Perlu cepat ditindak sebelum BUMN jadi Bancakan Uang Milik Negara....... Pada tanggal Sel, 6 Agu 2019 pukul 16.43 Al Faqir Ilmi [email protected] [GELORA45] <[email protected]> menulis:
> > > BUMN dan Politik > > Bukan rahasia umum bila banyak karyawan BUMN yang terpapar politik > identitas. Mereka tidak memilih Jokowi dan secara diam diam mendukung 02. > Secara politik , itu hak mereka menentukan pilihan politiknya. Dalam sistem > demokrasi itu syah syah saja. Tapi kalau mereka tidak memilih Jokowi dan > akhirnya Jokowi bisa menang, mereka seharusnya menunjukan kapasitas dirinya > sebagai orang beragama yang sudah terlanjur cinta dengan politisasi agama.. > Apa itu ? Anti korupsi dan bekerja sebagai dasar ibadah sebagai ujud > akhlak. Yang jadi masalah adalah belakangan ini satu demi satu kebobrokan > BUMN mulai tersingkap. Garuda, PLN, Angkasa Pura, Pansus DPR telah > memutuskan Meneg BUMN bersalah atas kasus Dirut Pelindo, PT. Pos. > > Kemungkinan kedepan akan ada lagi ledakan kecil dari munculnya kasus baru > BUMN. Harap dimaklum selama periode pertama, BUMN berlomba lomba > mendapatkan proyek penugasan dari pemerintah. Mereka yang tadinya bekerja > lambat, diharuskan bekerja cepat menyelesaikan agenda Jokowi. Perubahan > paradigma bisnis yang begitu cepat pasti akan ada dampak negatifnya. Saya > teringat ketika bertemu dengan pejabat China, dia mengatakan, bahwa sejak > tahun 1980an, BUMN China mendapat peran sangat besar mengaktualkan mimpi > Deng namun pada waktu bersamaan, ribuan Karyawan BUMN masuk penjara kerena > korup dan tak sedikit elite partai Komunis yang berhadapan dengan regu > tembak karena korupsi. Ribuan BUMN dan BUMD ditutup karena tidak efisien.. > Begitu juga denga direksi BUMN nya yang banyak kena hukuman mati. > > Proses pembangunan tidak bisa berhenti. Kita tidak bisa menanti BUMN > bersih, baru kemudian pembangunan dilaksanakan. BUMN tetap harus digaris > depan dalam pembangunan nasional. Apalagi Asset BUMN itu 80% dari GNP kita. > Besar sekali sumber dayanya. Karenanya proses pembersihan harus sama > focusnya dengan penugasannya. Semakin besar peran BUMN dalam ekonomi > nasional semakin besar pengawasannya secara hukum dan moral. Jokowi engga > perlu terkesima dengan kehebatan direksi BUMN. Itu bukan hal yang luar > biasa. Karena sudah sepatutnya mereka hebat. Mereka dibayar engga murah. > Kalau mereka melanggar dan rendah kinerja, sikat aja. Masih banyak anak > bangsa yang mampu dan siap menerima tugas. > > Sebetulnya indikasi pembersihan BUMN itu sudah ada dan akan dilakukan > Jokowi sebelum Pilpres. Hampir semua pejabat BUMN dan karyawan BUMN tahu > itu. Karenanya tidak salah bila pilihan politik kebanyakan karyawan BUMN > bukan kepada Jokowi tetapi kepada PS. Kalau mereka merasa nyaman dengan PS, > bukan karena PS hebat tetapi karena di belakang PS ada ormas islam tempat > mereka bernaung. Keyakinan memilih 02 adalah cara menyelamatkan diri dari > reformasi BUMN yang bisa membuat priok nasi mereka terbalik. Sementara para > elite pendukung statusquo juga sadar bahwa akses politik mereka kepada BUMN > akan di bonsai di periode kedua Jokowi. Makanya mereka tidak menerima > kekalahan 02 begitu saja. Sampai ke MK dan akhirnya kalah dengan catatan > tidak puas. > > Kini Tuhan membuka jalan Jokowi untuk melakukan perubahan BUMN. Satu demi > satu borok BUMN terbuka secara natural. Sehebat hebat menyembunyikan bau > tetap akan terbuka dengan sendirinya. Kita harus mengawal proses reformasi > BUMN ini. Karena 2/3 GNP kita ada di sini. Focus kemari sama dengan > menyelamatkan 2/3 sumber daya nasional untuk anak cucu kita. Yang salah, > kita kritik dengan memberikan masukan positip, yang benar kita apresiasi. > Jadi pak Jokowi, engga perlu nunggu bulan oktober ganti Menteri. Lakukan > sekarang saja. Mengapa ? waktu berjalan terus dan tikus terus mengerat > tiada henti, pagi siang dan sore. Sehari terlambat , tidak sedikit > sumberdaya hilang. Semoga Tuhan memberikan kekuatan kepada bapak mengemban > amanah. Amin. > > > Dikirim dari Yahoo Mail untuk iPhone > <https://overview.mail.yahoo.com/?.src=iOS> > > >
