*Kalau perusahaan kabur, lantas bagaimana dengan nasib para buruh, apakah
mereka mmendapaat tunjangan selama menganggur?*

https://www.eramuslim.com/berita/nasional/140-perusahaan-kabur-dari-jabar-ini-sikap-ridwan-kamil.htm/2#.XUb1Pegza00

Ahad, 1 Zulhijjah 1440 H / 4 Agustus 2019
*140 Perusahaan Kabur dari Jabar, Ini Sikap Ridwan Kamil*o
<https://www.eramuslim.com/fokus>

Eramuslim.com – Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan, lebih dari 140
perusahaan di Jawa Barat tutup, atau pindah dari wilayahnya gara-gara upah.

“Ada 100-an lebih pabrik yang tutup di Jawa Barat, ada yang pindah juga.
Totalnya ada 140-an, antara yang tutup dan pindah. Pindah terbagi ada yang
pindah ke provinsi lain, ada yang keluar negeri. Hampir semua, alasan
penutupan itu berkaitan dengan upah yang tinggi,” kata dia selepas bertemu
dengan perwakilan ILO, di Bandung, Senin 29 Juli 2019.



“Ini yang jadi sorotan mereka, subjektivitas pengupahan ini gap-nya terlalu
jauh. Contoh Pangandaran Rp 1,6 juta, kalau tidak salah dengan Karawang Rp
4,2 juta, bisa sampai Rp 2,5 juta bedanya,” kata Ridwan.

Ridwan Kamil mengatakan, ILO menawarkan usulan agar Indonesia
mengelompokkan jenis industri berdasarkan provinsi, lalu daerah
masing-masing menawarkan penghitungan sistem kebutuhan layak yang wajar di
tiap daerah. “Misalkan Jabar fokus ke manufaktur, Jateng khusus yang
tekstil atau apa, itu harus pusat (yang memutuskan). Sehingga nanti
industri tidak terlalu beragam. Perbedaan keragaman industri yang
mengakibatkan upahnya itu jomplangnya gak pernah selesai,” kata dia..



Ketua Apindo Jawa Barat Dedy Widjaja membenarkan kesenjangan upah yang
dinilainya cukup besar di Jawa Barat. “Upah di Jawa Barat itu ada yang
sangat tinggi, diantaranya tertinggi di Indonesia yaitu di Karawang. Ada
juga upah yang daerah lain seperti Majalengka dan Pangandaran di bawah Rp 2
juta. Tapi masih banyak perusahaan yang keluar dari Jawa Barat, dia pindah
keluar negeri, ada yang ke Jateng dan sebagainya,” kata dia, Senin, 29 Juli
2019.

Dedy mengatakan, sistem upah saat ini membuat kinerja usaha tidak efisien.
Dia mencontohkan, protes upah setiap tahun lewat unjuk rasa justru sering
terjadi di daerah dengan nilai upah yang sudah tinggi seperti di Karawang
dan Bekasi. “Daerah dengan upah yang rendah malah hampir tidak pernah unjuk
rasa. Mereka mensyukuri ada industri yang datang ke sana,” kata dia..

Rapat bersama ILO tersebut , tutur Dedy, membahas soal pengelompokan jenis
industri berdasarkan besaran upahnya di daerah. “Di daerah yang sudah
tinggi khususnya untuk padat modal, padat karya disentralkan di
tempat-tempat seperti di Majalengka, Pangandaran, Ciamis, Garut, dan
sebagainya. Dengan yang namanya zona ini pasti tidak akan terjadi
gejolak-gejolak seperti hari ini,” kata dia.

Sesuai dengan pernyataan Ridwan Kamil, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi
Jawa Barat mencatat dalam 3 tahun terakhir terdapat 21 pabrik pindah dari
Jawa Barat, dan 143 pabrik tutup. Dari total 164 pabrik, 48 persen
merupakan perusahaan garmen, 21 persen pabrik tekstil, dan sisanya
manufaktur lain. [tc
<https://bisnis.tempo.co/read/1229834/140-perusahaan-hengkang-dari-jabar-ridwan-kamil-gara-gara-upah/full&view=ok>
]

Kirim email ke