----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: Sunny ambon [email protected] [GELORA45] <[email protected]>Terkirim: Jumat, 16 Agustus 2019 12.36.01 GMT+2Judul: [GELORA45] Soumokil: Antara Federalis dan Separatis
https://tirto.id/soumokil-antara-federalis-dan-separatis-cnki Soumokil:Antara Federalis dan Separatis RMS:Palagan Penebusan Eks KNIL... KetikaPara Sersan Menegakkan... Soumokil:Antara Federalis dan... RMSyang Mencoba Bertahan di... Soumokil(kanan) menjadi presiden pertama RMS. FOTO/ Collectie MoluksHistorich Museum Oleh:Petrik Matanasi - 24 April 2017 DibacaNormal 4 menit Soumokil, tokoh RMS palingterkenal, adalah kisah tragedi. Ia mewakili sebuah generasi yangterjepit karena situasi pasca-kolonial. tirto.id -Setelah tragedi 1965, Ventje Sumual, bekas pemimpin Permesta, melihatgelagat dirinya akan dibebaskan dari rumah tahanan militer. Anginperubahan yang dipicu penculikan dan pembunuhan para jenderal padadini hari 1 Oktober 1965 itu membuat orang-orang yang ditahan di masakepemimpinan Sukarno berpeluang menghirup kebebasan kembali. Namun,Ventje tak hanya memikirkan diri sendiri. Menjelang pembebasannya, iabertanya soal nasib seorang kawan yang menghadapi hukuman maha berat.Kawannya itu biasa disapa Pacek (Bapak), karena usianya memang jauhlebih tua dari Ventje. ''Pacek, sudah dapat grasi?'' Ventjebertanya langsung kepada yang dipanggil Pacek itu. SeingatVentje, seperti terpapar dalam Memoar: Ventje Sumual (2011),si Pacek hanya menggelengkan kepala saja. Wajahnya terlihat murung.Setahu Ventje, si Pacek kemudian dieksekusi seperti halnya Ibnu Hajardan Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo. DariAndi Azis ke RMS Si pacek yang dimaksud Ventjeadalah Christian Robert Steven Soumokil, orang nomor satu dalamRepublik Maluku Selatan (RMS). Sebelum terlibat di RMS,Soumokil juga melibatkan diri dalam peristiwa perlawanan Andi Azis,salah seorang perwira Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat(APRIS). Saat itu ia masih menjadi pejabat Negara Indonesia Timur(NIT) dengan jabatan sebagai Menteri Kehakiman dan Jaksa Agung.Gerakan untuk membubarkan NIT, dan kembali pada Republik Indonesia,ditentang oleh Andi Azis. Sebelum Peristiwa Andi Azis meletuspada 5 April 1950, Soumokil mengundang Andi Azis ke rumahnya diMakassar pada malam hari 4 April 1950. Malam itu, beberapa KNIL asalAmbon sudah siap tempur menghalau pasukan dari Jawa. Keesokanharinya, pasukan yang dipimpin Andi Azis bergerak menyerang kantorstaf kwartier dan asrama CPM di Jalan Walter Mongisidi. Pertempurantidak terhindarkan Ketika Makassar rusuh, Soumokil masih didalam kota. Namun pada 12 April 1950, dengan pesawat militer Belanda,Soumokil terbang ke Ambon dengan lebih dulu singgah di Manado.Sebelum terbang, ia masih sempat bertemu Andi Azis. Dalam pertemuanitu, seperti ditulis Rosihan Anwar, dalam Sejarah Kecil: La PetiteHistoire Indonesia (2004), ia berkata kepada Andi Azis: “Jika ose(Anda) mati, beta akan berjuang sampai titik darah penghabisan.” Duahari setelahnya, Andi Azis yang sudah hancur reputasinya di matapemerintah pusat dan petinggi APRIS karena peristiwa 5 April 1950itu, terbang ke Jakarta. Dia hendak melaporkan diri danmempertanggungjawabkan apa yang dilakukan pasukannya. Begitu mendaratdi Bandara Kemayoran, Andi Azis langsung dibekuk dan kemudianditahan. Sementara Soumokil sendiri tiba di Ambon pada 13April 1950. Suasana di Ambon saat itu sudah cukup panas. Bekas KNIL,terutama dari pasukan khusus baret hijau dan baret merah KNIL, saatitu menjadi penguasa kota. Bersama pasukan itulah, Soumokil mengajakpara tokoh di Ambon untuk memproklamasikan RMS pada 25 April 1950. MenurutSyaramanual, seperti dicatat buku Soumokil dan Hantjurnja RMS (1964),“Proklamasi RMS itu benar-benar hasil tekanan dan paksaan bayonetbelaka.” Soumokil yang baru tiba di Ambon, meski dia otakpenting dari RMS dan Ambon, tak serta-merta langsung menjadipresiden. Semula ia menjadi Menteri Luar Negeri. Setelah 3 Mei,barulah dia menjadi Presiden RMS selama bertahun-tahun, baik saatmasih berada di Kota Ambon maupun saat bergerilya. Sampai akhirnya iatertangkap pada 2 Desember 1963. Dekatdengan Pihak Belanda Soumokil sebenarnya tidak lahirdi Ambon. Dia lahir di Surabaya pada 13 Oktober 1905. Ayahnya adalahpejabat rendah di Kantor Pos di Semarang. Soumokil beruntung bisamenikmati belajar sekolah elit Hogere Burger School (HBS) Kristen diSurabaya. Menurut De Telegraph (05/09/1964), setamat HBS Soumokilkemudian berangkat ke Belanda. Menurut Richard Chauvel, dalamNationalist, Soldiers and Separatist: Ambonese Island fromColonialism and Revolt 1880-1950, (1990), mulanya ia berusaha masukke fakultas kedokteran, namun mundur di tengah jalan. Tak lamakemudian ia masuk fakultas hukum hingga mendapatkan gelar doktor. Dialulus pada 1934 dan menjadi seorang ahli Yurisprudensi. MenurutRatno Lukito, dalam Hukum Sakral dan Hukum Sekuler: Studi tentangKonflik dan Resolusi dalam Sistem Hukum di Indonesia (2008), bersamaKusumaatmatmaja dan Soepomo, Soumokil tergolong orang-orang pertamayang belajar hukum di Universitas Leiden. Menurut De Telegraph(05/09/1964), ketika kuliah di Negeri Belanda, Soumokil pernah ikutserta dalam wajib militer Belanda. Dia ditempatkan dalam artilerimedan. Sebagai pengikut Kristus, Soumokil adalah pengikut GerejaReformis. Begitu pun kembali ke Hindia Belanda, tak sulit bagiSoumokil untuk meniti karier. Di Hindia Belanda dia kemudian menjadiseorang Jaksa. Status hukum dirinya dipersamakan denganorang-orang Belanda. Dia tidak dekat dengan orang-orang Ambonpergerakan macam Alexander Jacob Patty. Dia tak seperti JohannesLeimana yang ikut Kongres Pemuda II 28 Oktober 1928. Menurut RichardZakariaz Leirissa, dalam Pemberontakan Republik Maluku Selatan diPrisma (07/08/1978), ketika namanya dicalonkan menjadi anggota DewanRakyat (Volksraad) muncul penentangan dari orang-orang Ambon-Malukulainnya pada 1938.. Jelang masuknya Jepang, Soumokil tetapsetia kepada Ratu Belanda. Bersama orang-orang Belanda, Soumokil jugaditawan. Sebagai tawanan Jepang, dia dikirim ke Siam untuk ikut dalamkerja paksa membuat jalan kereta api di sana. Setelah Perang Pasifikselesai, barulah dia dibebaskan. Setelah ia bebas, yanghampir bersamaan dengan juga merdekanya Indonesia, posisikeberpihakannya tetap tak jauh dari Belanda. Menurut Syaramanual,“Soumokil terkenal sebagai reaksioner dan musuh gerakan nasional diSulawesi Selatan.” JalanTengah Federalisme Namun, menyebutnya semata pengkhianat tidaklah memberikan gambaranterhadap kompleksitas pasca-kemerdekaan. Memang ada orang-orang yangingin Belanda sepenuhnya kembali berkuasa. Namun jauh lebih banyaklagi yang menyadari zaman telah berubah dan kemerdekaan bangsa-bangsajajahan sudah tak terhindarkan. Termasuk orang-orang yang di masakolonial bekerja pada pemerintahan Hindia Belanda pun banyak yangmenyadari zaman telah berganti. Bagaimana kemerdekaan itudilaksanakan dan diisi, itulah pokok pertanyaan yang kerap melahirkanperdebatan panjang. Federalisme merupakan salah satu opsi yang banyakdibicarakan dan didiskusikan, bahkan sejak dalam sidang-sidang BPUPKIpada Mei-Juni 1945. Bung Hatta salah satu orang yang pernah menyebutbentuk negara federal dalam sidang BPUPKI. Federalismemendapatkan cap buruk karena, terutama, pernah dipakai oleh Belandapasca kemerdekaan untuk mempertahankan status quo. Sejak 1946, satuper satu bermunculan proklamasi kemerdekaan negara-negara dilingkungan Republik Indonesia. Salah satu pemicunya adalah KonferensiMalino yang berlangsung pada Juli 1946. Dari sanalah muncul NegaraBorneo dan Negara Indonesia Timur. Selanjutnya muncul, misalnya,Negara Pasundan, Negara Madura hingga Negara JawaTimur. Federalisme bahkan sempat menjadi resmi pascaKonferensi Meja Bundar pada Desember 1949. Dari akhir 1949 hingga1950, tepatnya Agustus 1950, berdiri Republik Indonesia Serikat(RIS). Republik Indonesia (RI) hanyalah satu dari sekian negarabagian di lingkungan RIS. Namun eksperimen yang dipicu perundinganKMB itu gagal prematur. Pada 17 Agustus 1950, RIS bubar dengansendirinya karena satu per satu negara-negara bagian itu memutuskanbergabung dengan RI.. Soumokil yang memang punya riwayatkedekatan dengan Belanda menganggap federalisme sebagai jalan tengahyang layak dicoba. Ditambah kecurigaan terhadap dominasi Jawa,federalisme memang memikat banyak kalangan. Soumokil bukansatu-satunya orang yang tertarik dengan gagasan federalisme. Lagipula, bukan hanya orang-orang yang pernah dekat dengan Belanda sajayang terbuka dengan federalisme. Bahkan Tan Malaka, yang seluruhhidupnya dikejar-kejar polisi kolonial, meyakini konsep FederasiAslia yang cakupannya merentang dari Asia Tenggara hinggaAustralia. Namun, eksperimen bersejarah itu memang harustertelan oleh realisme politik yang lebih berpihak pada gagasannegara kesatuan. Segala yang berbau kolonialisme, di negara-negarapasca-kolonial, dengan mudah diidentifikasi sebagai musuh.Identifikasi yang sampai batas tertentu, punya alasan psikis yangtidak bisa diremehkan: trauma kepada kolonialisme. Soumokilsendiri menjadi Menteri Kehakiman lalu Jaksa Agung di NegaraIndonesia Timur (NIT). Menurut A.H. Nasution, Sekitar PerangKemerdekaan Jilid 11: Periode Konferensi Meja Bundar (1977), ketikaberlangsung gencatan senjata antara Indonesia dengan Belanda,Soumokil pernah menjabat wakil perdana Menteri NIT juga. Soumokiltermasuk orang yang menolak kehadiran pasukan APRIS dari Jawa. Dalamstatusnya sebagai jaksa itulah ia terlibat dalam persidangan WolterMongisidi. Dia menuntut hukuman mati Wolter, dan dikabulkan. Wolterdieksekusi pada 5 September 1949. Ironisnya, Soumokil di kemudianhari juga tewas dalam eksekusi hukuman mati. Soumokil dieksekusi diPulau Obi, Halmahera Selatan, pada 12 April 1966. Bacajuga artikel terkait SEJARAHINDONESIA atau tulisan menariklainnya PetrikMatanasi (tirto.id- Indepth) Reporter:Petrik Matanasi Penulis:Petrik Matanasi Editor:Zen RS
