ANALISIS PETER F. GONTHA BAHWA UTANG JOKOWI HANYA RP.16 T.
DALAM 4 TAHUN PEMERINTAHANNYA
ByJMG
<https://andalanpolitik.blogspot.com/2019/02/analisis-peter-f-gontha-bahwa-utang.html>February
01, 2019Ekonomi
<https://andalanpolitik.blogspot.com/search/label/Ekonomi>,Janji Jokowi
<https://andalanpolitik.blogspot.com/search/label/Janji%20Jokowi>,Joko
Widodo
<https://andalanpolitik.blogspot.com/search/label/Joko%20Widodo>,Politik
<https://andalanpolitik.blogspot.com/search/label/Politik>
https://andalanpolitik.blogspot.com/2019/02/analisis-peter-f-gontha-bahwa-utang.html
<https://2.bp.blogspot.com/-d0ikG-dRuyk/XFRR6UPTnSI/AAAAAAAACLQ/iukxdGQf2AY1zaKyrXNBvDhROU2INIAggCLcBGAs/s1600/Ilusinasi%2B11.jpg>
Hi Teman2 Pertiwi, yuk kita viral kan sebanyak mungkin artikel
ini...banyak sekali rakyat kecil termakan isu Jokowi membuat Indonesia
ketiban utang.
Salam 👍 Tuhan Berkati🙏🙏🙏
KUTIPAN DARI KAGAMA ANALISIS PETER F. GONTHA BAHWA UTANG JOKOWI HANYA
RP.16 T. DALAM 4 TAHUN PEMERINTAHANNYA
Salah satu tuduhan haters yang tersebar di medsos adalah Jokowi membuat
Indonesia ketiban utang raksasa. Bayangkan, utang Indonesia mencapai
Rp.5000 Triliun (5000 T). Buaanyaaak sekali, bagaimana bisa membayarnya.?!
Doni – sopir Grabcar – di Bekasi, termakan isu itu. Ia memaki-maki
Jokowi melalui medsos, seorang advokat di Cikampek, Elyasa SH, mengumbar
kebencian terhadap Jokowi dengan menulis utang negara 5000 T tadi.
Tohir, seorang da’i di Lampung – teman Elyasa di Yogya – melakukan hal
sama. Indonesia, menurutnya, akan bangkrut di tangan Jokowi karena utang
yang sundul langit.
Benarkah demikian.?!
Peter F Gontha, pengusaha sukses – pendiri RCTI, SCTV, Berita Satu,
Indovision, dan First Media – menyodorkan data dan fakta bahwa Indonesia
di era Jokowi tidak akan bangkrut bahkan akan melejit perekonomiannya,
karena Jokowi bukan penumpuk utang. Malah, dialah presiden yang
menurunkan utang Indonesia.
Gontha, di awal tulisannya, menyebutkan: Di dunia ini, ada tiga negara
yang terancam bangkrut pada tahun 2018 karena krisis moneter. Yaitu
Turki, Venezuela, dan Malaysia.
Seperti dilansir Reuters, Menteri Keuangan Malaysia Lim Guang Eng
menjelaskan, total utang Malaysia mencapai 1.087 triliun ringgit
(sekitar Rp3.500 T) pada 31 Desember 2017. Konon, utang tersebut
berhilir pada kasus mega korupsi mantan Perdana Menterinya (PM) Najib
Razak beserta istrinya.
Nasib perekonomian Negeri Jiran pun di ujung tanduk. Warga Malaysia
membuat gerakan aksi melunasi utang dengan cara iuran atau patungan. Ini
dilakukan melalui sebuah situs crowdfunding. Di samping itu, PM Mahathir
Mohamad memotong gaji para Menteri dan anggota parlemen seluruh negara
bagian sebesar 10% untuk mengurangi utang yang mencapai 1.087 T Ringgit itu.
Betul. Utang Indonesia lebih besar dari Malaysia. Berdasarkan laporan
Bank Indonesia, pada akhir April 2018, jumlah utang luar negeri (ULN)
berada di angka 356,9 Miliar USD. Sekitar Rp 5.000 T.
Pertanyaannya: Kenapa Malaysia terancam bangkrut, sementara Indonesia
tidak.?! Demikian pertanyaan Gontha. Pria yang mendapat julukan “Rupert
Murdoch” Indonesia (karena memiliki media massa) itu, menjawab sendiri
pertanyaannya.
Menurut Gontha – hal itu terjelaskan dari rasio utang negara terhadap
Produk Domestik Bruto (PDB). Utang Malaysia memang hanya Rp 3.500
triliun. Tapi rasionya terhadap PDB lebih dari 60%. Sebaliknya
Indonesia, meski berutang hingga Rp 5.000 T, namun rasio utangnya
terhadap PDB hanya 29%.
“Dengan rasio utang yang lebih dari 60% PDB, Malaysia akan sulit
membayar cicilan utangnya. Hal ini akan membawa efek berantai kondisi
moneter Malaysia,” tulis mantan akuntan di City Bank New York itu.
Tahun-tahun sebelumnya Malaysia jarang sekali punya utang lebih dari 300
Miliar Ringgit. Utang yang mencapai 1.087 Triliun Ringgit itu terjadi
akibat dugaan kasus korupsi di 1MDB (1 Malaysia Development Berhad).
1MDB adalah semacam BUMN yang didirikan mantan PM Najib Razak untuk
menghimpun dana pembiayaan proyek infrastruktur Malaysia.
Turki nyaris bangkrut karena pemborosan dan salah kalkulasi, sedangkan
Venezuela bangkrut karena dulu, di zaman Hugo Chavez terlalu
menina-bobokan rakyatnya dengan subsidi macam-macam yang berasal dari
petro dolar.
Akibatnya, ketika harga minyak jatuh, negeri pun koleps. Keuangan negara
ambles. Rakyat marah karena harga-harga melejit. Dunia internasional tak
mempercayainya lagi.
Indonesia Hebat..!!
Tulis Gontha: Ada yang salah dari kritik oposisi terhadap utang
pemerintah. Mengapa? Karena cerita balutan utang yang dikritik oposisi
hanya menekankan kata "utangnya saja". Tanpa penjelasan komprehensif.
Oposisi hanya mengkritik sisi kritisnya, sedangkan sisi prospeknya
disembunyikan.
Soal utang negara, tulis Gontha, sepanjang pemerintahan Jokowi tercatat
sekitar Rp 1.644,22 T. Bila utang Era Jokowi tadi ditambah dengan utang
Era SBY (sampai tahun 2014 sebesar Rp 2.608,8 T), memang jumlahnya besar
sekali. Per-Juli 2018, tercatat 4.253,02 T.
So, utang Jokowi hanya Rp 1.644,22 T. Tapi oposisi mengangkatnya menjadi
Rp.5000 T. Padahal, jika cermat itung-itungannya, utang Jokowi jauh
lebih kecil dibanding utang SBY.
Pertanyaan berikutnya – tulis Gontha -- manfaat apa yang dirasakan
rakyat dari utang Era Jokowi.?!
Jawabnya adalah :
Pembangunan I infrastruktur secara massif di seluruh Indonesia! Mulai
infrastruktur air, pertanian, listrik, BBM (satu harga), dan jalan raya.
Semua wilayah terisolasi dibuka. Jokowi membuka gerbang konektivitas
seluruh nusantara. Mulai dari wilayah terpencil, termasuk perbatasan
(dengan negara lain), dan wilayah terdepan di pulau-pulau kecil di
tengah Samudera Hindia dan Pasifik.
Tak hanya itu. Ada yang luput dari perhatian publik. Jokowi selain
menambah utang, juga membayar utang yang jumlahnya cukup besar.
Lihat data :
Total utang jatuh tempo dari 2014 (Era SBY) hingga 2018 (Era Jokowi)
yang dibayar pemerintah mencapai Rp.1.628 T. Utang yang dibayar ini
merupakan pinjaman dan surat berharga negara (SBN).
Pada tahun 2014 :
- Misalnya Pemerintahan Jokowi membayar utang jatuh tempo Rp.237 T.
- Tahun 2015 sebesar Rp.226,26 T.
- Tahun 2016 sejumlah Rp.322,55 T.
- Sedangkan tahun 2017 sebesar Rp 350,22 T.
- Bahkan tahun 2018 di tengah isu miring, Jokowi membayar utang senilai
Rp 492,29 T.
Jokowi berutang Rp 1.644 T, tapi mampu membayar utang Rp 1.628 T.
Artinya, utang Jokowi sejatinya cuma Rp 16 T dalam 4 tahun kepemimpinannya.
Bandingkan dengan utang tinggalan SBY selama 10 tahun yang mencapai
Rp.2.608.8 Triliun.
Kenapa Era SBY utangnya demikian besar.?!
Karena untuk menyubsidi BBM Rp.300 Triliun/tahun. Belum lagi rente yang
dicatut broker minyak Petral di Singapura. Kedua kanker tersebut telah
dipotong Jokowi.
Gontha – akuntan handal lulusan Praehap Institute di Belanda itu
bertanya, pakah hal itu bisa disebut gali lubang tutup lubang.?!
No. Hanya pebisnis anak papi dan mami yang menyatakan pemerintah
berutang untuk gali lubang tutup lubang – tulis mantan Vice Presiden
American Express Bank Asia yang mulai berbisnis dari bawah itu.
Jokowi, sebelum jadi presiden adalah pengusaha handal. Ia bukan
pengusaha rente. Bukan pengusaha Papa minta saham.
Hidup dalam berbisnis, tulis Gontha, perlu modal. Dan modal didapat dari
utang. Dengan berutang, pelaku bisnis bisa membeli aset, atau alat
penggerak usaha. Hasilnya bisa untuk membayar utang.
Lihat driver gojek. Awalnya berutang untuk beli motor. Motor itu untuk
ojek online (ojol). Pendapatannya dari ojol bersih, katakan antara Rp.5
- 8 juta sebulan. Ia bisa menghidupi anak istrinya dan melunasi
cicilannya. Motor pun kemudian jadi aset sang driver.
Itu pula yang dilakukan negara. Asal kalkulasinya cermat, utang itu akan
terbayar dan negara punya aset. Hebatnya lagi, tidak seperti motor yang
nilai intrinsiknya terus turun dari tahun ke tahun. Jalan tol,
pelabuhan, bendungan, dan bandara nilai intrinsiknya makin lama makin
mahal. Negara pun berlimpah aset berharga. Kaya!
Jokowi selama 4 tahun mampu membayar utang Rp.1.628 Triliun. Jokowi
berjanji tidak akan menambah utang lagi, khususnya utang luar negeri
berbasis USD. Jokowi juga menginginkan semua pembangunan infrastruktur
rampung secepatnya. Artinya, infrastruktur tersebut segera menghasilkan
uang.
Kalau dalam 4 tahun Jokowi bisa membayar Rp 1.628 triliun. Lalu setiap
tahunnya pendapatan negara meningkat karena infrastruktur yang
dibangunnya telah menghasilkan uang, maka besar kemungkinan Indonesia
bisa membayar utang lebih besar dari angka jatuh tempo sebelumnya.
Bila itu terjadi, tulis Gontha (akuntan kaliber internasional), sekitar
10 tahun lagi, Indonesia akan bebas utang. Wow..!! Bila tercapai,
Indonesia akan tumbuh menjadi negara kuat dan makmur.
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com