Sangar tapi tetap kocak. Antara lain kehadiran Jokowi yang seperti tamu 
undangan ke acara kondangan. Padahal sebagai orang yang berhak menghuni istana, 
presiden harusnya bertindak sebagai tuanrumah, muncul dari dalam istana 
sebagaimana semua presiden sebelumnya.
Soal dandanan pejabat. Pernah di sela acara 'Selasa-Kamisan' saya ngobrol 
sampingan dengan anggota pokja di teras rumah Bang Ali. Saat itu menjelang 
setengah abad RI, jadi saya pikir asyik juga kalau dijadikan momentum bagi 
anggota dewan (perwakilan Rakyat) untuk mulai mengenakan pakaian Rakyat 
nusantara yang sangat kaya model dan coraknya. Tidak harus sesuai pakem seperti 
karnaval pengantin adat begini tapi cukup dengan campursari pernak-pernik 
budaya lokal hasil kerajinan Rakyat. Obrolan pun berkembang ngalor-ngidul 
sampai seorang tokoh meledek Pak Hoegeng yang senyam-senyum mengikuti obrolan 
iseng. Beliau (Hoegeng) tidak bakal cocok jadi anggota DPR, kata si tokoh.. 
Sebab, isi lemarinya cuma baju-baju Hawaii, hahaha... Tidak masalah sebenarnya, 
toh kemeja tropis begitu adalah baju Rakyat juga, Rakyat Hawaii :) Yang penting 
kan bagaimana supaya anggota DPR betul-betul tampil sebagai cerminan Rakyat, 
perwakilan Rakyat. Nah, itu bisa dimulai dengan mencopot dulu jas lengkap mirip 
seragam mafioso itu :) dandanan penjahat itu :))
--- lusi_d@... wrote:   
Am Sat, 17 Aug 2019 07:48:50 +0200
schrieb Sunny ambon :

> https://www.youtube.com/watch?v=ZaI1FYq7Q3w

Wah kok serba sangar yah. Aroma upacaranya bauk feodal dan MC-nya kalau
ngomong kok seperti mau nangis. Itu komandan militernya kalau kasih
aba-aba mesti diakhiri kata aaaaa begitu panjang.
Kalau dandanan para penguasa atau penggedé negara itu saya rasa kok
aneh juga. Mereka itu emangnya menganggap dirinya sebagai sultan apa?.
Kok pakaiannya serba dibikin wah-wahan gitu. Apa masih cocok untuk
jamannya milenium ini tokh?


Kirim email ke