Sistim kapital-finans tipe baru: Caplok-mencaplok antar negara?

Berikut saya turunkan sebuah artikel tentang ekonomi Tiongkok yang sudah
melebur dengan sistim perekonomian nekolim dengan judul:


Sering Beri Pinjaman, China Ternyata Juga Punya Utang Rp 558.000 Triliun
Senin, 22 Juli 2019 06:00 Reporter: Merdeka
 

Merdeka.com - China belakangan ini diketahui sebagai pemberi pinjaman
yang dominan di dunia, bahkan muncul istilah Diplomasi Jebakan Utang
(Debt-Trap Diplomacy). Ternyata, mereka sendiri juga terlilit utang
signifikan. 

Berdasarkan laporan South China Morning Post, utang China telah meroket
hingga 300 persen dari GDP mereka. Nominalnya mencapai USD 40 triliun
atau Rp558.000 triliun (USD 1 = Rp13.967). 

Utang China semakin menumpuk karena pemerintah terus menerbitkan surat
utang untuk meringankan ekonomi yang sedang melambat. Ins titute of
International Finance (IIF) mencatat utang China hampir menyentuh 304
persen GDP mereka dalam tiga bulan pertama 2019. 

Household debt (utangrumah tangga) di China juga melesat hingga 54
persen GDP dalam kuartal pertama tahun ini. Utang jenis itu merupakan
milik masyarakat seperti cicilan rumah atau kartu kredit. 

Utang pemerintah China naik 51 persen dalam kuartal pertama dibanding
47,4 persen pada tahun sebelumnya. Sementara, utang sektor finansial
naik 43 persen dari 41,3 persen. 

China sebetulnya sudah meluncurkan kampanye untuk mengurangi utang dan
peminjaman berisiko, namun langkah itu terhambat akibat perang dagang.
China pun meringankan syarat kredit. dan pengeluaran proyek
infrastruktur pun digencarkan untuk memicu pertumbuhan ekonomi. 

Analis Moody's menyebut usaha China melawan 'shadow banking', alias
jalur peminjaman uang non-bank, juga akan berkurang karena pemerintah
berupaya menambah stimulus kredit akibat dampak buruk dari perang
dagang yang bertambah. 

Perang dagang juga menyebabkan pertumbuhan ekonomi China merosot hingga
6,2 persen. Pertumbuhan tersebut merupakan yang terendah selama 27
tahun. 

China selama ini masih mengaku sebagai negara berkembang ketimbang
negara maju. Ternyata, negara itu terkuak sebagai pemberi pinjaman
alias kreditor terbesar di dunia. 

Melansir laporan CNBC, kucuran utang dari China ke berbagai negara
membengkak menjadi lebih dari USD 5 triliun atau Rp 69.000 triliun (USD
1 = Rp13.921). Itu berdasarkan data periode 2000 dan 2017. 

"Itu telah mentransformasi China menjadi kreditor resmi terbesar yang
dengan mudah melewati IMF dan Bank Dunia," tulis laporan yang ditulis
Carmen Reinhard dari Universitas Harvard bersama Christoph Trebesch dan
Sebastian Horn dari Kiel Institute. 

Secara keseluruhan, studi itu meneliti 2.000 pinjaman China kepada 152
negara pada tahun 1949-2017. Tercatat sejak tahun 2015 saja ada 50
negara berkembang yang terus menambah utang dari China. 

Negara yang lebih maju berutang ke China lewat surat utang negara
(sovereign bonds). Sementara, negara berpenghasilan rendah biasa
mendapat utang langsung dari BUMN China seperti China Development Bank
dan Export-Import Bank of China.

"Gencarnya pinjaman utang internasional itu adalah hasil pertumbuhan
ekonomi China yang cepat, tetapi juga karena kebijakan going global
dari China," ujar Tresbech yang menjadi kepala peneliti keuangan
internasional dan pemerintahan dunia di Kiel Institute. 

Selama ini China dikritik karena menggelontorkan utang lewat program
Jalur Sutera Baru mereka. Foreign Policy dan berbagai pengamat kerap
menyebutnya sebagai Diplomasi Utang (debt diplomacy). 

Masalah lain dari utang China adalah negara itu tidak transparan dalam
pelaporan utang. Utang tersembunyi ini memberi dampak berat bagi negara
seperti Venezuela, Iran, dan Zimbabwe. 

Akibat dari kasus utang tersembunyi ini, ada negara yang utangnya
tampak lebih kecil dari sebenarnya. Lembaga internasional seperti IMF
kesulitan untuk menganalisis tingkat utang negara tersebut demi
memberikan strategi dalam meringankan utang. 

Meski bunga utang dari China lebih kecil, mereka memiliki tempo
pembayaran yang lebih singkat. China pun siap menerima pembayaran dari
sumber daya negara itu seperti minyak. 

Tahun lalu, Sri Lanka harus rela menyerahkan pelabuhannya karena
masalah utang ke China. Akibatnya, Diplomasi Utang China juga mendapat
julukan Diplomasi Jebakan Utang (debt-trap diplomacy). 

Menurut laporan Reinhard, Trebesch, dan Horn, daerah-daerah yang paling
banyak berutang ke China adalah di wilayah Asia Tengah dan Timur Jauh
(Asia Timur dan Tenggara) seperti Laos dan Kamboja. Selanjutnya ada
Amerika Latin dan negara Eropa Timur. 

Reporter: Tommy Kurnia 
Sumber: Liputan6.com [idr]

Kirim email ke