Selasa 23 Juli 2019, 10:43 WIB
China Sebut Orang Uighur Dulunya Dipaksa Masuk Islam
ABC Australia - detikNews
China Sebut Orang Uighur Dulunya Dipaksa Masuk Islam
*Beijing*-
Pemerintah China mengklaim warga Uighur di Xinjiang dulunya dipaksa
masuk Islam padahal telah menjadi bagian integral dari China selama
ribuan tahun. Klaim ini dinilai sebagai pembenaran tindakan
kontroversial China terhadap etnis minoritas tersebut.
Poin Utama Uighur
Perlakuan Terhadap Uighur:
* China berusaha untuk membenarkan perlakuan mereka terhadap warga
Uighur, yang dikecam sebagai "genosida budaya"
* Beijing membalas "standar ganda" dari negara Barat dan membela upaya
"anti-terorisme" yang mereka lakukan
* Laporan yang dirilis China dinilai sebagai perang informasi yang
sedang berlangsung terkait etnis minoritas
Laporan yang dirilis hari Minggu (21/7/2019) oleh Departemen Informasi
yang merupakan kepanjangan tangan propaganda Pemerintah China menyajikan
interpretasi versi Partai Komunis terhadap sejarah Uighur.
Laporan itu mengklaim "Islam bukanlah sistem kepercayaan asli atau
tunggal dari masyarakat Uighur".
Dikatakan, Islam disebarkan ke Xinjiang oleh "Kekaisaran Arab" dan
orang-orang Turki Uighur "mengalami perbudakan di tangan orang Turki".
"Perpindahan agama ke Islam bukanlah pilihan sukarela yang dilakukan
oleh warga, tetapi hasil dari perang agama dan pemaksaan oleh kelas yang
berkuasa," kata laporan itu, seraya menambahkan Pemerintah China tetap
menghormati "hak kaum Muslim atas agama mereka".
Lebih dari satu juta warga Uighur, Kazakh dan etnis minoritas Muslim
lainnya ditahan dalam fasilitas yang disebut Partai Komunis sebagai
pusat pendidikan kejuruan. PBB menyebut fasilitas itu sebagai "kamp
pendidikan ulang".
Mereka yang tinggal di luar kamp juga menjadi sasaran pengawasan, karena
Beijing ingin "memberi karakter China terhadap Islam". Kebijakan garis
keras China disebut pengamat sebagai "pembantaian budaya" terhadap
kelompok minoritas etnis Turki.
Laporan Beijing ini dirilis sebagai kampanye melawan kritikan
internasional terhadap perlakuan keras China terhadap warga Uighur,
dengan dalih sebagai tindakan "anti-terorisme" terhadap separatis Uighur
dan Muslim ekstrimis.
"Saya tak berpikir siapapun di luar China, yang mengikuti apa yang
terjadi di Xinjiang, akan tertipu oleh laporan ini," ujar Elaine
Pearson, Direktur Human Rights Watch Australia kepada ABC.
"Laporan ini merupakan distorsi fakta yang aneh dan mencolok," katanya.
Para peneliti telah mengidentifikasi hampir 100 tempat yang diduga kamp
penataran dan fasilitas penahanan di seluruh Xinjiang.
Para peneliti telah mengidentifikasi hampir 100 tempat yang diduga kamp
penataran dan fasilitas penahanan di seluruh Xinjiang. (ABC News)
James Leibold, pakar Uighur dan etnis minoritas China pada Universitas
La Trobe, menilai laporan itu sebagai "contoh klasik dari perang
informasi yang sedang berlangsung di China."
"Seperti propaganda manapun, laporan itu dipenuhi dengan klaim kebenaran
sepihak," katanya.
Media berbahasa Inggris yang dikelola Pemerintah China, Global Times,
memuji laporan itu, dengan mengatakan "orang baik bisa membedakan antara
yang benar dan yang salah."
"Para penghasut yang jahat diharapkan akan membungkam mulut mereka,"
tulis harian itu.
*Etnis Uighur Turki diklaim sebagai warga China*
Warga Uighur sebagian besar adalah minoritas berbahasa Turki yang
memiliki lebih banyak kesamaan bahasa dan budaya dengan orang Turki
daripada dengan mayoritas etnis Han di China.
Sejarawan percaya bahwa bagian dari wilayah Xinjiang telah disebut
sebagai Turkistan sejak era abad pertengahan.
Beijing mengklaim bahwa Xinjiang tak pernah menjadi bagian dari
Turkestan Timur.
Beijing mengklaim bahwa Xinjiang tak pernah menjadi bagian dari
Turkestan Timur. (Flickr: Michael Lieu)
Namun, menurut versi Pemerintah China, wilayah itu "telah lama menjadi
bagian yang tak terpisahkan dari wilayah China" dan tak pernah menjadi
Turkistan Timur.
Leibold mengatakan klaim China itu "jelas tidak benar".
"Ada dua republik independent-semu yang diciptakan pada awal abad ke-20
yang secara eksplisit mengambil nama Turkestan Timur."
Laporan Beijing mengklaim bahwa "sejak awal", budaya Uyghur
"mencerminkan unsur-unsur budaya China" dan merupakan bagian integral
dari peradaban China.
"Bodoh untuk berbicara tentang keberadaan negara China yang bersatu
5.000 atau bahkan 3.000 tahun lalu untuk mencakup apa yang sekarang
menjadi Xinjiang dan orang-orang Uyghur," kata Leibold, menambahkan
bahwa klaim tentang kebebasan beragama di Xinjiang "menggelikan".
"Xinjiang selalu menjunjung tinggi kesetaraan untuk semua agama," kata
laporan itu.
Tetapi tindakan keras Partai Komunis terhadap Muslim dan komunitas agama
lain termasuk Kristen dan Falun Gong telah didokumentasikan dengan baik.
Sebuah laporan dari Amnesty International pada tahun 2018 mengklaim
bahwa ekspresi publik di Xinjiang sekarang dianggap "ekstremis" oleh
pihak berwenang, termasuk menumbuhkan janggut, berdoa atau berpuasa
selama bulan suci Ramadhan.
"Kami telah melihat banyak cara di mana identitas Uighur telah ditekan
dalam beberapa tahun terakhir," kata Pearson, seraya mencatat bahwa
China juga telah melarang nama-nama yang dianggap terlalu Islami.
*Video Player failed to load.*
The
The "cultural genocide" haunting Australian Uyghurs
<https://news/programs/the-world/2019-07-15/the-cultural-genocide-haunting-australian-uyghurs/11311736>
( The World )
*Penahanan massal dikritik Barat*
Australia telah menyatakan kritik atas perlakuan China terhadap warga
Uyghur, dan baru-baru ini bergabung dengan 21 negara lain di Dewan HAM
PBB termasuk Inggris, Kanada dan Jerman dalam mendesak China untuk
mengakhiri penahanannya terhadap etnis Uyghur.
Awal bulan ini, Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, menyebut perlakuan
China terhadap Muslim di Xinjiang sebagai "salah satu krisis hak asasi
manusia terburuk di zaman kita" dan "noda abad ini".
Laporan China mengkritik negara-negara yang tak disebutkan namanya, yang
dianggap "menerapkan standar ganda untuk terorisme dan hak asasi manusia
serta telah mengeluarkan kritik yang tak bisa dibenarkan atas upaya
Xinjiang."
Banyak dari diaspora Uyghur di Barat mengatakan mereka dianiaya oleh
petugas China.
Banyak dari diaspora Uyghur di Barat mengatakan mereka dianiaya oleh
petugas China. (Reuters: Lindsey Wasson)
"Kritik semacam ini mengkhianati hati nurani dan keadilan dasar
kemanusiaan, dan akan ditolak oleh para pencari keadilan," tambahnya.
Sebanyak 35 negara termasuk Arab Saudi, Rusia, dan Korea Utara,
baru-baru ini menuduh negara Barat "mempolitisasi isu HAM" atas warga
Uighur dan memuji apa yang disebut mereka sebagai "prestasi luar biasa"
China dalam masalah HAM.
Puluhan warga Australia terperangkap oleh penindasan China terhadap
warga Muslim di Xinjiang, banyak di antaranya memiliki anggota keluarga
yang ditahan di sana.
Investigasi oleh program Four Corners ABC pekan lalu mengungkap upaya
China melakukan genosida budaya terhadap warga Uighur, termasuk skema
kerja paksa untuk memproduksi kapas yang dibeli oleh produsen pakaian di
negara Barat.
Juga ditemukan bahwa beberapa universitas Australia terkait dengan
teknologi pengintaian yang digunakan terhadap orang Uighur.
*Video Player failed to load.*
Tell the World
Tell the World
Tell the World <https://4corners/tell-the-world/11311228>
( Four Corners )
Ikuti berita-berita lain di situs ABC Indonesia.
<https://www.abc.net.au/news/indonesian/>
*(ita/ita)*
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com