Tidak bisa senderi menyelesaikan masal perbaikan ekonomi dan oleh sebab itu
harus meminta batuan (lobi) ke luarnegeri? Bukankah dimiliki menteri
keuangan nomor wahid di dunia, ahli ilmu langitan yang akan menjadi wakil
presiden etc. Dimiliki Jenderal-jenderal jago perang sebagai penasehat dan
menteri kabinet, jadi apa yang kurang?


https://www.jawapos.com/ekonomi/22/07/2019/agenda-lobi-tiongkok-jadi-prioritas-perbaikan-ekonomi/


*Agenda Lobi Tiongkok Jadi Prioritas Perbaikan Ekonomi*



*JawaPos.com* – Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)
semester I-2019 melebar hingga mencapai Rp 135,8 triliun hingga Juni 2019.
Angka tersebut lebih tinggi dari 2018 yang hanya Rp 110,6 triliun. Presiden
Joko Widodo (Jokowi) memerintahkan para menteri untuk bekerja keras
meningkatkan eskpor agar keuangan negara segera surplus. Sebagai salah satu
upaya nyata, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita pun menyambangi
Tiongkok untuk melakukan lobi-lobi agar ekspor komoditi Indonesia meningkat..

Mendag Enggartiasto Lukita kini masih berada di Tiongkok. Di sana, Mendag
melakukan serangkaian lobi yang merupakan tindak lanjut dari pembicaraan
dan kesepakatan yang dilakukan antara Presiden Xi Jinping dan Presiden Joko
Widodo di Osaka, Jepang, beberapa waktu lalu. Saat itu, Presiden Jokowi
menyampaikan kepada mitranya berbagai hal, termasuk kesulitan dalam ekspor
dan defisit perdagangan ke Tiongkok yang begitu besar. Presiden Xi Jinping
pun berjanji akan menindaklanjuti dan memberikan prioritas untuk
menyelesaikan masalah tersebut.

Lobi-lobi ini ditujukan untuk meniadakan hambatan dalam ekspor
komoditas-komiditas RI ke Tiongkok. Mendag Enggartiasto optimistis, RI bisa
memperoleh USD1 miliar dalam satu tahun dengan menggejot ekspor tiga
komoditas; sarang burung walet, buah, dan produk perikanan tersebut.

Kini, total perdagangan Indonesia-RRT periode 2018 tercatat sebesar
USD72,67 miliar atau naik 23,48% dari total perdagangan 2017 yang sebesar
USD58,84 miliar. Adapun total perdagangan Indonesia-Tiongkok pada periode
Januari-April 2019 telah mencapai USD22,4 miliar. Seiring peningkatan nilai
perdagangan, defisit yang dibukukan Indonesia juga semakin melebar. Defisit
perdagangan mencapai USD18,4miliar, naik dibandingkan defisit tahun
sebelumnya sebesar USD12,68 miliar.

Kepergian Mendag ke negeri tirai bambu itu adalah menjalankan perintah
presiden demi menyelamatkan keuangan negara. Dan, lobi setingkat menteri
tersebut, tidak bisa dan tidak elok jika diwakilkan. Karenanya, agenda lobi
antar negara ini, adalah mutlak perlu.

“Sebagai menteri, Enggartiasto pasti mengikuti perintah presiden untuk
menggenjot ekspor ke Tiongkok. Itu adalah tugas utamanya, menjalankan
agenda negara,” kata Guru Besar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prod.
Mas’ud Said, kepada wartawan, Senin (22/7).

Pengamat pemerintahan Prof Mas’ud Said menilai tugas negara yang diemban
oleh Menteri Perdagangan ke Tiongkok dan panggilan KPK keduanya adalah hal
penting. Dan, karena posisi Menteri Enggar sebagai saksi, maka agenda
pemberian keterangan, bisa dilakukan menunggu kembalinya dari agenda lobi
di luar negeri. Penjadwalan ulang adalah hal biasa yang dimintakan.

“Mendag pasti punya pengacara, atau biro hukum Kemendag. Nah itu bisa
berkomunikasi dengan KPK, sehingga tidak terjadi miss komunikasi, sehingga
bisa dijadwalkan ulang, misalnya besok atau lusa setelah pulang ke
Indonesia, ditentukan oleh yang bersangkutan bisanya kapan, jadi tidak ada
masalah yang penting komunikasi,” ujarnya.

Sementara itu, Sekjen Partai NasDem Johnny G Plate menyatakan, dalam
pelaksanaan tugasnya, prioritas seorang menteri adalah urusan negara.
Kepergian Mendag ke China, jelas bertujuan guna memperbaiki kondisi
keuangan negara yang sedang defisit. Karenanya, Johny mempertanyakan,
agenda pihak-pihak tertentu yang terkesan memojokkan Menteri Enggartiasto,
menomorduakan pemanggilan KPK.

“Poin intinya sih Mendag sedang upayakan memperbaiki defisit dan iklim
investasi pascapilpres jangan lah urusan hukum mengganggu. Apakah yang ini
penting banget sampai mengorbankan perekonomian negara. Kalau soal jadwal
memang tidak bisa ya tinggal dijadwalkan ulang atau tanya ke kapan bisanya
baru kirim undangan,” kata Jhonny.

Ia menyerukan, agar pihak-pihak yang sengaja memojokkan Mendag seolah tak
taat hukum, tidak menjadikan hukum sebagai alat politik. Tugas utama para
menteri bekerja untuk kepentingan negara. “Melaksanakan tugas yang penting
dan tidak menafikan kewajiban hukum, adalah hal yang harus dilakukan.
Tetapi aparat hatus melihat yang mana harus diprioritaskan jadwalnya,”
tuturnya.

Lebih jauh, Sekjen NasDem ini juga menambahkan, dirinya yakin bahwa KPK
bisa objektif melihat mana yang prioritas utama, dan mana yang bisa
didahulukan. “Kalau dibatalkan pertemuannya (dengan Tiongkok), habis itu
ada peluangnya enggak? Sebagai saksi apakah wajib. Ada banyak orang yang
belum diurus (kasusnya). Apakah ini (pemanggilan) lebih penting dari
(kasus) yang besar-besar dulu,” pungkasnya.

Kirim email ke