Atasi Karhutla, Jokowi: jangan biarkan api membesar baru kita bergerak
Selasa, 6 Agustus 2019 13:14 WIB
Atasi Karhutla, Jokowi: jangan biarkan api membesar baru kita bergerak
Presiden Joko Widodo saat memberikan pengarahan dalam Rapat Koordinasi
Nasional Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) 2019 di
Istana Negara Jakarta, Selasa (6/8/2019). (ANTARA/Joko Susilo)
yang tidak bisa mengatasi dengan perintah yang sama, copot kalau tidak
bisa mengatasi yang namanya kebakaran hutan dan lahan
Jakarta (ANTARA) - Presiden Joko Widodo meminta kepada gubernur,
pangdam, kapolda dan jajaran dibawahnya untuk segera memadamkan api
sekecil apapun untuk mencegah kebakaran lahan dan hutan (karhutla)
makin meluas sehingga menyebabkan bencana asap.
"Jangan meremehkan adanya hotspot. Jika api muncul langsung padamkan
jangan tunggu sampai membesar. Saya gak perlu bicara banyak-banyak,
karena semua sudah tahu cara menangani seperti apa, cara pencegahan
seperti apa. Ngga perlu kita ulang-ulang," kata Jokowi saat memberikan
pengarahan dalam Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Kebakaran Hutan
dan Lahan (Karhutla) 2019 di Istana Negara Jakarta, Selasa.
Jokowi juga menyinggung soal aturan main penanganan karhutla yang telah
ditetapkan sejak terjadi bencana asap 2015 dan tidak terulang lagi,
yakni telah meminta Panglima TNI dan Kapolri mencopot jajarannya yang
tidak bisa menangani karhutla.
"Dan aturan main kita tetap, masih sama. Saya ingatkan pangdam, danrem,
kapolda, kapolres, aturan main yang saya sampaikan 2015 masih berlaku.
Yang tidak bisa mengatasi dengan perintah yang sama, copot kalau tidak
bisa mengatasi yang namanya kebakaran hutan dan lahan," katanya.
Dalam penanganan karhutla, Jokowi meminta untuk mengutamakan upaya
pencegahan sehingga kasus 2015 yang menyebabkan bencana asap ke negara
tetangga tidak terjadi lagi.
"Kita ingat 2015 dan tahun-tahun sebelumnya, kebakaran hutan dan lahan
selalu terjadi hampir di semua provinsi. Saya ingat kerugian saat itu
mencapai Rp221 triliun dengan lahan yang terbakar, kurang lebih, seingat
saya 2,6 juta hektare. Oleh sebab itu, peristiwa itu jangan sampai
terjadi lagi," harapnya.
Jokowi juga mengingatkan jika dibandingkan 2015, tahun ini memang turun
81 persen, tetapi dengan 2018, tahun ini naik lagi.
"Ini yang tidak boleh. Harusnya tiap tahun turun, turun, turun terus.
Menghilangkan total memang sulit tetapi harus tekan turun," tegasnya.
Kepala Negara menegaskan untuk segera menanggulangi bencana karhutla
sesegera mungkin, karena jika sudah meluas dan membesar akan sulit
ditanganinya.
"Apalagi di hutan gambut, sangat sangat sulit sekali padamnya. Meskipun
saya belum dapat laporan terakhir dari Kepala BRG, apakah kanal-kanal
untuk lahan gambut masih terus atau sudah berhenti. Tapi, ini dalam
jangka panjang akan sangat berguna sekali dalam mengelola hutan dan
lahan kita," katanya.
Untuk itu, Jokowi meminta gubernur, pangdam, kapolda, kerja
berkolaborasi, dibantu dengan pemerintah pusat, Panglima TNI, Kapolri,
BNPB, dan BRG menangani bencana karhutla ini
Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan
(Karhutla) 2019 itu dihadiri Menko Polhukam Wiranto, Panglima TNI
Marsekal Hadi Tjahjanto, dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian serta
beberapa kepala daerah, pangdam dan kapolda.
*Baca juga:Lima daerah di Riau diselimuti asap karhutla
<https://www.antaranews.com/berita/995970/lima-daerah-di-riau-diselimuti-asap-karhutla>
Baca juga:Akibat kabut asap jarak pandang di Kota Jambi 3,9 km
<https://www.antaranews.com/berita/995046/akibat-kabut-asap-jarak-pandang-di-kota-jambi-39-km>
Baca juga:Kebakaran lahan di Ogan Ilir, Satgas kerahkan 4 helikopter
pembom air
<https://www.antaranews.com/berita/994776/kebakaran-lahan-di-ogan-ilir-satgas-kerahkan-4-helikopter-pembom-air>*
Jokowi kurban sapi seharga Rp65 juta di Sulteng
Play Video
Play
Unmute
Current Time 0:00
/
Duration 1:32
Loaded:0%
Seek to live, currently playing liveLIVEFullscreen
Pewarta: Joko Susilo
Editor: Budi Santoso
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com