Berikut satu artikel yang menarik dari seorang alumni ITB yang berani
melawan rezim Suharto. Respek!
Apa dia juga tergabung dlm alumni ITB yg rutine berkumpul-kumpul
ber-reuni yang sering diberitakan itu?
Selamat membaca.


Jakarta, law-justice.co - Sosok ini memang rajin mengkritik berbagai
kebijakan pemerintah. Terutama aturan-aturan yang dianggapnya tidak
berpihak pada rakyat dan merugikan negara. Meski pun begitu, bukan
berarti pintu jabatan publik tertutup untuknya.

Sebaliknya sejak sejak masa Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur),
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Joko Widodo; Rizal Ramli terus
dipercaya untuk mengisi posisi strategis, baik sebagai menteri ekonomi,
kepala perusahaan umum mau pun komisaris BUMN. Baca juga : 2020
Indonesia Bisa Krisis Ekonomi karena 24% Perusahaan `Zombie`

Rizal mengaku sangat terkesan  sosok Gus Dur. Baginya, presiden yang
satu ini merupakan seorang yang pintar dan cerdas, namun tetap asyik
dan suka bercanda. Bagi Rizal, Gus Dur-lah yang membuka jalan bagi
dirinya untuk menjadi pejabat pemerintahan.

Upaya Gus Dur untuk menyeret ayah tiga anak ini ke dunia pemerintahan,
bukan perkara mudah. Setidaknya dua kali tawaran jabatan dari presiden
telah ditolaknya. Barulah saat permintaan ketiga, ia menerimanya. Baca
juga : Terseret Korupsi, Rizal Ramli: Jokowi Jangan Omdo, Pecat Enggar

“Suatu ketika Gus Dur menghubungi saya, kali ini kamu nggak boleh
nolak. Kamu satu-satunya orang Indonesia yang ditawarin jabatan tapi
nolakberkali-kali. Biasanya  orang sekali saja mau, saya pusing mikirin
kamu. Jadi apa Gus? Kamu jadi ketua Bulog. Sudah  coba dulu saja.
Jadilah saya  ketua Bulog, kita beresin Bulog yang tadinya rugi, kita
bikin untung lima triliun dalam waktu setahun,” ungkap Rizal, saat
menerima law-justice.co di rumahnya, di Kawasan Kemang.

Sejak saat itu, bisa dikatakan ia menjadi salah seorang kepercayaan
presiden. Ketika menjadi kepala Bulog, misalnya, Rizal pernah diminta
Gus Dur untuk juga membenahi IPTN yang terus merugi. Sempat berkilah
dengan berbagai alasan, mulai dari salah menghubungi orang dan apa
hubungan Bulog dengan IPTN, akhirnya ia luluh juga karena jawaban
jenaka yang dilontarkan Gus Dur. Baca juga : Katanya Sudah Kaya Mau
Mengabdi, Tapi Bisnisnya Menggurita

“Gus saya dulu suka kritik pak Habibie, saya senang industri peswatnya,
tapi Habibie itu selalu serba mahal dan dia nggak  bisa jual. Jadi saya
malas benerin itu. Tapi kata Gus Dur, lha ngapain dong waktu kamu muda
suka ngritikdia. Jadi kamu kena karma sekarang  , kamu harus beresin.
Tapi apa kata orang kalau Ketua Bulog cawe-caweberesin IPTN. Gus Dur
malahngomong, kamu gitu  saja repot. Kasih saja nomor telepon saya,
kalau ada yang nanya-nanya suruh telepon langsung,” kisah Rizal .

Seperti Bulog, IPTN yang sebelumnya merugi berhasil dibawa Rizal meraih
keuntungan hingga 16 milyar rupiah. Keberhasilan itu membuka dirinya
untuk menduduki posisi lebih strategis sebagai menteri koordinator
bidang ekonomi, keuangan dan industri (23 Agustus 2000- 12 Juni 2001).
Ia kemudian menjadi menteri keuangan 12 Juni 2001 – 9 Agustus 2001
hingga sang presiden lengser karena dimakzulkan oleh parlemen.


Dua Perempuan yang Berpengaruh

Ketika masih kecil, Rizal tak pernah bermimpi menjadi menteri.
Pasalnya, ketika bermukim di Padang,  ia telah menjadi yatim piatu
sejak umur empat tahun. Berasal dari keluarga sederhana, hampir tak ada
harta yang ditinggalkan. Satu-satunya warisan berharga yang diturunkan
kepada dirinya dari sang ibu adalah kemampuan membaca.

“Saya dari umur tiga sudah bisa membaca karena ibu saya guru didikan
Belanda. Dia warisin sesuatu yang paling berharga buat saya, yaitu
membaca. Jadi  umur tiga tahun saya sudah bisa baca dan itu warisan
yang paling  berharga, karena kita duit nggak punya, tidak ada biaya.
Modal kita  ya baca,” kata Rizal.

Setelah kedua orangtuanya mangkat, Rizal hijrah ke Bogor mengikuti sang
nenek pada awal 1960-an dan membantunya  berjualan ayam negeri.
Meskipun neneknya buta huruf, ia memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.
Rizal kerap diminta membacakan koran setiap pagi atau menonton
televisi. Di mata Rizal, sang nenek adalah sosok yang berwibawa,  meski
pun sedikit berbicara. 


Yatim piatu sejak umur tiga tahun (law-justice.co/Teguh Vicky Andrew)

Selama tinggal di Kota Hujan, Rizal terus melanjutkan kebiasannya untuk
membaca. Mulanya, segala macam bacaan berbahasa Indonesia dilahap
meskipun tak cukup memuaskan hasratnya karena jumlah buku yang tersedia
sangat terbatas. Akhirnya ketika masih SMA, ia mengatakan kepada Kepala
Perpustakaan Bogor bahwa dirinya akan mencarikan buku-buku baru. Untuk
kepentingan itu, ia kemudian menulis surat ke luar negeri. Tak
disangka, akhirnya datang kiriman buku dari penjuru dunia. 

Keterbatasan buku bacaan dalam bahasa Indonesia menjadi awal Rizal
untuk belajar bahasa Inggris. Sejak SD ia mulai mendalami bahasa asing
itu secara otodidak, dengan menghafal 10 kata per hari. Ketika
menginjak SMP ia telah bisa membaca dalam bahasa Inggris. Ketika SMA,
ia sudah bisa memahami percakapan dalam bahasa internasional itu karena
kerap mendengar siaran radio BBC.

Selain membaca, sejak bangku sekolah dasar, Rizal juga belajar olahraga
bela diri karena suka berkelahi. Ketika menginjak SMP, ia selalu bangun
sekitar pukul lima pagi, hanya untuk mengelilingi Kebun Raya hingga
enam tiga puluh putaran. Setelah itu, baru bergegas mandi dan pergi ke
sekolah.

Meskipun bergelut dengan banyak buku, Rizal kecil bukan sosok yang
serius. Ia sama, seperti bocah-bocah lainnya yang terkadang menjahili
guru. Suatu ketika, saat sedang gemar membaca cerita silat, pria asal
Sumatera Barat ini  sengaja memiliki duduk di belakang. Mulanya ia
seolah-olah memperhatikan pelajaran, bahkan melemparkan pertanyaan
kepada guru. Namun setelah itu, ia sibuk membaca buku silat hingga jam
pelajaran usai.

Ketika SMA, Rizal juga sering memberikan jawaban ujian Matematika
kepada teman-temannya. Hal ini dilakukannya karena ia ingin mencari
cara lain untuk menyelesaikan soal yang sama. Lama-lama, dirinya
terbiasa untuk mencari solusi, karena setiap jawaban harus memiliki
variasi agar guru tidak tahu bahwa jawaban itu berasal dari sumber yang
sama.


Calon Fisikawan yang Jadi Ekonom Handal

Dari sekian banyak buku yang dilahapnya, Rizal terpukau pada beberapa
yang bertema sains, termasuk Fisika. Kegemaran pada bidang yang satu
ini muncul karena sosok ahli Fisika terkemuka, Albert Einstein.
Berawal dari sebuah buku kecil, ia kemudian mengoleksi beberapa buku
lain, juga berbagai poster sang ilmuan yang ditempel di dinding
kamarnya. Bila anak lain mengidolai para musisi, maka Rizal menggilai
Einstein sampai sekarang.

“Saya punya koleksi buku Einstein paling banyak di Indonesia. Karena
kalau saya ulang tahun, teman-teman di luar negeri kirim buku Einstein
terbaru, dikasihin ke saya. Dan beberapa itu, ini ya, re-collection,
contohnya, ini tulisan tangan Einstein, hanya dicetak seribu di seluruh
dunia, ini original writing”, kata Rizal. 

Baginya, Einstein merupakan Fisikawan terbaik hingga saat ini karena
Teori Relativitas-nya belum terbantahkan. Selain itu, ia juga merupakan
sosok yang jenius karena pada satu sisi bisa menjelaskan hal yang
sangat kompleks secara sederhana, namun bisa menjelaskan sesuatu yang
simple melalui operasi hitung matematika yang rumit.

Sejak saat itulah, Rizal berhasrat untuk mendalami Fisika, seperti sang
idola. Ketika menginjak SMA, ia tak lagi meminati bidang yang lain dan
menetapkan pilihan untuk masuk di Jurusan Fisika Institut Teknologi
Bandung (ITB). Untuk itu, Rizal  harus meninggalkan sang nenek dan
membuang kesempatan pembiayaan pendidikan dari pamannya yang berharap
Rizal masuk IPB, serta membiayai pendidikan tingginya secara mandiri.

Oleh sebab itu, ketika diterima di ITB, Rizal tak langsung kuliah
karena tidak memiliki biaya. Praktis, pada semester pertama, ia
terpaksa bekerja sebagai pengawas percetakan di kawasan Kebayoran,
Jakarta Selatan. Penghasilannya kemudian ditabung untuk biaya kuliah
dan hidup di Bandung. Ia kemudian baru masuk pada semester kedua. Namun
uang yang dikumpulkannya itu hanya cukup untuk enam bulan.

Meskipun banyak temannya yang membantu, Rizal malu dan tak mau
bergantung pada orang lain. Ia memutar otak dan menyadari kemampuan
bahasa Inggris yang dimilikinya kini dapat dimanfaatkan. Untuk itu,
bersama beberapa teman ia kemudian membuka jasa penerjemahan. Dalam
waktu singkat bisnis ini pun berkembang hingga mampu merekrut staf
pengetikan. Sejak saat itu, semua kebutuhannya bisa tercukupi.

“Mula-mula butuh 2-3 jam untuk ngerjain satu halaman. Kan bukan
letterleg, lama-lama kita cuma butuh waktu  10-15 menit, akhirnya kita
cari mahasiswa ITB juga, susah juga  kan, dia bagian tukang ketik. Dulu
kita sendiri yang ngerjain, lama-lama…punya anak buah. Kita mulai hari
Jumat jam  lima sore, sampai Sabtu sekitar jam enam, cukup buat hidup
seminggu, bisa pacaran, nonton, bisa jadi aktivis,” ujarnya.

Selain itu, untuk menambah penghasilan Rizal juga pernah menjadi guru
untuk murid-murid asing. Ketika itu memang belum ada sekolah
internasional di Bandung. Bersama kawan-kawannya, ia mendapatkan
bahan-bahan pelajaran dari University of Nebraska setiap bulan. Materi
inilah  yang diajarkan kepada anak-anak setingkat SMP dan SMA itu.
Hasilnya tak mengecewakan, kocek pun kian tebal meskipun tak pernah
cukup untuk memenuhi kebutuhan.

Sejak mahasiswa, Rizal Ramli dikenal sebagai aktivitis pergerakan.
Namun persuaan dengan dunia ini bukan sebuah kesengajaan. Suatu ketika,
ia mendapat hadiah lomba menulis berupa pertukaran pelajar di Asian
Studies, Sofia Daigaku di Tokyo selama dua bulan. Selain kuliah, para
peserta juga mengikuti tur keliling Jepang. Pada saat itulah, ia
tersadar dan mulai bertanya  mengapa Jepang yang sempit, bertanah batu
karang, dan miskin bahan mentah bisa mensejahterakan rakyatnya,
sementara Indonesia tidak.               

“Nah pulang, saya ajak teman, almarhum. Adi, mahasiswa tambang, untuk
kunjungin daerah-daerah miskin di utara pulau Jawa sampai Bali sama
Lombok.  Pas di Tegal, kita diajak sama seorang Bapak buat nangkap
ikan. Dia punya anak, namanya Sugriwa yang seharusnya sudah SMP tapi
tidak sekolah. Sepanjang malam, tangkapan yang didapat hanya 2 ember
kecil, itu pun hanya rajungan yang bekas-bekas dan ukurannya kecil,”
kata Rizal

Pulang dari sana, keduanya menyimpulkan kemiskinan membuat banyak anak
di Indonesia tidak bisa bersekolah. Berdasarkan data yang ada pada saat
itu, setidaknya terdapat delapan juta anak usia SD yang tak mampu
mengenyam pendidikan. Oleh karena itu, bagi Rizal dan kawan-kawannya
sudah saatnya Indonesia memiliki regulasi khusus yang mengatur wajib
belajar enam tahun.

Untuk itu, sejumlah aksi pun dilakukan. Selain mempresentasikan
makalah, bersama teman-temannya ia pun melakukan demonstrasi menjelang
Pemilu 1977. Selain itu, didekati pula dua seniman terkemuka Rendra dan
Sjumanjaya. Belakangan nama yang terakhir in membuat film bertajuk Yang
Muda Yang Bercinta yang mengontraskan kehidupan mahasiswa dan delapan
juta anak yang tak bisa bersekolah ini. Akhinya pada 1984, pemerintah
pun mengesahkan program Wajib Belajar 6 Tahun untuk pertama kali.

Selain itu, sebagai aktivis, Rizal  juga berani melawan Soeharto,
meskipun sang diktator baru saja menghabisi gerakan mahasiswa
pasca-Peristiwa Malari 1974. Menurutnya saat itu  sangat penting untuk
mematahkan asumsi bahwa mahasiswa tak lebih dari pion-pion  dalam
persaingan elit militer antara Ali Moertopo dan Sumitro. Oleh sebab
itu, sejak awal, Rizal dan kawan-kawan epakat untuk tidak bersentuhan
dengan elit karena ingin memperlihatkan bahwa gerakan ini murni dari
mahasiswa.

Berani melawan Soeharto (law-justice.co/Teguh Vicky Andrew)

Ketika itu Rizal  dan keempat rekannya juga diminta untuk menulis Buku
Putih Perjuangan Mahasiswa. Ia telah memperingatkan kawan-kawannya
bahwa kitab ini berisiko mengantarkan mereka ke hotel prodeo selama 2
tahun. Namun karena tak ada yang gentar, makanya semua bahan-bahan buku
itu dibakar dan hanya tinggal naskah buku itu belaka. Pada 16 Januari,
buku itu pun diumumkan di lapangan basket ITB. Sang rektor yang tak
tahu-menahu, pun datang menghadiri acara itu.

Penerbitan buku itu sontak membuat Soeharto marah besar. Pasalnya,
menurut Rizal, buku itu berisi kritik tentang pola pembangunan Orde
Batu dan maraknya praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme. Segera
setelah diterbitkan, buku itu pun langsung dilarang oleh Jaksa Agung.
Soeharto bahkan menutup semua media massa yang pada saat itu sehingga
tak terbit untuk beberapa saat.

Namun alih-alih terisolir, buku ini malah semakin populer. Pasalnya
Buku Putih Perjuangan Mahasiswaditerjemahkan oleh seorang Indonesianis
yang juga Profesor di Universitas Cornell, Ben Anderon. Belakangan,
selain bahasa Inggris, buku ini juga diterjemahkan ke-8 bahasa lainnya
sehingga dapat diakses oleh pembaca yang lebih luas.

Bagi ITB, imbas terhadap penerbitan buku itu adalah pendudukan kampus
itu oleh tentara. Selain itu, seluruh penulisnya pun ditangkap. Namun
Rizal Ramli termasuk yang paling terakhir dipenjara. Alasannya, saat
itu ia sedang memenuhi undangan ke AS selama tiga bulan bersama
pemimpin mahasiswa Asia. Sadar akak ditahan bila pulang ke tanah air
tepat waktu, ia singgah dahulu di Hawaii selama seminggu baru pulang ke
Indonesia  dengan visa on the go sehingga tidak terdeteksi.

“Ternyata di Halim nggak ada siapa-siapa. Akhirnya, saya ke Bogor
ketemu nenek saya. Dia sudah nangis-nangis ketakutan, sampai
mimpi-mimpi cucunya ditangkap. Habis itu, saya ke Bandung, pacaran dulu
sama Hera berapa hari, habis  itu saya datang ke rektor-nya. Baru
rektornya ngantarinsaya ke penjara”, kata Rizal.

Seperti ke-4 rekannya yang lain, Rizal pun dihadapkan ke pengadilan.
Meskipun dibela oleh para pengacara handal, termasuk Adnan Buyung
Nasution, ia tak bisa dibebaskan dari pasal Haatzai Artikelen,
penghinaan kepada presiden.  Ia pun harus meringkuk di penjara selama
dua tahun di usia yang masih sangat muda, 22 tahun dan dikeluarkan dari
ITB.

Ketika di dalam penjara inilah minat Rizal beralih dari Fisika ke
Ekonomi. Sebenarnya peralihan ini berawal kesalahkaprahan dirinya
terhadap Ilmu Ekonomi. Ketika dipenjara di Sukamiskin memang kerap
mendapat kiriman buku dari berbagai pihak, termasuk seorang suster
Katolik yang sudah dianggap Rizal sebagai ibu kandungnya.  Saat itu, ia
menganggap buku-buku Politik-Ekonomi yang diterimanya adalah buku
ekonomi murni. Baru belakangan kesalahan itu ia sadari.

Ketika telah keluar dari penjara, Rizal memutuskan untuk bersekolah di
luar negeri. Ia memilih Jurusan Ekonomi di Boston University, AS.
Ketika itu, ia diterima sebagai mahasiswa percobaan. Artinya pada
semester 1 merupakan program sarjana. Bila nulainya bagus, baru bisa
masuk  sekolah pascasarjana. Jalan semacam ini tak hanya dilalui
dirinya, tetapi juga inteketual seperti Arief Budiman  dan Nono Makarim.

Namun setelah di AS, pandangannya terhadap Ilmu Ekonomi kian benderang.
Ia tidak hanya bisa membedakan Politik-Ekonomi dan Ilmu Ekonomi murni,
tetapi mulai menyadari bahwa bidang yang didalaminya sekarang  itu
berisi Matematika belaka, sebuah ilmu dasar yang harus dikuasai dengan
baik oleh para mahasiswa Fisika di ITB. Hal inilah membuat dirinya
mudah beradaptasi.

Kita belajar matematika ekonomi semester pertama, saya istilahnya ini
kagak ngarti, maksudnya istilah ekonomi, tapi ada masalah apa
matematika itu bisa pecahkan, makanya saya dapat nilai tertinggi dari
sekitar 40 mahasiswa bule, di sini kita paling bagus sampai dosennya
bingung, kamu kok bisa begini. Kita nggak ngerti istilahnya tapi kita
bisa. Akhirnya setelah 6 bulan kita diterima sebagai mahasiswa  untuk
master”, kata Rizal.

Dua tahun berselang, Rizal pun lulus dari Boston University.
Sebenarnya, ia ditawari beasiswa doktor di universitas yang sama. Namun
ia menolak karena tak punya pengalaman di bidang Ekonomi, meskipun
telah merengkuh gelar S2 dan memilih pulang ke Indonesia. Sempat
menjadi pemimpin redaksi di Jurnal Prisma, ia bekerjasama dengan tim
dari Harvard University yang ketika itu menjadi penasehat pemerintah.

Belakangan ia berhasil menyelesaikan pendidikan doktornya di Boston
University.  Ia sempat mendirikan perkumpulan ekonom ternama, ECONIT
Advisort Group bersama Laksamana Sukardi, Arif Arryman, dan M.S.
Zulkarnae dan mengajar di Program Pasca-Sarjana Manajemen Universitas
Indonesia.  Baru, setelah Orde Baru runtuh, ia masuk  ke dunia
pemerintahan.


Belajar dari Einstein

Sebagai manusia yang memiliki banyak dimensi, menurut Rizal, Albert
Einstein memiliki kemampuan otak kiri dan kanan yang seimbang. Ia tak
hanya mahir Matematika, tetapi juga menyukai musik dan seni.  Rizal
sendiri mengaku pada awalnya otak kanannya yang rasional sangat
dominan. Namun setelah bergaul dengan mendiang istrinya yang arsitek,
senang main piano dan melukis, kini otak kiri dan kanannya pun seimbang.

Itulah sebabnya sejak masih mahasiswa Rizal telah menggemari musik. Ia
sebenarnya  lebih senang Jazz, meskipun pernah menjadi Ketua Asosiasi
Musik Klasik dan Jazz. Alasannya aliran musik yang satu ini lebih
dinamis, penuh improvisasi, dan hidup. Tapi ketika mulai menua,
mendengarkan musik Klasik lebih berfaedah karena dapat melakukannya
sambil melakoni pekerjaan lain.

Kini, kegemarannya pada musik coba diturunkan pada cucu perempuannya.
Sejauh ini tampaknya usaha itu cukup berhasil. Salah satu cucu dari
anak pertamanya yang masih  berumur enam tahun kini telah bisa
membawakan  The Phantom of the Opera dan The Greatest Showman dari awal
hingga akhir yang terbilang sulit untuk anak seusianya.

Sementara, untuk cucu laki-lakinya, ia mendorongnya untuk bermain
catur. Salah seorang cucunya yang masih berusia 4,5 tahun sudah bisa
berpikir hingga tiga langkah ke depan, hampir mendekati orang dewasa
yang sudah bisa memperkirakan tiga langkah ke depan.

Bagi Rizal, catur serupa dengan matematika, sama-sama berupaya
mendisiplinkan pikiran dan menyelesaikan masalah melalui beragam solusi
yang kadang tak terduga.

(Teguh Vicky Andrew\Reko Alum)








Kirim email ke