https://nasional.tempo.co/read/1232230/pengamat-intelijen-beber-kejanggalan-listrik-padam-secara-massal



*Pengamat Intelijen Beber Kejanggalan Listrik Padam Secara Massal*

Reporter:
*Halida Bunga*

Editor:
*Amirullah*

Senin, 5 Agustus 2019 11:50 WIB

<https://statik.tempo.co/data/2019/08/05/id_861019/861019_720.jpg>*Suasana
gelap di sebuah lapak pedagang makanan kaki lima akibat pemadaman listrik
di kawasan Sabang, Jakarta, Minggu, 4 Agustus 2019. PT PLN menghitung
potensi kerugian mencapai Rp 90 miliar akibat padamnya listrik secara
massal di sebagian Pulau Jawa hari ini. TEMPO/M Taufan Rengganis*

*TEMPO.CO <http://TEMPO.CO>*, *Jakarta* - Analis keamanan dan
intelijen Ridlwan Habib menilai ada kejanggalan dari peristiwa listrik padam
<https://bit.ly/2MFz7RU> yang terjadi di setengah Pulau Jawa, Ahad, 4
Agustus 2019.

“Apakah karena *human error*? Atau sistem dalam operasi di Ungaran itu
dilakukan serangan *hacking*?” kata Ridlwan kepada Tempo pada Senin, 5
Agustus 2019.

Kejanggalan itu muncul lantaran gangguan tak hanya terjadi di
transmisi Ungaran-Pemalang, tapi juga di pembangkitnya yaitu PLTU Suralaya.
Dua kejadian simultan dan serentak ini, kata Ridlwan, sulit dijelaskan jika
disebut kebetulan.

Dia menjelaskan, jika gangguan ini adalah *hacking*, serangan itu bisa
dilakukan dengan berbagai macam cara. Hacker bisa meretas sistem operasi
aplikasi PLN, seperti aplikasi pengatur suhu, pengatur tekanan, hingga
aplikasi perpindahan jaringan sehingga dapat mengganggu sirkuit.



Ridlwan mencontohkan seorang hacker Rusia yang meretas sistem Amerika
Serikat. Para hacker melakukan *hacking* ke pejabat atau petugas transmisi
listrik dan dapat masuk ke email, telepon genggam, sehingga perangkat
digital terkuasai oleh hacker.

“Kemudian mendapatkan pola kerja, interaksi, bagaimana seseorang
berhubungan dengan yang lain. Dari situ mendapatkan akses untuk membuka
sistem yang memakai kunci, *password*, *username*yang khusus sehingga dia
masuknya nyerang lewat personelnya,” kata Ridlwan.

Menurut dia, PLN harus segera melakukan investigasi untuk mencari
penyebabnya, khususnya mewaspadai kemungkinan adanya serangan
siber terorisme di infrastruktur listrik.

 “Jika ini serangan, Indonesia sangat *vulnerable*. Semoga saja ini
hanya *human
error*, tapi saya enggak yakin *human error*,” katanya.

*HALIDA BUNGA FISANDRA*

Kirim email ke