https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1587-jangan-setengah-setengah
/*Jangan Setengah-Setengah*/
Penulis: *Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group* Pada: Selasa, 06 Agu
2019, 05:30 WIB podium <https://mediaindonesia.com/podiums>
<https://www.facebook.com/share.php?u=https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1587-jangan-setengah-setengah>
<https://twitter.com/home/?status=Jangan Setengah-Setengah
https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1587-jangan-setengah-setengah
via @mediaindonesia>
Jangan Setengah-Setengah
<https://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/podiums/2019/08/3cc2c2ae46f82f2f5b9e5f447c65811f.jpg>
/MI/
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
Perjalanan sebuah bangsa mencapai kemajuan merupakan perjuangan yang
berat. Ibarat pohon, semakin tinggi akan semakin keras angin yang
menerpa. Dibutuhkan kesungguhan dan kemauan yang keras untuk mencapai
puncak tertinggi.
Demikian pula keinginan kita untuk menjadi kekuatan besar ekonomi dunia.
Tidak bisa taken for granted bahwa kita akan dengan sendirinya menjadi
kekuatan ekonomi keempat terbesar di dunia. Semua komponen bangsa harus
memacu dirinya dengan keras.
Kita harus berani mengakui bahwa kita belum memiliki elan yang kuat
untuk mencapai itu. Pada kita masih kuat sikap untuk bersantai-santai.
Sikap ewuh pekewuh yang kuat membuat kita mudah untuk memaafkan kesalahan.
Sebaliknya begitu kuat sikap untuk mengeluh. Ketika angka pertumbuhan
ekonomi masih berada di kisaran 5%, kita mudah untuk menunjuk kambing
hitam. Tidak pernah berani untuk melakukan introspeksi, apa yang sudah
kita kontribusikan untuk kemajuan bangsa dan negara ini.
Kita harus mengubah sikap untuk mau selalu memacu diri ini. Salah satu
contoh perubahan sikap yang harus kita lakukan ialah langkah lanjut yang
akan dilakukan menyusul pemadaman listrik yang terjadi mulai Minggu
(4/8) siang hingga Senin (5/8) pagi.
Bagaimana mereka yang bertahun-tahun berkecimpung dalam dunia
kelistrikan tidak mampu cepat memulihkan kehilangan daya yang terjadi?
Bagaimana mulai dari pembangkit, saluran transmisi tegangan tinggi,
hingga gardu induk bisa mati secara bersamaan?
Editorial surat kabar ini kemarin mengingatkan, listrik adalah bagian
dari peradaban. Semua bangsa di dunia menjaga sebaik mungkin pasokan
listrik mereka karena itu bagian dari kehidupan. Memang seperti di New
York pernah terjadi black out, tetapi hitungan pemulihannya tidak
berjam-jam.
Hal yang sama terjadi ketika bencana tsunami melanda Jepang pada 2011.
Negara itu harus mematikan pembangkit listrik tenaga nuklirnya. Namun,
mereka bisa mengambil langkah cepat untuk mengurangi pasokan listrik
kepada masyarakat tanpa harus berlama-lama membiarkan rakyat hidup dalam
kegelapan.
Kejadian Minggu lalu kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Pihak Perusahaan Listrik Negara bolak-balik mengirim pesan untuk meminta
maaf, tetapi tidak memberi penjelasan mengenai apa yang sebenarnya
terjadi, apa yang harus dilakukan masyarakat, dan berapa lama kita harus
mengalami kegelapan.
Setelah hampir 6 jam, baru aliran listrik untuk wilayah Jakarta mulai
bisa pulih. Namun, untuk daerah pinggiran baru sekitar pukul 21.00 bisa
mendapatkan kembali aliran listrik. Bahkan, pada tengah malam daerah
pinggiran Jakarta kembali mengalami pemadaman dan baru pagi hari kembali
berfungsi.
Tidaklah mungkin kita akan menjadi bangsa yang besar kalau untuk urusan
seperti ini kita tidak mampu menangani dengan baik. Kembali kita
mengingatkan mengenai pimpinan Mitsui, Jepang, terkait arti kerja keras
itu. Menurut dia, kerja keras adalah ketika kita bekerja dengan
sungguh-sungguh. Bahkan, kalau perlu, sampai tiga hari tidak tidur dan
urine kita warnanya menjadi cokelat.
Kita paham mengapa Mitsui kemudian bisa menjadi perusahaan raksasa dunia
dan bangsa Jepang menjadi bangsa yang maju. Mereka tidak pernah bekerja
setengah-setengah dan selalu memacu diri untuk mencapai prestasi paling
puncak.
Presiden Joko Widodo memanggil seluruh pejabat terkait untuk membahas
persoalan pemadaman yang terjadi Minggu. Presiden pantas meminta
pertanggungjawaban para pejabat PLN dan meminta penjelasan mengapa
sampai tidak berdaya menangani persoalan pemadaman listrik.
Tanpa ada perbaikan prosedur penanganan ketenagalistrikan yang benar
maka kita akan terpuruk. Bagaimana kita akan bisa menarik investasi
kalau pasokan listrik tidak bisa dijamin seperti kemarin. Berapa
kerugian yang dialami karena ketidakjelasan dan berlama-lamanya
pemadaman yang terjadi? Harus dibuat aturan berapa toleransi pemadaman
yang boleh terjadi dalam satu tahun. Kalau tidak mampu, ya tidak perlu
pejabatnya diberi kepercayaan menangani ketenagalistrikan nasional.
Bahkan ada yang mengusulkan agar PLN sudah saatnya dipecah. Tentu tetap
sebagai badan usaha milik negara karena listrik berkaitan dengan hajat
hidup orang banyak. Namun, penanggung jawab wilayah yang ada sekarang
ini diberi tanggung jawab korporasi yang lebih lengkap sebab Indonesia
ini luasnya sama dengan dari London hingga Moskow. Terlalu riskan semua
diserahkan kepada satu orang yang ada di Jakarta saja, padahal yang
harus ditangani tersebar di seluruh Indonesia.
<https://www.facebook.com/share.php?u=https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1587-jangan-setengah-setengah>
<https://twitter.com/home/?status=Jangan Setengah-Setengah
https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1587-jangan-setengah-setengah
via @mediaindonesia>