http://www.sinarharapan.co/opinidaneditorial/read/7193/banyak_catatan_setelah_74_tahun_merdeka


Banyak Catatan Setelah 74 Tahun MerdekaKamis , 15 Agustus 2019 | 19:15


 Banyak sudah pencapaian kita sebagai bangsa  setelah merdeka 74 thun lalu.
Namun demikian, sangat banyak persoalan besar yang masih harus ditangani
dan dicarikan solusinya agar seluruh bangsa mampu menikmati arti
kemerdekaan dengan sepenuhnya.

Menyambut perayaan kemerdekaan RI ke-74, kita perlu merenung dan melakukan
introspeksi. Apakah langkah yang ditempuh selama ini sesuai dan sepadan
dengan jerih payah para *founding fathers* yang mengorbankan jiwa raga
mereka demi kemerdekaan ini?

Secara fisik pencapaian kita selama 74 tahun sudah sangat jauh. Indonesia
jauh lebih maju dibandingkan masa-masa sebelum kemerdekaan. Kita bukan lagi
negara miskin yang selalu kekurangan pangan dan terlanda wabah penyakit.
Kita telah mampu membebaskan sebagian besar rakyat dari kemiskinan,
kebodohan dan keterbelakangan, meski masih banyak pula yang masih
tertinggal dan membutuhkan perhatian.

Indonesia juga dihormati dalam pergaulan dunia, bahkan beberapa kali
menempatkan diri sebagai pemimpin diantara bangsa-bangsa yang lain. Kita
pernah mendirikan dan memimpin Gerakan Non Blok, menyelenggarakan
Konferensi Asia-Afrika, mendirikan dan memimpin ASEAN, juga banyak forum
internasional lainnya.

Saat ini Indonesia juga dihormati sebagai negara berkembang dengan populasi
muslim terbesar di dunia yang berkomitmen menjalankan prinsip-prinsip
demokrasi. Kita mampu menyelenggarakan pemilu serentak dengan lancar tanpa
kekacauan yang berarti. Bahkan pemilihan langsung telah diselenggarakan
untuk memilih pemimpin di tingkat provinsi dan kabupaten/kota secara
demokratis.

Dengan demikian, dilihat dari aspek politik, sudah banyak sekali kemajuan
yang kita capai setelah kemerdekaan tahun 1945. Bangsa Indonesia telah
menunjukkan kepada dunia mampu mengatur diri sendiri, bahkan menunjukkan
prestasi yang membanggakan di kancah pergaulan internasional.

Namun demikian ada beberapa catatan yang harus menjadi perhatian ke depan
agar perjalanan kita sebagai bangsa dan Negara bisa lebih kuat dan mampu
melaju lebih kencang lagi.

*Pertama,* kemiskinan masih menjadi problem besar dan ketimpangan
pendapatan sangat tinggi. Jumlah penduduk miskin yang oleh pemerintah
diklaim tinggal 9,7% adalah hasil dari pengukuran yang kurang berbobot.
Ukuran yang dipakai masih terlalu rendah, yaitu pengeluaran sekitar Rp
10.000 per hari. Padahal ukuran Bank Dunia untuk Negara-negara berkembang
adalah US$2 per hari atau sekitar Rp 28.500. Kalau kita jujur menggunakan
ukuran Bank Dunia, jumlah penduduk miskin bisa 20% lebih.

*Kedua**, *Kebocoran anggaran sangat tinggi sehingga efisiensi rendah. Hal
ini bisa dilihat dari ICOR *(incremental capital-output ratio*) Indonesia
yang tinggi, yaitu di atas 6. Padahal, rata-rata ICOR di Negara-negara Asia
Tenggara hanya berkisar 3-4. Mengenai tingginya kebocoran anggaran terlihat
dari banyaknya pejabat pemerintah, juga pejabat Negara, yang terjerat
sanksi hukum karena melakukan korupsi.

*Ketiga,* mutu SDM masih rendah. Menteri Keuangan Sri Mulyani menyoroti hal
ini karena besar pengaruhnya terhadap percepatan pertumbuhan ekonomi.
Pertumbuhan Indonesia, katanya, sulit terpacu tinggi lantaran produktivitas
sumber daya manusia (SDM)  masih rendah. “Sudah hampir 10 tahun kita
berkomitmen menganggarkan 20% APBN untuk pendidikan tapi hasilnya belum
juga maksimal. Ini terlihat dari skor Program for International Student
Assessment (PISA) yang belum setinggi negara-negara lain,” kata Sri
Mulyani, Jumat (9/8).

*Keempat,* kepastian hukum belum baik. Penegakan hukum masih sering
dikritik sebagai “tajam ke bawah dan tumpul keatas”. Ini bisa dilihat
dalam berbagai kasus yang memperlihatkan penegakan hukum belum sepenuhnya
dijalankan pemerintah sesuai prinsip “semua warga Negara sama di depan
hukum”. Rendahnya mutu penegakan hukum tersebut mempengaruhi kepastian
hukum, yang berdampak luas.

*Kelima**,* konflik ideologis. Hingga saat ini, setelah 74 tahun RI
merdeka, benturan ideologi masih terus berlangsung. Seharusnya masalah ini
sudah selesai sehingga kita bisa bersama-sama dan bahu membahu membangun
bangsa demi kemajuan seluruh rakyat Indonesia.

Masalah-masalah tersebut sangat penting untuk memperoleh perhatian serius.
Bukan hanya oleh pemerintah, melainkan seluruh komponen bangsa. Bila
para *founding
fathers* mencita-citakan kemakmuran dan kesejahteraan seluruh rakyat,
hingga kini belumlah tercapai. Bila kita tidak ingin mengkhianati
perjuangan mereka, maka menjadi tanggungjawab kita agar masalah-masalah
tersebut tidak diabaikan, apalagi dikesampingkan.

Maka, kita perlu merenung dan mengevaluasi diri dalam merayakan kemerdekaan
RI ke-74 ini. Ternyata banyak masalah yang masih harus dihadapi dan
diselesaikan agar kita sebagai bangsa mampu menatap ke depan dengan kepala
tegak untuk memenangkan persaingan dengan bangsa-bangsa lain.


Sumber Berita:Berbagai sumber

Kirim email ke