Artikel <https://www.antaranews.com/slug/artikel>
Menyiapkan dialog dengan Presiden di 20 tahun AMAN
Oleh Virna P Setyorini Minggu, 4 Agustus 2019 10:45 WIB
Menyiapkan dialog dengan Presiden di 20 tahun AMAN
Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Rukka Sombolinggi
(berdiri) menjelaskan sejarah berdirinya AMAN di Jakarta, Kamis
(1/8/2019). (ANTARA/Virna P Setyorini)
Jakarta (ANTARA) - Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) mengundang
Presiden Joko Widodo merayakan hari ulang tahun ke-20, sekaligus
mengajaknya berdialog sambil merayakan Hari Internasional Masyarakat
Adat Sedunia (HIMAS) pada 9 Agustus mendatang.
“Akan ada dialog dengan pemerintah. Kami mengundang Presiden, untuk
membuka sekaligus berdialog. Kita upayakan beliau hadir,” kata Ketua
Panitia perayaan HUT ke-20 AMAN Mina Susana Setra di Jakarta.
AMAN merayakan HUT ke-20 sekaligus HIMAS 2019 dengan menggelar berbagai
kegiatan pada 9-11 Agustus di Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan
mengusung tema “Meneguhkan Tekad, Memperkuat Akar, Mengedepankan Solusi”.
Mina mengatakan masyarakat adat yang tergabung dalam AMAN ingin
berdialog, ingin mencari tahu apa rencana pemerintah di periode
pemerintahan selanjutnya.
Bupati, Kementerian Negara, kedutaan besar negara sahabat di Jakarta,
perwakilan PBB, akan diundang. Mereka akan merayakan milad AMAN,
sekaligus menyaksikan penyerahan peta wilayah adat seluas 10,3 juta
hektare (ha) yang berhasil dipetakan sejauh ini dan biografi 20 tahun AMAN.
Malam pagelaran budaya dari masyarakat adat, menurut Mina, juga
disiapkan. Yang di kemudian hari akan dilanjutkan dengan berbagai
aktivitas seperti, workshop valuasi ekonomi wilayah adat, pengenalan
lovelihoods masyarakat adat, sosial media anak-anak adat, kesenian
perempuan.
Pemutaran film terkait masyarakat adat, yang juga diproduksi bersama
masyarakat adat menjadi salah satu acara yang disiapkan. Pameran
produk-produk masyarakat adat, musik, kuliner nusantara, bengkel seni
juga akan dilakukan untuk merayakan 20 tahun AMAN.
“Makanan tradisional dimasak langsung oleh Ibu-ibu dan bapak yang khusus
datang dari kampung. Lalu ada 20 komunitas akan masak khusus menggunakan
bambu yang mereka bawa sendiri dari kampungnya,” ujar Mina.
AMAN, menurut dia, memang ingin mengangkat makanan khas Nusantara yang
kaya bumbu khas, berasal dari tanah dan hutan-hutan adat mereka.
Keberadaan menu-menu khas Nusantara yang biasa dimasak oleh masyarakat
adat ini tentu sangat bergantung dengan keberadaan hutan dan lahan mereka.
Mereka juga akan membawa permainan-permainan tradisional dari kampung
yang sudah tidak dimainkan di kota. Band masyarakat adat dari Indonesia
akan bergabung dengan masyarakat adat dari Taiwan untuk tampil. “Tentu
saja akan ada ritual adat pada tanggal 9 Agustus pagi. Pada tanggal 11
akan ada pemotongan kurban bersama, kita sediakan hewan kurban di TIM,”
ujar dia.
Mina mengatakan AMAN mengundang anak-anak sekolah untuk datang tanpa
harus menggunakan undangan. Karena akan ada berbagai workshop yang
menarik untuk mereka, mulai dari cara membuat gelang anyaman, tenun dan
produk-produk masyarakat adat lainnya.
Para blogger dan vloger pun dapat hadir, karena banyak sekali tokoh adat
yang juga hadir di rangkaian acara HUT AMAN ini yang bisa diwawancara.
Seluruh rangkaian acara ini, menurut Mina, setidaknya akan melibatkan
dan dihadiri oleh sekitar 1.500 orang yang berasal dari perwakilan
Masyarakat Adat dari berbagai wilayah nusantara, perwakilan Masayarakat
Adat dunia dari berbagai negara, pemerintah nasional dan daerah, para
penggiat seni, organisasi-organisasi pendukung dan mitra,
sekolah-sekolah adat dan lain-lain.
*Kembali ke akar bangsa*
Setelah 20 tahun, ujar Mina, AMAN menghadapkan badan kembali ke kampung.
Karena akar budaya masyarakat adat yang merupakan akar bangsa juga ada
di sana.
“Ini visi pemerintah juga yang mau memperkuat kampung dan desa. Serta
memperkuat dengan cerita sukses masyarakat adat di desa,” lanjutnya
Hal ini yang masih perlu diungkap lebih banyak juga oleh media, perihal
kesertaan masyarakat adat menjaga hutan-hutannya sehingga membantu
mengendalikan perubahan iklim, lalu pemanfaatan teknologi-teknologi
mereka yang merupakan bentuk kearifan lokal, dan seterusnya. “Ini yang
di dunia juga sedang menyuarakannya,” ujar Mina.
Direktur Eksekutif REKAM Nusantara Foundation Een Irawan Putra
mengatakan pemikiran jauh ke depan dari masyarakat adat yang menjaga
alamnya akan menyelamatkan semuanya. Tidak semua sadar betapa besarnya
nilai ekonomi dari alam yang mereka jaga selama ini.
Bukti nyata cukup banyak sudah mereka tunjukkan, contohnya di Pegunungan
Arfak, Papua Barat, mereka menjaga kelestarian cendrawasih. Dari sana,
satu kampung bisa menghasilkan setidaknya Rp50 juta dalam beberapa hari
dengan melayani tamu-tamu yang datang untuk melihat cendrawasih, ujar Een.
Itu pula yang terjadi di Lembata dan Solor, Nusa Tenggara Timur, saat
masyarakat adat setempat menjaga lautnya. Valuasi ekonomi dari keteguhan
menjaga alam di tengah bencana ekologis, perubahan iklim, kemiskinan
masif ini diabadikan dalam 20 film-film dokumenter yang delapan di
antaranya mereka garap sendiri.
Menurut Een, penyadaran publik tentang keberadaan dan keberhasilan
mereka menjaga alam yang memiliki valuasi ekonomi tinggi harus dilakukan
bersama. Dan saat tulisan tentang mereka sulit dipahami, maka kampanye
melalui film-film dokumenter sangat pas.
“Kami berharap film ini bisa dilihat, sehingga anak Jakarta juga
tertarik dengan keberadaan masyarakat adat. Para pembuat film diundang
dan bisa cerita langsung ke media. Pemutaran selama tiga hari dilakukan
di Teater Kecil, TIM,” kata Een.
*UU Masyarakat Adat*
Sekjen AMAN Rukka Sombolinggi mengatakan saat ini nasib masyarakat adat
di wilayah Nusantara masih terpinggirkan secara politik dan ekonomi.
Padahal masyarakat adat sudah ada sejak Indonesia belum lahir, dan kini
keberadaannya sangat penting untuk solusi berbagai persoalan bangsa dan
dunia, seperti menghadapi ancaman perubahan iklim.
Kondisi masyarakat adat tersebut menjadi salah satu soroton saat
Perayaan Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia (HIMAS) pada 9
Agustus, sekaligus merayakan 20 tahun AMAN nanti, kata Rukka.
Selama 20 tahun perjuangan AMAN telah terjadi banyak perubahan. Ada
kemenangan-kemenangan kecil dan besar yang patut dicatat, ada
pencapaian, dan penghargaan dari berbagai pihak baik di nasional,
daerah, regional serta internasional.
“Namun masih banyak tantangan yang harus kita hadapi sama-sama, salah
satunya agar masyarakat adat di Nusantara tidak terpinggirkan secara
politik dan ekonomi,” katanya.
Menurut Rukka, sampai saat ini pemerintah belum menunjukkan komitmen
yang serius untuk segera menghadirkan undang-undang yang mengakui dan
melindungi hak-hak masyarakat adat secara komprehensif.
Tumpang tindih Undang-Undang sektoral menyebabkan perlindungan hak-hak
masyarakat adat belum maksimal dan perampasan wilayah-wilayah adat yang
berujung pada konflik masih terus terjadi.
Perkembangan pembangunan yang masih berorientasi pada peningkatan
ekonomi makro mempengaruhi juga eksistensi, identitas dan ketahanan dari
tatanan kehidupan komunitas-komunitas adat. Pengembalian wilayah adat
pun masih terbatas hanya hutan adat saja, belum menyentuh pengembalian
wilayah adat secara utuh.
“Saat ini kehidupan komunitas-komunitas adat sangat berperan penting
untuk mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim, melalui
kelestarian hutan adat dan wilayah adat. Jadi dalam situasi sekarang
ketika terjadi krisis iklim global, maka jawabannya itu ada di komunitas
masyarakat adat," kata Rukka.
Karena itu, ia mengatakan momentum 20 tahun AMAN yang bertepatan dengan
perayaan HIMAS 2019 sangat penting untuk membangun kesadaran sosial
secara lebih luas tentang hak-hak masyarakat adat, sekaligus mendorong
pemerintah mengambil langkah yang diperlukan dalam merespon situasi
Masyarakat Adat di Indonesia yang sudah lama terpinggirkan secara
politik dan ekonomi, serta terabaikan dari proses-proses keadilan.*
*Baca juga:AMAN: perdebatan capres soal impor beras harusnya sudah tidak
ada
<https://www.antaranews.com/berita/800337/aman-perdebatan-capres-soal-impor-beras-harusnya-sudah-tidak-ada>
Baca juga:Aman: RUU Masyarakat Adat langkah progresif selamatkan bangsa
<https://www.antaranews.com/berita/796617/aman-ruu-masyarakat-adat-langkah-progresif-selamatkan-bangsa>*
Upaya Masyarakat Adat Dayak Lestarikan Budaya
Play Video
Play
Unmute
Current Time 0:00
/
Duration 2:28
Loaded:0%
Seek to live, currently playing liveLIVEFullscreen
Oleh Virna P Setyorini
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com