Sementara proyek menggusur BBM fosil dengan BBM sawit terhadang produsen mobil 
nondiesel, Luhut berkeinginan mengimpor mobil listrik.
Sanggupkah Jokowi dan produsen mobil listrik dari Korsel bernego dengan mobil 
impor Luhut-RRC? 

 -


DorongInvestasi, Luhut Ingin Impor Mobil Listrik Dilonggarkan 

Reporter:
Antara
Editor:
Rahma Tri

Kamis, 11 Juli 201907:59 WIB

TEMPO.CO, Jakarta - MenteriKoordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar 
Pandjaitan menyebut bahwapemerintah akan membuka keran impor mobil listrik 
untuk jangka waktu tertentu.Kelonggaran ini diberikan untuk mendorong 
pengembangan kendaraan listrikdi Tanah Air.

Usulanitu akan dimasukkan dalam draf Peraturan Presiden tentang Kendaraan 
Listrikyang hingga kini tak kunjung rampung meski telah dijanjikan akan selesai 
sejakakhir 2017.

“Kemarinsaya balik dari luar (kunjungan kerja), saya lihat lagi ada satu 
klausul, yaituimpor mobil. Jadi, impor mobil (diperbolehkan) sampai nanti jadi 
pabriknya.Kalau bikin pabrik, ya, sampai pabriknya jadi. Kita bikin tenggat 
waktu 3 tahunatau berapa,” katanya di Jakarta, Rabu 10 Juli 2019 malam.

Untukmendorong investasi dan industri kendaraan listrik di Indonesia, menurut 
Luhut,pada mulanya perlu diberikan kelonggaran impor terlebih dahulu. Impor 
mobilatau kendaraan listrik akan diperbolehkan sekaligus untuk keperluan uji 
coba.

“Nantikalau misalnya ada orang investasi mobil listrik, dia bikin dalam kurun 
waktutertentu, (dia) masih bisa impor mobil listriknya kemari untuk sekalian 
ujicoba,” kata Luhut.

Luhutpun mengatakan bahwa Perpres tentang Kendaraan Listrik bukan disengaja 
untukterus mundur disetujui dan diteken oleh Presiden Jokowi. Menurut 
dia,aturan mengenai kendaraan listrik harus disusun tersebut secara seksama 
agartidak menghambat investasi sehingga pengembangannya bisa optimal.

“Bukanmundur-mundur. Kita menemukan masih ada yang kurang pas. Jangan nanti 
kita buatperpres-nya ternyata malah menghambat investasi kemari,” ujar Luhut.
ANTARA

Kirim email ke