiga terhadap entitas asing, kita akan
semakin terlambat berlomba, apalagi memenangkan persaingan global.
Mendatangkan sebanyak-banyaknya investor atau pelaku bisnis asing ke
Indonesia bukanlah sesuatu yang buruk.
Sudah banyak contoh negara yang berhasil memainkan paradigma
trans-nasional dalam politik investasinya. UEA, Qatar, Kuwait, Saudi,
Singapura adalah contoh negara negara yang menjadi kaya karena
perspektif trans-nasionalnya. Negara tersebut mengundang investor asing
bahkan warga asing yang jumlahnya mengalahkan warga setempat. Siapa saja
boleh datang asal menguntungkan negara dan masyarakat setempat.
Banyak pula negara bermanuver dalam politik migrasi internasionalnya.
Filipina, India, Meksiko, dan beberapa negara yang berbatasan dengan
Amerika misalnya mereka tak mengutuki bangsa sendiri yang bekerja di
luar negeri. Pemerintah justru semakin kreatif membuat
kebijakan-kebijakan perlindungan warganya di luar negeri yang berdampak
positif pada gairah ekonomi dan sosialnya di dalam negeri. Sungguh
sangat sayang perdebatan tentang nasionalisme yang dilandasi motivasi
politik telah menjauhkan kita dari esensi peradaban dunia yang sudah
berubah.
*Ali Amin, Ph.D *(cand) /International Studies Waseda University Tokyo,
dosen IAIN Manado Sulut /
*Simak Video "Usai Dibui 6 Bulan Karena Jual Obat, WNA Asal China kini
Dideportasi"*
*(mmu/mmu)
*
**